Kamis, 18 September 2025

☎️ Cerpen Horor: Telepon Tengah Malam

 


☎️ Cerpen Horor: Telepon Tengah Malam

Nomor yang Tidak Dikenal

Penulis: Risti Windri Pabendan


Malam yang Tenang

Jam dinding di kamar kos Dimas menunjukkan pukul 23.55. Ia baru saja menutup laptop setelah menonton film horor sendirian. Ironisnya, ia memang suka menantang diri dengan kisah seram sebelum tidur.

Kamar kosnya sepi. Teman sebelah sudah mudik. Hanya suara kipas angin berputar lambat, kadang berdecit.

Dimas meletakkan ponselnya di meja kecil dekat bantal, memejamkan mata, berusaha tidur.

Telepon Pertama

Tiba-tiba—ponselnya bergetar. Layar menyala.

Nomor tak dikenal. Tidak ada nama, hanya deretan angka acak: “000-000-0000”.

Alis Dimas berkerut. “Nomor apa ini?” gumamnya.

Rasa penasaran mengalahkan logika. Ia mengangkat.

“Halo?” suaranya agak serak.

Tidak ada jawaban. Hanya suara statis, seperti radio rusak.

“Halo… siapa ini?”

Lalu terdengar suara lirih. Suara perempuan. Sangat pelan, hampir seperti bisikan.

“Jangan matikan lampunya…”

Klik. Telepon terputus.

Kamar yang Berubah

Dimas terpaku. Ia menatap layar, mencoba menelpon balik, tapi nomor itu tidak bisa dihubungi.

Ia menelan ludah. Lampu kamarnya memang masih menyala, bohlam 10 watt berpendar kuning redup.

“Cuma orang iseng…” ia mencoba menenangkan diri.

Tapi saat ia menoleh ke jendela, jantungnya berhenti berdetak sejenak.

Ada bayangan seseorang berdiri di luar jendela, meski kamarnya berada di lantai dua kos.

Bayangan itu diam saja, hanya terlihat siluet kepala dan bahu, samar-samar.

Dimas panik, berlari ke arah jendela. Ia buka tirai dengan cepat.

Kosong. Tidak ada siapa-siapa.

Telepon Kedua

Ponselnya kembali bergetar. Nomor sama. 000-000-0000.

Dengan tangan gemetar, Dimas mengangkat lagi.

“Halo?! Siapa kau sebenarnya?!”

Kali ini, suara perempuan itu lebih jelas. Suara berat, serak, tapi tetap lirih.

“Aku ada di dalam kamarmu…”

Dimas langsung menoleh ke sekeliling. Kosong. Tidak ada siapapun selain dirinya.

Namun suara langkah terdengar dari sudut kamar. Pelan, menyeret.

Ia menatap sudut itu. Gelap, karena cahaya lampu tidak sampai sepenuhnya.

Dalam kegelapan samar, ia melihat sesuatu… sepasang mata kecil, merah, menatapnya tanpa berkedip.

Dimas menjatuhkan ponselnya, tubuhnya kaku, keringat dingin menetes. Telepon terputus sendiri.

Lampu kamar tiba-tiba berkedip-kedip, seolah hendak mati.

Dan dari sudut gelap itu, terdengar suara bisikan yang sama… tanpa ponsel, tanpa alat apapun:

“Jangan matikan lampunya…”

Keringat dingin membasahi wajah Dimas. Ia masih terduduk di lantai, ponselnya tergeletak beberapa senti dari kakinya. Cahaya lampu kamar berkedip pelan, kadang redup, kadang terang.

Kata-kata itu terus terngiang: “Jangan matikan lampunya…”

Dimas menatap sudut gelap kamar. Mata merah yang sempat terlihat tadi sudah lenyap. Tapi perasaan ada sesuatu yang menatapnya tidak hilang.

Ia mengambil ponsel lagi dengan tangan gemetar. Nomor itu tidak ada di riwayat panggilan. Yang ada hanya daftar chat WA terakhir dari teman-temannya.

“Mustahil… barusan jelas ada telepon,” gumamnya.

