Kamis, 09 Oktober 2025

Cerpen Tangisan dan Senyuman di Rambu Solo’

 


Tangisan dan Senyuman di Rambu Solo’

Penulis: Risti Windri Pabendan

Udara pagi di lembah Toraja begitu sejuk, namun suasana di dusun itu terasa berat. Asap tipis dari dapur-dapur kayu mengepul, bercampur dengan aroma tanah basah selepas hujan semalam. Di halaman tongkonan yang luas, orang-orang sudah mulai berdatangan dengan pakaian adat lengkap. Laki-laki mengenakan baju hitam sederhana, perempuan memakai sarung berwarna merah dan kuning yang menyala. Semua mata tertuju pada sebuah rumah besar, di mana jenazah seorang tetua kampung yang dihormati, Pong Lemba, masih disemayamkan.

Rambu Solo’, upacara kematian yang paling sakral bagi orang Toraja, akan segera dilaksanakan. Bagi sebagian orang luar, mungkin terdengar aneh: bagaimana mungkin sebuah kematian dirayakan dengan pesta besar, musik, tarian, bahkan penyembelihan kerbau? Namun bagi masyarakat Toraja, kematian bukanlah akhir, melainkan sebuah perjalanan menuju kehidupan baru bersama leluhur di alam puya. Dan perjalanan itu harus dihantar dengan layak, penuh hormat, dan meriah.

Di antara kerumunan orang, berdiri seorang pemuda bernama Rano. Usianya baru dua puluh tahun, namun wajahnya terlihat lebih dewasa dari umurnya. Ia adalah cucu Pong Lemba, dan meski hatinya dipenuhi kesedihan, ia tahu bahwa hari ini ia harus kuat. Sebagai keluarga, ia harus ikut menyambut tamu, membantu persiapan, dan ikut serta dalam setiap prosesi.

“Rano, bantu pamanmu di lumbung,” seru ibunya dari kejauhan. “Kita harus pastikan semua tamu yang datang dapat makan.”

Rano mengangguk, lalu melangkah ke arah lumbung padi. Di sana, ia melihat para lelaki sibuk menyiapkan babi dan kerbau yang akan disembelih. Beberapa kerbau sudah diikat di halaman besar yang disebut rante, tempat utama upacara nanti. Di antara kerbau-kerbau itu, seekor tedong berwarna hitam legam tampak menonjol, kepalanya tegak, matanya tajam, seakan tahu dirinya akan menjadi persembahan paling berharga.

“Lihat itu, Rano,” kata pamannya sambil tersenyum getir. “Kerbau itu bisa membeli satu rumah di Makale. Tapi untuk menghormati kakekmu, tak ada harga yang terlalu tinggi.”

Rano hanya mengangguk. Dalam hatinya, ia merasa campur aduk. Ia bangga karena kakeknya dihormati sedemikian rupa, namun ia juga sadar bahwa di balik pesta ini ada pengorbanan besar. Tidak semua keluarga bisa mengadakan Rambu Solo’ semewah ini. Banyak orang harus berhutang atau mengorbankan harta benda demi mengadakan upacara yang layak bagi leluhur mereka.

Seiring matahari naik, tamu-tamu semakin banyak berdatangan. Dari desa-desa lain, bahkan ada yang datang dari luar Toraja. Suara gendang dan seruling mulai terdengar, mengiringi nyanyian khas yang melantunkan pujian kepada arwah Pong Lemba. Di sisi lain, kelompok perempuan menari dengan gerakan anggun, tangan mereka bergerak pelan, melambangkan perpisahan yang penuh hormat.

Rano berdiri di tepi rante, menyaksikan semuanya. Ia melihat wajah-wajah yang berduka, mata yang sembab karena tangisan. Namun ia juga melihat tawa, obrolan hangat, dan senyum yang tak kalah tulus. Rambu Solo’ memang selalu seperti itu: tangisan dan senyuman berpadu menjadi satu, menghadirkan suasana yang tak bisa ditemukan di tempat lain.

