Minggu, 12 Oktober 2025

Cerpen Di Balik Ukiran Pa’ssura

 


Cerpen Di Balik Ukiran Pa’ssura

Penulis: Risti Windri Pabendan

Di sebuah lembah yang hijau di Toraja, berdiri sebuah tongkonan tua dengan atap melengkung tinggi bagai perahu terbalik. Dinding kayunya dihiasi ukiran berwarna merah, hitam, dan kuning yang begitu rumit. Setiap garis, setiap lekukan, dan setiap simbol di dinding itu bukan sekadar hiasan, melainkan sebuah bahasa kuno yang disebut Pa’ssura—tulisan leluhur yang hanya dimengerti oleh segelintir orang.

Bagi Randa, pemuda berusia tujuh belas tahun yang tinggal di tongkonan itu, ukiran-ukiran tersebut adalah misteri yang selalu memanggilnya. Sejak kecil ia sering duduk di depan dinding kayu, menatap pola kerbau, ayam, matahari, dan spiral yang saling berkelindan. Kadang ia merasa ukiran itu berbicara padanya, meski ia tak mengerti bahasa yang digunakannya.

“Randa, jangan terlalu sering menatap ukiran itu,” kata neneknya suatu sore, ketika ia mendapati cucunya duduk diam di beranda tongkonan. “Pa’ssura bukan sekadar gambar. Itu adalah pesan leluhur. Jika kau belum siap, kau bisa tersesat dalam maknanya.”

Namun semakin dilarang, semakin kuat rasa penasaran Randa. Ia merasa ada sesuatu yang disembunyikan keluarganya tentang ukiran itu. Setiap kali ada tamu atau keluarga lain datang, neneknya selalu menutup sebagian ukiran dengan kain merah, seolah ingin melindungi sesuatu dari pandangan orang luar.

Randa mulai memperhatikan: kain itu selalu menutupi satu panel khusus di bagian timur tongkonan. Panel itu berbeda dari yang lain. Ukirannya lebih padat, dengan warna yang lebih gelap dan pola yang tak pernah ia lihat di tongkonan lain di desa. Setiap kali ia mencoba bertanya, neneknya hanya menjawab singkat, “Itu bukan untukmu. Belum saatnya.”

Malam-malam Randa sering tak bisa tidur. Ia menatap atap bambu di atas kepalanya, mendengar suara jangkrik dari luar, dan bertanya-tanya: apa sebenarnya yang disimpan di balik panel itu?

Suatu malam, ketika hujan deras mengguyur dan neneknya sudah terlelap, Randa memberanikan diri keluar. Ia menyalakan lampu minyak kecil, lalu berjalan pelan ke beranda tongkonan. Suara hujan menutupi langkahnya. Dengan tangan gemetar, ia mengangkat kain merah yang menutupi panel ukiran.

Matanya terbelalak. Di balik kain itu terukir simbol-simbol aneh, jauh lebih rumit daripada Pa’ssura yang pernah ia lihat. Ada bentuk mata yang dikelilingi spiral, ada kerbau dengan tanduk panjang yang menjulang, dan ada pola bintang yang berulang seperti peta langit. Randa menyentuh kayu itu dengan ujung jarinya, dan entah mengapa, kayu itu terasa hangat.

Tiba-tiba, angin kencang bertiup dari celah-celah dinding, membuat lampu minyak bergoyang. Bayangan ukiran menari di dinding tongkonan, menciptakan ilusi seolah simbol-simbol itu bergerak. Randa terperanjat. Ia buru-buru menjatuhkan kain kembali, lalu berlari ke dalam, bersembunyi di balik tikar tipis. Jantungnya berdegup kencang, tapi rasa takut bercampur dengan rasa takjub.

Keesokan harinya, Randa berpura-pura biasa. Ia membantu ibunya menumbuk padi di halaman, mengangkut air dari sumur, dan memberi makan babi. Namun pikirannya terus kembali pada panel itu. Apa arti ukiran tersebut? Mengapa neneknya begitu merahasiakannya?

Hari itu, seorang lelaki tua datang ke tongkonan. Ia mengenakan sarung hitam dan tongkat bambu. Wajahnya penuh keriput, tapi sorot matanya tajam. Namanya Pong Simbu, tetua adat yang dihormati di kampung itu. Randa melihat bagaimana neneknya menyambut Pong Simbu dengan penuh hormat, lebih hormat daripada tamu lainnya.