Telepon Ketiga

Belum sempat ia menenangkan diri, ponselnya kembali bergetar. Nomor yang sama muncul lagi: 000-000-0000.

Jantung Dimas berdetak kencang. Kali ini, ia ragu untuk mengangkat. Tapi rasa penasaran bercampur takut membuat jarinya bergerak sendiri menekan tombol hijau.

“Halo?” suaranya hampir tidak terdengar.

Tidak ada jawaban selama beberapa detik. Hanya suara statis.

Lalu suara itu datang lagi. Lebih jelas. Lebih dekat.

“Aku sudah di belakangmu.”

Dimas terperanjat. Ia menoleh cepat ke belakang.

Kosong. Hanya dinding dan pintu kamar.

“Siapa kau sebenarnya?!” teriaknya, suaranya pecah.

Suara perempuan itu tertawa kecil di seberang. Tawa lirih, seperti tawa yang sengaja ditahan.

“Aku ingin lihat wajahmu saat kau ketakutan.”

Telepon terputus lagi.

Ketukan di Pintu

Dimas menatap pintu kamar kosnya. Tubuhnya kaku, tapi ia yakin barusan terdengar suara ketukan pelan.

Tok… tok… tok…

Tiga kali, pelan, teratur.

“Siapa di luar?!” teriak Dimas, berharap itu teman kosnya yang usil.

Tidak ada jawaban. Hening.

Namun ketukan itu terdengar lagi. Kali ini lebih keras.

Tok… tok… tok…

Dimas berdiri pelan, meraih gagang pintu. Ia menempelkan telinga ke pintu, mencoba mendengar.

Samar-samar, dari balik pintu, terdengar bisikan:

“Jangan matikan lampunya…”

Lampu yang Mati

Saat itu juga, lampu kamar mendadak padam.

Kegelapan total menyelimuti ruangan. Dimas menjerit, panik, tangannya meraba dinding mencari saklar.

“Tidak! Jangan mati! Jangan mati!”

Namun saklar tidak berfungsi. Lampu tetap gelap.

Dan di tengah kegelapan, ponselnya menyala sendiri. Layarnya menyorot wajahnya dengan cahaya putih pucat.

Nomor itu kembali menelpon: 000-000-0000.

Dimas menelan ludah. Dengan jari gemetar, ia mengangkat.

Suara dari Dalam

“Halo…” suara Dimas lirih.

Kali ini, tidak ada statis. Suara perempuan itu terdengar sangat jelas, seakan berada di samping telinganya.

“Aku sudah masuk kamarmu.”

Dimas membeku. Nafasnya tercekat.

Tiba-tiba ia merasakan sesuatu: napas dingin menyentuh tengkuknya.

Ia menoleh perlahan.

Di belakangnya, samar dalam gelap, ada wajah perempuan pucat dengan rambut panjang menutupi sebagian wajah. Matanya hitam pekat, mulutnya tersenyum lebar.

Dimas menjerit, menjatuhkan ponsel.

Ponsel yang Hidup Sendiri

Ponsel di lantai tetap menyala. Layar menampilkan wajah perempuan itu—bukan di aplikasi kamera, melainkan di layar panggilan telepon.

Nomor 000-000-0000 masih aktif, dan wajah perempuan itu tampak seperti menempel di layar, senyumannya makin lebar, matanya berkedip seolah hidup.

Dimas menendang ponsel, tapi layar tetap menyala. Wajah itu masih menatapnya, suaranya masih terdengar jelas.

“Aku suka kamar ini. Aku akan tinggal di sini bersamamu.”

Ketakutan yang Menyiksa

Dimas berlari ke pintu kamar. Ia memutar kunci, mencoba membuka. Tidak bisa. Kuncinya macet, seolah ada yang menahan dari luar.

“Buka! Tolong!” ia menjerit sekencang-kencangnya. Tapi kos itu sunyi. Tidak ada yang menjawab.

Tiba-tiba, dari arah jendela, terdengar suara ketukan. Bukan dari luar, tapi dari dalam kaca.

Dimas menoleh. Dan di balik kaca jendela, dari arah dalam kamarnya sendiri, muncul tangan pucat yang menempel.

Ia jatuh terduduk, air matanya mulai keluar. “Apa yang kau mau dariku?!”