Di tengah keramaian, seorang gadis menghampiri Rano. Namanya Lita, sepupu jauhnya yang baru kembali dari rantau. Rambutnya dikuncir sederhana, wajahnya dihiasi senyum tipis meski matanya masih merah karena menangis semalam.

“Kau sibuk sekali, Rano,” katanya sambil menyerahkan segelas air. “Minumlah, kau pasti lelah.”

Rano menerima gelas itu dan meneguk air dingin dengan cepat. “Terima kasih, Lita. Aku hanya… mencoba membantu sebisaku.”

Lita menatap kerbau-kerbau di rante. “Kau tahu? Saat kecil aku sering dengar cerita dari kakek, bahwa kerbau adalah kendaraan menuju alam puya. Jadi setiap kali melihat kerbau dipersembahkan, aku membayangkan mereka akan membawa arwah leluhur terbang ke langit.”

Rano tersenyum samar. “Aku juga sering mendengarnya. Tapi kali ini rasanya berbeda. Itu kakek kita sendiri. Sulit membayangkan ia benar-benar pergi.”

Lita menghela napas panjang. “Ya. Tapi bukankah itu justru alasan kita harus merayakan perjalanannya dengan meriah? Agar ia tidak merasa sendirian.”

Hari terus berjalan. Musik semakin riuh, tawa dan tangisan bercampur jadi satu. Anak-anak berlari di antara kerumunan, tertawa riang, seakan tidak peduli bahwa yang sedang berlangsung adalah sebuah upacara kematian. Sementara itu, orang-orang dewasa sibuk menyambut tamu, membagikan makanan, dan memastikan semua berjalan sesuai adat.

Ketika malam tiba, lampu-lampu minyak dinyalakan di sekeliling rante. Suasana menjadi magis. Di tengah cahaya temaram, jenazah Pong Lemba yang sudah dibaringkan dalam peti indah diangkat oleh para lelaki. Dengan nyanyian khas dan irama gendang, peti itu dibawa berkeliling halaman, diiringi tangisan dan sorakan. Semua orang ikut berjalan, seakan ingin mengantar arwah sang tetua sampai ke pintu terakhir.

Rano berjalan di samping peti itu, hatinya terasa berat. Ingatan tentang kakeknya membanjiri pikirannya: bagaimana ia dulu sering digendong di pundaknya, bagaimana ia diajari memahat kayu, bagaimana suara tawanya memenuhi tongkonan setiap kali keluarga berkumpul. Semua kenangan itu kini tinggal bayangan, dan satu-satunya yang tersisa adalah doa agar kakeknya sampai dengan selamat di alam puya.

Ketika prosesi selesai, orang-orang kembali duduk di sekitar tongkonan. Beberapa mulai bercerita, mengingat kenangan bersama Pong Lemba. Ada yang mengenangnya sebagai petani gigih, ada yang mengenangnya sebagai pemimpin bijak. Dan di antara cerita-cerita itu, Rano menyadari sesuatu: meski tubuh kakeknya sudah tiada, semangatnya masih hidup dalam hati setiap orang.

Malam semakin larut. Rano duduk di tangga tongkonan, menatap bintang-bintang yang berkilauan di langit. Di sampingnya, Lita ikut duduk, diam-diam menatap wajahnya.

“Apa kau tahu, Rano?” bisiknya pelan. “Kakek sering bilang, dalam Rambu Solo’ selalu ada dua wajah: tangisan dan senyuman. Karena hanya dengan keduanya, kita bisa benar-benar melepaskan. Jika hanya tangisan, kita akan terikat oleh kesedihan. Jika hanya senyuman, kita lupa bahwa kehilangan itu nyata. Jadi keduanya harus ada, seperti siang dan malam.”

Rano terdiam lama, lalu menoleh pada Lita. Senyum tipis muncul di wajahnya, meski matanya masih basah. “Aku rasa kakek benar. Malam ini aku menangis, tapi juga tersenyum. Mungkin itu cara terbaik untuk mengucapkan selamat jalan.”