Mereka berbicara lama di dalam rumah. Randa mencuri dengar dari balik pintu. Ia mendengar kata-kata yang membuat bulu kuduknya berdiri: “Sudah waktunya rahasia itu dijaga. Randa semakin besar. Dia pasti mulai melihat ukiran itu. Kau tidak bisa menyembunyikannya selamanya.”

Suara neneknya terdengar parau. “Aku takut, Pong Simbu. Jika dia tahu, dia bisa terjerumus. Sama seperti ayahnya dulu.”

Randa terpaku. Ayahnya? Sejak kecil ia tidak pernah tahu banyak tentang ayahnya. Yang ia tahu hanya bahwa ayahnya meninggal muda, jauh sebelum Randa bisa mengingat wajahnya. Ibunya jarang bercerita, dan setiap kali ia bertanya, wajah ibunya selalu berubah muram.

Malam itu, Randa tidak bisa tidur lagi. Kata-kata Pong Simbu terngiang-ngiang di kepalanya. Apa yang dimaksud dengan rahasia? Apa hubungannya dengan ayahnya?

Beberapa hari kemudian, saat desa sibuk mempersiapkan pesta panen, Randa mencari kesempatan. Ia mendatangi Pong Simbu yang sedang duduk di bawah pohon beringin besar. Dengan suara bergetar, ia bertanya, “Pong Simbu, apa yang kau maksud dengan rahasia di ukiran Pa’ssura tongkonan kami?”

Lelaki tua itu menatapnya lama, seakan menilai keberanian anak muda di depannya. Lalu ia tersenyum tipis. “Kau memang cucu Pong Tandi. Tatapanmu sama tajamnya dengan tatapannya. Tapi hati-hati, Randa. Tidak semua pengetahuan membawa terang. Ada yang justru bisa menjerumuskan.”

Randa mengepalkan tangannya. “Aku tidak peduli. Aku hanya ingin tahu. Aku berhak tahu tentang ayahku, tentang keluargaku.”

Pong Simbu menarik napas panjang, lalu berkata lirih, “Jika kau benar-benar ingin tahu, datanglah padaku setelah bulan penuh muncul. Aku akan menunjukkan jalanmu.”

Hari-hari berikutnya terasa panjang bagi Randa. Ia menghitung waktu setiap malam, menatap langit dari celah atap bambu. Hingga malam bulan penuh tiba. Bulan bundar menggantung di langit, cahayanya menyinari tongkonan dengan keperakan misterius.

Randa keluar diam-diam. Ia menemukan Pong Simbu sudah menunggunya di tepi hutan, membawa obor. Lelaki tua itu tidak berkata banyak. Ia hanya memberi isyarat, dan mereka berdua berjalan masuk ke hutan yang sunyi.

Di tengah hutan, mereka tiba di sebuah batu besar yang penuh lumut. Batu itu datar, dengan permukaan yang juga dipenuhi ukiran-ukiran Pa’ssura. Pong Simbu menyalakan obor lebih terang, memperlihatkan simbol yang mirip dengan panel rahasia di tongkonan keluarganya.

“Dengar baik-baik, Randa,” kata Pong Simbu dengan suara berat. “Ukiran ini bukan hanya hiasan. Ini adalah pesan leluhur yang diwariskan turun-temurun. Pa’ssura adalah bahasa yang menceritakan tentang kehidupan, kematian, dan jalan manusia menuju surga. Tapi sebagian ukiran, seperti yang ada di tongkonanmu, adalah Pa’ssura Rahasia. Itu hanya dibuat oleh keluarga tertentu, penjaga ilmu tua yang tak semua orang boleh tahu.”

Randa menelan ludah, jantungnya berdebar kencang. “Dan keluargaku... adalah salah satunya?”

Pong Simbu menatapnya dalam. “Ya. Keluargamu adalah penjaga Pa’ssura Rahasia. Ayahmu dulu sudah mulai mempelajarinya. Tapi ia terlalu cepat terbakar oleh ambisinya, hingga akhirnya meninggal muda. Kini, darah itu mengalir di dirimu. Cepat atau lambat, kau juga akan dipanggil oleh ukiran itu.”