Jawaban dari Telepon

Ponselnya yang tergeletak di lantai kembali berdering. Kali ini bukan bergetar, tapi berdering dengan nada klasik, seperti telepon rumah zaman dulu.

Dimas menoleh, terpaksa mendekat. Dengan tubuh gemetar, ia mengambil ponselnya.

Ia mengangkat, suaranya bergetar: “Apa yang kau mau?!”

Suara itu menjawab, lembut tapi mengerikan:

“Aku hanya ingin kau menemaniku… sampai lampu padam selamanya.”

Tiba-tiba, seluruh kamar bergetar. Ponsel panas di tangan Dimas, hampir membakar kulitnya.

Lampu yang tadi padam kini berkedip sekali… lalu menyala kembali.

Ruangan terlihat normal. Tidak ada perempuan, tidak ada tangan di jendela. Semua lenyap.

Dimas terengah, menatap sekeliling. Apakah semuanya halusinasi?

Namun saat ia menoleh ke ponsel, wajahnya pucat seketika.

Di layar ponsel, panggilan masih aktif. Nomor itu masih terhubung.

Dan suara lirih terdengar, kali ini sangat dekat, seolah dari dalam tubuhnya sendiri:

“Aku ada di dalam dirimu sekarang…”

Dimas masih terduduk di lantai, ponsel panas di tangannya. Napasnya memburu, tubuhnya gemetar. Ia merasa seperti baru saja selamat dari neraka.

Tapi kalimat terakhir itu masih menggema:
“Aku ada di dalam dirimu sekarang…”

Ia menatap bayangannya di cermin kecil dekat meja belajar. Sekilas ia lihat wajahnya biasa. Namun, ketika ia menatap lebih lama, matanya seperti tidak sama. Ada kilatan aneh di sana—hitam pekat, seolah bukan miliknya.

“Tidak… ini hanya sugesti,” bisiknya pada diri sendiri.

Bisikan Pertama

Saat ia hendak bangkit, suara lirih terdengar di kepalanya. Bukan lewat telinga, tapi langsung dari dalam pikirannya.

“Jangan matikan lampu, Dimas…”

Dimas membeku. Ia menoleh ke kiri, ke kanan. Kosong. Tidak ada siapa-siapa. Tapi suara itu jelas.

Ia menutup telinga dengan kedua tangan. “Diam! Keluar dari kepalaku!”

Tapi semakin ia berusaha menolak, semakin jelas suara itu terdengar. Suara perempuan serak, lirih, tapi tegas.

“Kau tidak bisa mengusirku. Aku sudah menempel di jiwamu.”

Gangguan di Kos

Keesokan paginya, Dimas berusaha meyakinkan diri semua hanya mimpi. Ia tetap kuliah, tetap beraktivitas. Namun, hal-hal aneh terus terjadi.

Di kelas, saat dosen menjelaskan materi, ia mendengar suara itu berbisik:
“Bunuh dosenmu… lihat ekspresi takutnya…”

Ia langsung memukul kepalanya sendiri, membuat teman-teman menatap heran.

“Bro, lo nggak apa-apa?” tanya salah seorang teman.

Dimas memaksakan senyum. “Iya, pusing dikit.”

Tapi dalam kepalanya, suara itu tertawa.

“Jangan pura-pura, Dimas. Aku tahu kau mendengarku.”

Malam Kedua

Malam berikutnya, Dimas mencoba tidur lebih cepat. Ia menyalakan semua lampu: kamar, kamar mandi, bahkan lampu koridor kos. Ia berpikir, dengan cahaya terang, ia bisa merasa aman.

Namun, tepat pukul 00.00, ponselnya kembali bergetar. Nomor itu lagi: 000-000-0000.

Dimas menolak panggilan itu. Tapi seketika, ponselnya tetap berbicara. Meski tidak diangkat, suara itu keluar dari speaker.

“Kenapa tidak kau angkat, Dimas? Aku kan sudah di sini…”

Dimas menjerit, melempar ponselnya ke dinding. Ponsel pecah, layar retak, tapi suara itu masih keluar.

“Aku suka kamar ini… ayo kita bermain.”