Lita mengangguk, lalu menatap langit bersama Rano. Dan di tengah keheningan malam, suara musik dan nyanyian dari rante masih terdengar samar, mengiringi arwah Pong Lemba menuju perjalanan abadi.

Pagi berikutnya, sinar matahari menembus sela-sela pepohonan pinus di bukit Toraja. Suasana di rante kembali ramai. Orang-orang dari desa jauh berdatangan, membawa persembahan berupa babi, ayam, bahkan ada yang membawa kain tenun indah. Semua diserahkan dengan penuh hormat, karena dalam Rambu Solo’ setiap persembahan adalah tanda kasih kepada keluarga yang berduka sekaligus penghormatan bagi arwah yang berpulang.

Rano sudah bangun sejak fajar. Ia ikut bersama pamannya mengatur persembahan yang datang. Setiap nama dicatat, setiap hewan ditandai. Itu penting, karena dalam adat Toraja, semua pemberian akan tercatat sebagai bagian dari hubungan timbal balik. Suatu hari nanti, ketika keluarga pemberi mengadakan upacara, giliran keluarganya yang harus membalas dengan persembahan setara. Begitulah roda kehidupan sosial berjalan, mengikat setiap keluarga dalam jalinan kebersamaan.

Namun di balik kesibukan itu, hati Rano diliputi kegelisahan. Semalam ia mendengar bisik-bisik dari beberapa tamu yang merasa heran melihat betapa megahnya Rambu Solo’ yang diadakan keluarganya. Ada yang berkomentar dengan kagum, tetapi ada pula yang berbisik sinis: dari mana keluarga Pong Lemba mendapatkan semua kerbau dan babi ini? Apakah mereka berhutang? Apakah mereka mampu membalas semua nanti?

Rano tahu, keluarga mereka memang mengorbankan banyak hal. Sebagian tanah sawah bahkan digadai demi membeli kerbau-kerbau itu. Ibunya tidak pernah bercerita langsung kepadanya, tapi Rano melihat sendiri malam-malam ketika ibunya menangis diam-diam, khawatir tentang masa depan setelah upacara selesai.

Di tengah pikirannya yang kusut, tiba-tiba Lita datang membawa sekeranjang makanan. “Rano, makan dulu. Kau belum menyentuh apa pun sejak pagi.”

Rano menggeleng. “Aku tidak lapar.”

“Jangan begitu,” desak Lita. “Kau butuh tenaga. Upacara ini masih panjang. Kakek tidak akan suka kalau melihat cucunya sakit karena lupa makan.”

Akhirnya Rano menerima sepotong ketupat dan sedikit daging. Mereka duduk di bawah pohon, mengamati hiruk-pikuk di rante. Beberapa lelaki mulai berlatih mengangkat peti jenazah dengan gerakan tertentu. Kelompok penari bersiap, suara gendang kembali bergema.

“Lita,” kata Rano pelan, “apa kau pernah merasa… berat? Maksudku, beban semua ini. Kita harus membuat upacara semewah mungkin, tapi kadang aku bertanya, apakah kakek benar-benar butuh semua ini? Atau ini hanya karena kita takut dianggap kurang menghormati?”

Lita menatapnya dalam-dalam. “Aku juga pernah berpikir begitu. Tapi coba lihat sekelilingmu, Rano. Semua orang datang, semua orang bersatu. Mereka tidak hanya menangisi kakek, tapi juga mengenang hidupnya. Bukankah itu juga penting? Bukankah itu cara kita memastikan namanya tidak hilang begitu saja?”

Rano terdiam. Kata-kata Lita masuk ke dalam hatinya, meski kegelisahan tetap belum hilang.

Siang menjelang, dan saat yang paling ditunggu pun tiba: penyembelihan kerbau. Kerumunan berkumpul di sekitar rante. Beberapa kerbau biasa sudah dikorbankan, darahnya mengalir ke tanah, dianggap sebagai bekal perjalanan arwah menuju alam puya. Tangisan terdengar di satu sisi, sorakan terdengar di sisi lain. Itulah Rambu Solo’: kesedihan dan perayaan berjalan beriringan.