Randa terdiam, merasakan campuran takut dan bangga. Malam itu ia pulang ke tongkonan dengan kepala penuh pertanyaan. Saat ia melewati dinding kayu dengan panel tertutup kain merah, ia menatapnya lama. Kini ia tahu, di balik ukiran itu ada sesuatu yang jauh lebih besar daripada sekadar hiasan. Ada warisan, ada rahasia, ada bahaya dan ia sudah terlibat, suka atau tidak.

Sejak malam pertemuannya dengan Pong Simbu, Randa tidak pernah lagi memandang ukiran Pa’ssura dengan cara yang sama. Setiap kali ia melewati dinding tongkonan, matanya akan tertarik ke arah panel rahasia yang ditutupi kain merah. Ia merasa seolah-olah simbol-simbol di balik kain itu berdenyut, memanggil namanya.

Suatu malam, ketika ia tidak bisa lagi menahan rasa penasaran, Randa kembali mengangkat kain itu. Bulan purnama masih menggantung di langit, cahayanya menyusup melalui celah dinding bambu. Ukiran itu terlihat begitu hidup, seperti sedang bergetar. Tanpa sadar, Randa menyentuhkan telapak tangannya.

Seketika, matanya dipenuhi cahaya. Ia melihat bayangan kerbau berlari melintasi padang luas, bintang-bintang berjatuhan, dan suara-suara aneh bergema di telinganya. Simbol-simbol Pa’ssura berputar, mengelilinginya seperti pusaran air. Randa terhuyung, hampir terjatuh. Dengan cepat ia menurunkan kembali kain merah, napasnya memburu.

Keesokan harinya, ibunya menyadari ada sesuatu yang berbeda. Wajah Randa pucat, matanya sembab. “Randa, apa yang kau lakukan semalam?” tanyanya tajam.

Randa terdiam. “Aku... hanya duduk di beranda.”

Ibunya menggeleng dengan wajah marah. “Jangan bohong padaku. Kau sudah melihat ukiran itu, bukan?”

Randa tak sanggup menjawab. Ia hanya menunduk, merasa bersalah. Ibunya mendekat, menggenggam bahunya erat. “Kau tidak tahu apa yang sedang kau mainkan, Nak. Pa’ssura itu bukan untuk anak seusiamu. Ayahmu... dia juga terlalu cepat berhubungan dengan ukiran itu, dan kau tahu apa yang terjadi padanya.”

“Justru itu yang ingin kutahu, Bu!” seru Randa. “Kenapa semua orang merahasiakan ayahku? Kenapa aku tidak boleh tahu? Aku berhak tahu kebenaran!”

Air mata ibunya jatuh. Untuk pertama kalinya, ia terlihat rapuh di hadapan anaknya. “Ayahmu adalah lelaki yang baik. Tapi dia haus pengetahuan. Dia ingin tahu segalanya, lebih cepat daripada yang seharusnya. Pa’ssura memberinya kekuatan, tapi juga membawanya pada kehancuran. Dia meninggal dalam sebuah upacara, tubuhnya roboh di depan semua orang. Sejak itu, aku bersumpah tidak akan membiarkan kau mengalami hal yang sama.”

Kata-kata itu menusuk hati Randa. Ia ingin marah, tapi di sisi lain ia merasakan kepedihan ibunya. Namun, rasa penasaran yang sudah terlanjur mengakar tidak bisa padam begitu saja.

Beberapa hari kemudian, Pong Simbu kembali menemuinya diam-diam. Ia berkata, “Aku melihat matamu, Randa. Kau sudah disentuh oleh Pa’ssura. Itu tandanya kau dipanggil. Kau tidak bisa menghindar lagi. Kau harus belajar mengendalikan, sebelum ukiran itu menelanmu.”

Randa menelan ludah. “Tapi ibuku melarang.”

Pong Simbu menggeleng. “Ibumu hanya takut kehilanganmu. Sama seperti ia kehilangan ayahmu. Tapi justru karena itulah kau harus lebih kuat. Kalau kau menolak, kau hanya akan menjadi bayangan dari rahasiamu sendiri.”