Cermin

Dimas menoleh ke arah cermin di meja belajar.

Cerminnya berembun, padahal tidak ada uap atau air. Di embun itu, muncul tulisan samar: “AKU DI BELAKANGMU”.

Dimas menoleh cepat. Kosong.

Tapi dari dalam cermin, bayangannya tersenyum. Bukan senyum dirinya, melainkan senyum lebar, gigi tajam, mata hitam pekat.

Bayangan itu menggerakkan bibirnya, berkata tanpa suara. Tapi Dimas bisa membaca jelas:

“Sebentar lagi, aku keluar.”

Hilangnya Kendali

Hari-hari berikutnya, Dimas makin tidak bisa membedakan mana suara dirinya, mana suara itu.

Saat ia menulis tugas, tangannya menuliskan kalimat-kalimat aneh tanpa sadar: “BUNUH MEREKA. PADAMKAN LAMPU. BIARKAN AKU KELUAR.”

Saat ia bercermin untuk sikat gigi, refleksinya tidak mengikuti gerakannya. Bayangan di cermin sering bergerak lebih dulu, atau tersenyum saat Dimas tidak tersenyum.

Teman kos mulai curiga. “Dim, lo pucet banget. Sakit ya?”

Dimas hanya mengangguk. Ia tidak bisa menjelaskan.

Dalam kepalanya, suara itu semakin kuat.

“Matikan lampunya, Dimas. Gelap itu rumahku. Kalau kau padamkan, aku bisa keluar sepenuhnya.”

Puncak Ketegangan

Malam ketiga, Dimas sudah di ambang gila. Ia tidak berani tidur. Lampu kamarnya menyala terang, tapi bohlam terus berkelip, seolah hampir putus.

Ia duduk di pojok kamar, memeluk lutut, ponsel rusak masih di sampingnya. Meski rusak, ponsel itu kadang bergetar sendiri, layarnya berkedip menampilkan nomor: 000-000-0000.

Tiba-tiba, suara itu terdengar lebih jelas dari sebelumnya. Tidak lagi hanya di kepala. Suara itu kini terdengar langsung di telinganya, basah, dingin, membuat bulu kuduk berdiri.

“Padamkan lampunya, Dimas. Biarkan aku menatapmu dalam gelap.”

Dimas menjerit sekencang-kencangnya, sampai seluruh kosan terbangun.

Namun ketika teman-teman kos mendobrak pintunya, kamar Dimas kosong. Hanya lampu yang berkedip-kedip, dan di meja belajar ada cermin kecil dengan tulisan di permukaannya:

“TERIMA KASIH, DIMAS. SEKARANG AKU BEBAS.”

Dimas entah ke mana. Tidak ada yang menemukannya malam itu.

Namun beberapa teman kos bersumpah mendengar suara lirih lewat telepon mereka masing-masing, padahal nomor tidak dikenali.

Isi pesannya sama persis:

“Jangan matikan lampunya…”

Keesokan harinya, kosan Dimas geger. Teman-temannya melapor ke pemilik kos bahwa Dimas hilang tanpa jejak. Polisi dipanggil, namun tidak ada tanda-tanda perlawanan atau jejak keluar. Semua barang Dimas masih utuh: tas, buku kuliah, bahkan dompetnya.

Hanya satu hal yang aneh: ponsel rusak di lantai kamar masih menyala. Layarnya berkedip-kedip, menampilkan nomor: 000-000-0000.

Salah seorang polisi mencoba mengambilnya. Saat ia menyentuh ponsel itu, layar langsung menampilkan wajah—wajah samar perempuan dengan senyum lebar, gigi hitam, mata kosong.

Polisi itu terkejut, menjatuhkan ponsel. “Apa-apaan ini?”

Namun saat orang lain melihat, layar hanya kosong, retak biasa.

Teman yang Terhubung

Reza, teman dekat Dimas di kosan, tidak bisa tidur malam itu. Ia merasa bersalah karena sehari sebelumnya ia sempat mengabaikan Dimas yang terlihat murung.

Sekitar pukul 00.00, ponselnya bergetar. Nomor asing muncul: 000-000-0000.