Ketika giliran kerbau hitam legam yang paling berharga datang, semua orang menahan napas. Kerbau itu gagah, tubuhnya berkilau di bawah matahari, tanduknya melengkung indah. Seekor kerbau yang nilainya setara dengan tanah luas atau sebuah rumah.

Rano berdiri di barisan depan, jantungnya berdegup keras. Ia melihat pamannya maju dengan parang di tangan, bersiap menjalankan tugas. Orang-orang berdoa, musik tradisional menggema. Dalam detik yang terasa begitu panjang, parang itu terayun, dan kerbau itu tumbang dengan suara menggetarkan bumi.

Sorak-sorai meledak dari kerumunan. Beberapa orang menangis, beberapa bertepuk tangan. Rano memejamkan mata, merasakan dadanya sesak. Bukan hanya karena darah yang mengalir, tapi karena ia tahu betapa besar pengorbanan yang baru saja dilakukan keluarganya.

Malam hari, setelah semua prosesi selesai, keluarga berkumpul di dalam tongkonan. Lampu minyak berkelip, wajah-wajah lelah tampak pucat. Ibunya duduk diam, menatap lantai tanpa bicara. Pamannya menghisap rokok, menghembuskan asap panjang.

“Apa semua ini sepadan?” akhirnya ibunya berbisik. Suaranya nyaris tak terdengar, namun jelas ditujukan kepada semua orang di ruangan itu.

Pamannya menghela napas berat. “Ini adat, adik. Kita tidak bisa melawan. Kalau upacara ini sederhana, orang akan bilang kita tidak menghormati Pong Lemba. Kau tahu bagaimana pembicaraan orang bisa melukai keluarga.”

“Tapi kita sudah menggadaikan sawah,” sahut ibunya dengan mata basah. “Bagaimana nanti kita hidup?”

Suasana hening. Semua orang tahu ia benar, tapi tidak ada jawaban mudah.

Rano yang duduk di sudut ruangan mendengar semuanya. Hatinya teriris. Ia ingin bersuara, ingin menenangkan ibunya, tapi lidahnya kelu. Ia tahu betul, sebagai cucu laki-laki Pong Lemba, ia juga memikul tanggung jawab itu.

Malam semakin larut. Orang-orang akhirnya tertidur di lantai tongkonan, kelelahan setelah seharian menjalani prosesi. Namun Rano tidak bisa tidur. Ia keluar, duduk di tangga tongkonan, menatap bintang-bintang. Di kejauhan, suara gong dan gendang masih terdengar samar dari rante.

Tiba-tiba, ia mendengar suara langkah kaki. Lita datang, membawa selendang menutupi bahunya. Ia duduk di samping Rano tanpa berkata apa-apa. Hanya diam, membiarkan angin malam berbicara.

Setelah beberapa lama, Lita berbisik, “Aku dengar ibumu menangis. Aku juga dengar pamanmu mencoba menenangkan. Rano, aku tahu kau memikirkan semuanya. Tapi jangan lupa, kakekmu pernah berkata, kita tidak boleh mengukur segalanya dengan uang. Ada hal-hal yang nilainya jauh di atas itu.”

Rano menoleh, menatap mata Lita yang bersinar di bawah cahaya bintang. “Tapi bagaimana kalau setelah ini keluarga kita kesulitan? Bagaimana kalau semua ini justru membuat kita menderita?”

“Kalau pun begitu, kita akan melaluinya bersama,” jawab Lita tegas. “Seperti malam ini, kita duduk bersama. Seperti keluarga lain yang datang memberi persembahan, bukan karena kaya, tapi karena rasa hormat. Bukankah itu juga yang kakek ajarkan? Bahwa kita harus saling menanggung beban?”

Rano menghela napas panjang. Untuk pertama kalinya malam itu, ia merasa sedikit lebih ringan.

Namun jauh di dalam hatinya, ia tahu bagian tersulit dari Rambu Solo’ belum selesai. Masih ada hari-hari berikutnya, masih ada kenangan yang harus dilepaskan, masih ada keputusan-keputusan yang harus dibuat.