Malam itu, Pong Simbu mulai mengajarinya arti dasar Pa’ssura. Mereka duduk di dekat batu berlumut di hutan, obor menyala, angin malam berhembus dingin. Pong Simbu menggambar simbol di tanah dengan ranting, menjelaskan satu per satu: garis lurus yang melambangkan perjalanan hidup, lingkaran yang berarti alam semesta, tanduk kerbau yang melambangkan kekuatan dan pengorbanan.

Randa terpesona. Ia merasa seolah pintu dunia baru terbuka di depannya. Ia mulai memahami bahwa Pa’ssura bukan sekadar ukiran, tapi bahasa rahasia yang menyimpan kisah kehidupan manusia Toraja.

Namun, semakin dalam ia belajar, semakin aneh pula mimpinya setiap malam. Ia bermimpi melihat ayahnya, berdiri di tengah padang hijau, melambai padanya. Kadang ayahnya berbicara dengan bahasa yang tidak ia mengerti, kadang hanya menatap dengan mata penuh rahasia.

Suatu malam, mimpinya lebih jelas. Ayahnya berkata: “Randa, jangan ulangi kesalahanku. Pa’ssura adalah jalan yang indah, tapi juga jalan yang berbahaya. Jika kau ingin selamat, jangan biarkan ambisi menguasaimu.”

Randa terbangun dengan tubuh penuh keringat. Ia bingung apakah itu sekadar mimpi, atau pesan nyata dari arwah ayahnya?

Sementara itu, desa mulai memperhatikan perubahan pada dirinya. Randa yang dulu ceria kini lebih sering termenung. Matanya kadang terlihat kosong, seolah ia sedang berada di dunia lain. Anak-anak sebayanya menjauh, menganggapnya aneh.

Suatu sore, Lemba teman dekatnya datang mendekat. “Randa, kau kenapa akhir-akhir ini? Kau sering melamun. Jangan bilang kau terlibat dengan Pa’ssura itu?”

Randa terkejut. “Kau tahu tentang itu?”

Lemba mengangguk. “Orang-orang di desa mulai berbisik. Mereka bilang keluargamu menyimpan Pa’ssura rahasia. Mereka takut padamu. Kau harus hati-hati, Randa. Tidak semua orang menganggap Pa’ssura itu berkah. Ada yang melihatnya sebagai kutukan.”

Hati Randa semakin gundah. Di satu sisi, ia merasa bangga karena menjadi bagian dari sesuatu yang besar. Di sisi lain, ia merasa terasing, seperti sedang berjalan di jalan yang semakin sempit.

Konflik semakin memuncak ketika ibunya akhirnya tahu bahwa Pong Simbu diam-diam mengajarinya. Suatu malam, ia memergoki Randa pulang dari hutan dengan wajah pucat. Ibunya marah besar.

“Randa! Kau tidak mengerti! Kau sedang membuka pintu yang tidak bisa kau tutup lagi!” teriaknya.

Randa membalas dengan suara lantang. “Aku harus tahu kebenaran, Bu! Aku tidak bisa hidup dalam bayang-bayang rahasia selamanya!”

Ibunya menangis, menutupi wajah dengan kedua tangannya. “Kalau begitu, lakukan sesukamu. Tapi ingat, setiap rahasia ada harganya.”

Randa terdiam. Kata-kata itu seperti kutukan yang menggantung di atas kepalanya. Ia tahu jalannya semakin berbahaya, tapi ia juga tahu sudah terlalu jauh untuk mundur.

Malam berikutnya, ia kembali menatap panel ukiran di tongkonan. Ia membuka kain merah dengan lebih berani. Tangannya tidak lagi gemetar. Ia menyentuh simbol mata di ukiran itu, dan sekali lagi cahaya menyilaukan membanjiri penglihatannya. Namun kali ini, ia tidak mundur. Ia membiarkan cahaya itu menyelubunginya.

Ia melihat bayangan ayahnya lebih jelas daripada sebelumnya. Kali ini, ayahnya menunjuk sebuah simbol bintang, lalu berkata dengan suara tegas: “Jalanmu ada di sini. Cari kunci di balik ukiran. Itu adalah warisan kita.”

Randa tersentak bangun, jantungnya berdegup keras. Ia tidak tahu apakah itu mimpi atau kenyataan, tapi satu hal pasti: ayahnya meninggalkan pesan yang harus ia pecahkan.