Reza membeku. Ia tahu nomor ini sama dengan yang disebutkan teman-teman tentang kasus Dimas.

Dengan rasa takut bercampur penasaran, ia angkat.

“H-Halo?”

Suara perempuan lirih menjawab, sama seperti yang pernah Dimas ceritakan.

“Jangan matikan lampunya…”

Reza langsung mematikan panggilan. Tapi beberapa detik kemudian, layar ponselnya hidup sendiri. Video call. Nomor sama.

Ia ragu. Dengan tangan gemetar, ia terpaksa menekan tombol hijau.

Video Call Teror

Di layar ponsel, ia melihat kamarnya sendiri. Posisi kamera seolah diletakkan di sudut langit-langit kamar, padahal ia tidak menaruh kamera di sana.

Reza menelan ludah. “Apa-apaan ini…”

Lalu, di pojok kamar yang gelap, muncul siluet bayangan hitam. Tubuhnya kurus, kepalanya miring, senyumnya lebar tidak wajar.

Bayangan itu perlahan mendekat ke arah layar. Setiap langkah terdengar jelas, seolah berasal dari dalam kamar Reza sendiri.

Reza menoleh cepat ke sudut kamar aslinya. Kosong. Tapi di layar, bayangan itu sudah semakin dekat.

“Aku akan keluar dari sini…” suara perempuan itu berbisik, kini bukan hanya di ponsel, tapi juga di telinganya langsung.

Bayangan Menembus Layar

Tiba-tiba, layar ponselnya bergetar keras, bergaris-garis, seperti hendak pecah. Dari dalam layar, jari-jari hitam kurus menembus kaca ponsel.

Reza menjerit, melempar ponsel ke lantai. Tapi tangan itu semakin keluar—lengan panjang, kuku tajam, hitam pekat.

Ponselnya kini seperti portal, dan makhluk itu berusaha keluar sepenuhnya.

Reza berlari ke pintu kamar, mencoba membuka, tapi entah kenapa kuncinya macet. Ia menendang, memukul, tapi pintu tidak bergerak.

Saat ia menoleh, makhluk itu sudah setengah keluar. Wajahnya rata, tanpa mata, hanya senyum yang membelah wajah sampai telinga.

“Lampu… matikan lampunya…” bisiknya lagi.

Pertolongan yang Terlambat

Reza menjerit sampai teman kos lain mendengar. Mereka berlari menghampiri kamar Reza, mengetuk pintu keras-keras.

“Reza! Buka pintunya!”

Namun dari dalam kamar, hanya terdengar suara jeritan dan suara benda pecah.

Ketika pintu berhasil didobrak, kamar kosong.

Hanya ponsel Reza yang tergeletak di lantai. Layar menyala, menunjukkan video call.

Di layar, terlihat kamar kos Reza dari sudut langit-langit. Tapi kali ini, ada sosok Reza sendiri di dalamnya—berdiri diam di pojok, matanya hitam, tersenyum lebar.

Penyebaran Teror

Setelah kejadian itu, satu per satu penghuni kos mulai menerima panggilan dari nomor yang sama. 000-000-0000.

Ada yang mengabaikan, tapi mereka kemudian bermimpi buruk setiap malam: mimpi tentang bayangan hitam yang mendekat, berbisik kata yang sama.

Ada pula yang mengangkat, dan tidak pernah terlihat lagi keesokan harinya.

Pemilik kos ketakutan, memutuskan menutup kos itu. Tapi teror tidak berhenti. Mahasiswa lain yang pernah berinteraksi dengan Dimas atau Reza juga mulai menerima panggilan yang sama.

Seakan nomor itu menyebar, mencari korban baru.

Akhir yang Menggantung

Suatu malam, seorang mahasiswa bernama Tika—yang tidak kenal dekat dengan Dimas atau Reza—tiba-tiba menerima telepon dari nomor aneh itu.

Ia mengangkat dengan santai, berpikir hanya prank.

“Halo?”

Sunyi. Hanya suara napas berat.

Lalu suara perempuan itu berbisik lembut, hampir seperti bernyanyi:

“Sekarang giliranku keluar darimu…”

Tika menoleh ke cermin di kamarnya, dan ia melihat bayangan dirinya… tersenyum lebar, padahal wajah aslinya tidak.