Dan di balik semua itu, ia mulai menyadari sesuatu: bahwa tangisan dan senyuman bukan hanya tentang melepas orang yang pergi, tapi juga tentang bagaimana mereka yang ditinggalkan menemukan kekuatan untuk terus berjalan.

Hari ketiga upacara Rambu Solo’ dimulai dengan langit kelabu. Awan bergelayut di atas bukit, seakan ikut merasakan beratnya suasana. Namun meski matahari tak menampakkan diri, rante tetap dipenuhi cahaya obor dan wajah-wajah yang penuh semangat. Orang-orang sudah berkumpul sejak pagi, mengenakan pakaian terbaik mereka.

Di halaman luas, peti jenazah Pong Lemba berdiri megah di atas menara bambu yang dihiasi ukiran berwarna merah, hitam, dan putih. Menara itu menjulang, menjadi simbol perjalanan arwah menuju langit. Di bawahnya, para lelaki sibuk bersiap, sementara musik tradisional kembali menggema, menciptakan irama yang sakral dan mendebarkan.

Rano berdiri di antara barisan keluarga, menatap peti itu dengan mata berkaca-kaca. Inilah hari pelepasan terakhir, saat kakeknya benar-benar akan diantar ke liang lahat. Seluruh upacara dan pengorbanan beberapa hari terakhir akan mencapai puncaknya. Tangisan dan senyuman akan bertemu di satu titik: perpisahan.

Ketika gong dipukul tiga kali, suara bergema di udara lembah. Para lelaki mulai mengangkat peti dengan teriakan lantang, mengiringinya dengan langkah yang mantap. Peti itu diarak keliling rante, disaksikan ribuan pasang mata. Tangisan pecah dari kerumunan, namun di sisi lain terdengar pula tawa dan sorakan, seakan dua dunia bercampur jadi satu.

Rano ikut berjalan, kedua tangannya ikut menyangga tali yang mengikat peti. Bahunya terasa sakit, tubuhnya lelah, tapi hatinya penuh semangat. Ia tahu ini adalah momen terakhirnya bersama kakek, momen di mana ia harus memberikan seluruh tenaganya untuk menghantarkan orang yang paling ia hormati.

Di sepanjang jalan, orang-orang bersorak sambil menari. Anak-anak berlari di sekitar barisan, perempuan melantunkan kidung, dan para tetua memanjatkan doa-doa. Semua itu membuat suasana terasa seperti pesta besar, meski di baliknya tersimpan duka mendalam.

Ketika peti tiba di liang lahat yang sudah disiapkan di lereng bukit, suasana menjadi hening. Angin berhembus pelan, dedaunan bergetar seolah ikut mendoakan. Semua orang menundukkan kepala, sementara seorang tetua kampung berdiri di depan liang, mengucapkan doa dalam bahasa kuno Toraja.

“Pong Lemba, engkau telah menjalani hidupmu dengan penuh kebajikan. Engkau telah menanam padi, memberi makan keluarga, membimbing anak cucu, dan menjaga adat. Kini engkau berjalan menuju alam puya. Terimalah persembahan kami, terimalah tangisan dan senyuman kami. Semoga perjalananmu terang, semoga leluhur menyambutmu dengan tangan terbuka.”

Tangisan pecah, keras dan tak tertahan. Suara isak memenuhi udara, bercampur dengan suara gendang yang dipukul perlahan. Peti itu perlahan diturunkan ke dalam liang. Rano menggigit bibirnya, mencoba menahan tangis, tapi akhirnya air matanya jatuh juga. Di sampingnya, Lita menggenggam tangannya erat, memberikan kekuatan.

Ketika liang itu ditutup, Rano merasa sebuah bab tersulit dalam hidupnya resmi ditutup. Ia ingin berteriak, ingin menghentikan semuanya, tapi ia tahu tak ada jalan kembali. Yang bisa ia lakukan hanya merelakan, seperti yang diajarkan kakeknya semasa hidup: bahwa setiap pertemuan akan berakhir dengan perpisahan, dan setiap perpisahan adalah pintu menuju pertemuan baru di alam lain.