Malam itu, Randa tidak bisa tidur. Cahaya bulan merambat masuk lewat celah atap bambu, membentuk bayangan samar di lantai kayu tongkonan. Di dalam dadanya, rasa takut dan penasaran bercampur menjadi satu, membuat tubuhnya gelisah. Ia tahu pesan ayahnya bukan sekadar mimpi. Itu adalah petunjuk, sebuah jalan yang harus ia tempuh.

Dengan hati-hati, ia bangkit dari tikar. Ia berjalan pelan menuju panel rahasia, mengangkat kain merah, lalu menatap ukiran mata yang dikelilingi spiral. Lampu minyak kecil ia letakkan di dekatnya. Kilau api membuat pola-pola ukiran tampak seolah bergerak, menari di permukaan kayu.

Randa menyentuh simbol bintang, yang dalam mimpinya ditunjuk oleh ayahnya. Awalnya ia hanya meraba, tetapi tiba-tiba ia merasakan cekungan kecil di tengah simbol itu. Dengan jari gemetar, ia menekan. Kayu itu bergerak, menimbulkan bunyi klik pelan. Panel bergeser sedikit, seolah membuka pintu tersembunyi.

Randa menahan napas. Di balik panel itu, ia menemukan ruang kecil, sebuah kotak kayu tua yang berdebu. Dengan hati-hati ia mengangkat kotak itu dan membawanya ke tengah ruangan. Kotak itu dihiasi ukiran Pa’ssura juga, dengan pola yang sama rumitnya. Ia membuka tutupnya perlahan.

Di dalamnya, tersimpan gulungan daun lontar yang sudah tua, diikat dengan benang merah. Randa membuka ikatan itu, dan matanya terbelalak melihat tulisan-tulisan kuno yang mirip dengan Pa’ssura di dinding tongkonan. Simbol-simbol itu teratur, seakan menjadi catatan leluhur.

Saat ia membaca, meski awalnya sulit, tiba-tiba ia merasa kata-kata itu masuk begitu saja ke dalam kepalanya. Ia bisa mengerti maknanya, seolah-olah ada suara yang berbisik langsung ke telinganya. Gulungan itu menceritakan tentang sebuah warisan ilmu, rahasia para leluhur Toraja. Bahwa Pa’ssura bukan hanya bahasa, melainkan jembatan antara dunia manusia dan dunia roh.

Randa merasakan bulu kuduknya berdiri. Ia menggenggam gulungan itu erat-erat, lalu menutup kembali kotak kayu. Saat ia hendak menyembunyikan lagi, suara berderit terdengar di belakangnya. Ibunya berdiri di pintu, matanya merah menahan tangis.

“Kau menemukannya...” suaranya bergetar.

Randa menatap ibunya dengan rasa bersalah. “Aku... aku tidak bisa menahan diri, Bu. Aku harus tahu.”

Ibunya melangkah mendekat, duduk di sampingnya. Air matanya jatuh tanpa henti. “Itu adalah warisan ayahmu. Ia dulu juga menemukannya, seperti dirimu. Tapi dia terlalu cepat mencoba memahaminya, terlalu ambisius. Dia mengira bisa menguasai semuanya dalam sekali duduk. Dan itulah yang membunuhnya.”

Randa menggenggam tangan ibunya. “Aku tidak seperti ayah, Bu. Aku tidak ingin dihancurkan oleh Pa’ssura. Aku hanya ingin mengerti, agar aku tahu siapa aku sebenarnya.”

Ibunya menatapnya lama, lalu menghela napas panjang. “Kalau begitu, kau harus belajar dengan hati-hati. Jangan terburu-buru. Jangan biarkan ambisi menguasaimu. Kalau kau bisa menahan dirimu, mungkin kau akan bisa memikul warisan ini dengan selamat.”

Hari-hari berikutnya, Randa mulai belajar membaca gulungan lontar itu secara perlahan, ditemani Pong Simbu. Lelaki tua itu tampak lega ketika tahu gulungan itu akhirnya terbuka. “Aku sudah menunggu saat ini,” katanya. “Sudah waktunya warisan ini diteruskan. Kau adalah generasi berikutnya.”

Randa belajar tentang makna setiap simbol, tentang bagaimana Pa’ssura adalah refleksi kehidupan: spiral melambangkan perjalanan tanpa akhir, kerbau melambangkan pengorbanan, matahari melambangkan harapan, dan bintang melambangkan jalan pulang menuju leluhur.