Setelah prosesi selesai, orang-orang mulai bubar. Beberapa masih menangis, beberapa saling berpelukan, dan sebagian tertawa mengenang kisah-kisah lucu tentang Pong Lemba. Itulah wajah ganda Rambu Solo’: kesedihan dan kegembiraan berjalan bersama.

Rano duduk di sebuah batu besar, memandangi bukit yang perlahan kembali sepi. Lita mendekat, duduk di sampingnya. Mereka tidak berbicara untuk waktu yang lama, hanya mendengarkan suara alam yang kembali tenang.

“Aku masih tidak percaya kakek sudah pergi,” kata Rano akhirnya. Suaranya parau.

Lita menatapnya lembut. “Dia memang pergi, Rano. Tapi lihatlah sekelilingmu. Semua orang datang, semua orang berkumpul, semua orang mengingatnya. Itu artinya dia tidak pernah benar-benar hilang. Selama kita terus mengenangnya, ia akan tetap hidup dalam hati kita.”

Rano mengangguk pelan. “Aku tahu. Tapi aku juga takut. Setelah ini, bagaimana dengan keluarga kita? Sawah sudah tergadai, kerbau sudah habis. Apa yang tersisa?”

Lita menarik napas dalam. “Yang tersisa adalah kita. Kau, aku, ibu, paman, semua keluarga. Kita akan bekerja keras, kita akan membangun kembali. Jangan khawatir terlalu jauh, Rano. Kakek selalu percaya pada kekuatan kita, bukankah begitu?”

Rano menatap Lita, lalu tersenyum tipis. Untuk pertama kalinya sejak upacara dimulai, ia merasa ada harapan di depan.

Hari-hari berikutnya, kehidupan perlahan kembali normal. Tamu-tamu pulang ke desa masing-masing, rante dibongkar, dan keramaian berangsur hilang. Tongkonan yang beberapa hari lalu dipenuhi orang kini kembali sepi, hanya menyisakan keluarga inti yang harus menghadapi kenyataan.

Rano membantu ibunya di sawah, menanam kembali padi dengan tangan yang lelah. Ia tidak lagi mengeluh, tidak lagi merasa tertekan. Sebaliknya, ia justru merasa lebih kuat, seakan api baru menyala dalam dirinya. Ia tahu beban hidup tidak ringan, tapi ia juga tahu bahwa mereka mampu menanggungnya bersama.

Suatu sore, ketika matahari mulai tenggelam di balik bukit, Rano berdiri di tepi sawah, menatap langit yang memerah. Ia teringat kata-kata kakeknya dulu: “Rano, hidup ini seperti menanam padi. Kau harus bersabar, kau harus merawat, dan kau harus rela kehilangan sebagian untuk mendapatkan panen yang lebih besar.”

Air mata jatuh di pipinya, tapi kali ini bukan air mata kesedihan. Ia tersenyum, menyadari bahwa meski kakeknya sudah tiada, nasihatnya tetap menjadi cahaya yang menuntun.

Lita datang membawa air, lalu berdiri di sampingnya. Mereka berdua menatap langit senja bersama, tanpa kata-kata, hanya dengan perasaan yang sama: bahwa meski dunia penuh dengan perpisahan, selalu ada senyuman yang menunggu di balik tangisan.

Dan di sanalah, di tengah sawah yang mulai hijau, Rano akhirnya benar-benar mengerti arti Rambu Solo’. Bahwa ia bukan hanya tentang kematian, bukan hanya tentang pesta atau pengorbanan, tetapi tentang bagaimana manusia belajar menerima kehilangan, merayakan kehidupan, dan menemukan kekuatan untuk terus melangkah.

Tangisan dan senyuman, ia pikir, memang harus berjalan beriringan. Seperti siang dan malam, seperti hidup dan mati. Dan dengan itu, Rano merasa siap menatap masa depan, membawa warisan kakeknya dalam setiap langkahnya.


Tamat

Tidak ada komentar:

Posting Komentar