Semakin dalam ia belajar, semakin ia menyadari bahwa Pa’ssura bukan sekadar ilmu. Itu adalah cara hidup, sebuah panduan agar manusia tidak tersesat dalam kehidupannya. Namun ada satu bagian dari gulungan itu yang membuatnya gelisah: ramalan tentang seorang anak muda yang akan membuka kembali Pa’ssura rahasia setelah generasi lama tumbang. Anak itu akan menjadi penjaga, atau penghancur.

“Apakah aku... yang dimaksud ramalan ini?” tanya Randa pada Pong Simbu dengan suara bergetar.

Pong Simbu menatapnya lama, lalu berkata, “Tidak ada ramalan yang mutlak. Semua tergantung pada pilihanmu, Randa. Kau bisa menjadi penjaga, atau penghancur. Itu ada di tanganmu.”

Kata-kata itu membuat Randa semakin berhati-hati. Ia mulai mengendalikan dirinya, tidak lagi terburu-buru membuka semua rahasia gulungan itu. Ia hanya membaca sedikit demi sedikit, merenungkan maknanya, dan mencoba menerapkannya dalam kehidupannya sehari-hari.

Perubahan pun mulai terlihat. Ia menjadi lebih tenang, lebih bijak dalam berbicara, bahkan orang-orang di desa mulai memperhatikannya. Anak-anak yang dulu menjauh kini kembali mendekat, merasa nyaman dengan kehadirannya. Orang-orang dewasa mulai meminta nasihatnya dalam beberapa hal kecil.

Ibunya tersenyum melihat perubahan itu. “Ayahmu akan bangga padamu, Randa,” katanya suatu malam. “Kau tidak hanya mewarisi darahnya, tapi juga memperbaiki kesalahannya.”

Namun tidak semua orang senang dengan perubahan itu. Ada beberapa orang di desa yang merasa iri. Mereka menganggap Randa terlalu cepat mendapat kehormatan, apalagi setelah kabar tentang Pa’ssura rahasia menyebar. Bisikan-bisikan mulai muncul, menuduh Randa bermain dengan ilmu berbahaya.

Suatu malam, sekelompok pemuda menghadangnya di jalan desa. “Hei, Randa! Jangan kira kau bisa jadi orang besar hanya karena ukiran-ukiran itu. Kami tidak takut pada ilmu gelapmu!” salah satu dari mereka berteriak.

Randa tidak marah. Ia hanya menatap mereka dengan tenang, lalu berkata, “Aku tidak mencari kehormatan. Aku hanya ingin menjaga warisan leluhur, agar tidak hilang. Kalau kalian tidak percaya, tidak apa-apa. Tapi jangan sampai kebencian membuat kalian buta.”

Ketenangannya membuat para pemuda itu terdiam. Mereka akhirnya pergi dengan wajah kesal, tetapi jauh di dalam hati mereka mulai merasakan sesuatu yang berbeda: rasa hormat.

Waktu berlalu. Randa tumbuh menjadi pemuda yang dihormati, bukan karena kekuatan mistis, melainkan karena kebijaksanaannya. Ia tetap menjaga gulungan lontar itu, membaca dan memahaminya dengan sabar. Ia tidak pernah lagi mencoba melampaui batas, karena ia tahu warisan itu bukan untuk dimiliki, melainkan untuk dijaga.

Pada suatu malam, Randa bermimpi lagi bertemu dengan ayahnya. Kali ini, ayahnya tersenyum damai. “Kau telah memilih jalan yang benar, Randa. Kau adalah penjaga yang kami tunggu. Jaga Pa’ssura itu, bukan untuk dirimu, tetapi untuk semua orang.”

Ketika ia terbangun, air mata mengalir di pipinya. Ia merasa lega, seolah beban besar yang selama ini menekan dadanya akhirnya terangkat. Ia keluar ke beranda, memandang panel rahasia yang kini tidak lagi menakutkan. Ia tahu rahasianya bukan lagi beban, melainkan cahaya yang harus dijaga.

Di balik ukiran Pa’ssura, ia tidak hanya menemukan rahasia keluarganya, tetapi juga menemukan dirinya sendiri.


Tamat

Tidak ada komentar:

Posting Komentar