Bayangan itu kini tidak lagi hanya di kamar Dimas, tidak hanya di layar ponsel. Ia sudah mulai keluar, satu per satu, melalui siapa saja yang terhubung dengan panggilan misterius itu.

Telepon tengah malam kini bukan sekadar mitos di kos itu. Ia sudah menjadi kutukan yang menular.

Tiga hari setelah hilangnya Reza, kos itu benar-benar ditutup. Para penghuni dipaksa pindah. Namun berita tentang “telepon tengah malam” sudah menyebar luas.

Di grup chat mahasiswa, forum kampus, bahkan media lokal—semua membicarakan hal yang sama: nomor aneh 000-000-0000 yang menelepon tepat pukul 12 malam.

Beberapa menganggap hoaks. Beberapa penasaran mencoba-coba menunggu telepon itu. Dan sebagian kecil benar-benar menerimanya… lalu hilang.

Tika adalah salah satunya. Sejak ia mengangkat panggilan itu, bayangan dalam cermin selalu tersenyum saat ia bercermin. Ia mencoba mengabaikan, tapi makin lama, bayangan itu bergerak sendiri.

Ia tahu, waktunya hampir habis.

Percobaan Melawan

Putus asa, Tika mencari informasi. Ia mendatangi seorang dosen senior di kampus, Bu Ratna, yang dikenal percaya pada hal-hal gaib.

“Bu… saya terus-terusan diganggu sejak dapat telepon itu. Nomor aneh, tengah malam. Saya takut, Bu. Saya lihat bayangan diri saya berbeda di cermin.”

Bu Ratna menatapnya serius. “Kau sudah menerima panggilan itu?”

Tika mengangguk.

Wajah Bu Ratna berubah pucat. “Astaga… kalau begitu, kau sudah ditandai. Aku pernah dengar cerita ini, puluhan tahun lalu. Nomor itu bukan nomor biasa. Itu semacam pintu. Telepon yang membiarkan sesuatu dari dunia lain masuk ke kita.”

Tika gemetar. “Lalu bagaimana saya menghentikannya?”

“Tidak ada yang benar-benar bisa menghentikan. Tapi… ada cara memperlambat. Jangan pernah biarkan lampu kamar padam. Jangan biarkan ia memiliki ruang gelap. Karena di sanalah ia bisa benar-benar keluar.”

Kata-kata itu mengingatkannya pada bisikan yang selalu ia dengar: “Jangan matikan lampunya…”.

Malam yang Panjang

Malam itu, Tika menyalakan semua lampu di rumah kos barunya. Kamar, kamar mandi, bahkan lampu meja belajar.

Tepat pukul 00.00, ponselnya bergetar. Nomor itu lagi: 000-000-0000.

Tika menggigil. Ia ingin membuang ponsel itu, tapi tangannya seolah terkunci. Ia tidak bisa tidak menjawab.

Perlahan, ia tekan tombol hijau.

“Halo…” suaranya nyaris berbisik.

Sunyi beberapa detik. Lalu suara perempuan itu terdengar, kali ini lebih jelas dari sebelumnya, serak, berat, namun memikat.

“Malam ini… malam terakhir, Tika. Aku butuh tubuhmu. Matikan lampunya, maka aku bisa keluar sepenuhnya.”

Tika bergetar. “Tidak! Aku tidak akan matikan lampu! Pergi kau!”

Suara itu tertawa kecil, dingin.

“Kalau begitu… biar aku yang mematikan untukmu.”

Lampu-lampu Padam

Tiba-tiba, lampu kamar Tika berkedip. Bohlam mendesis, lalu meletup, pecah. Gelap menelan ruangan.

Tika menjerit, berlari ke saklar untuk menyalakan lampu cadangan. Tapi setiap lampu yang ia tekan, selalu padam lagi. Seolah ada sesuatu yang lebih kuat mematikan semua sumber cahaya.

Ponselnya kini menyala terang, menampilkan video call. Di layar, ia melihat dirinya sendiri, berdiri di kamar gelap.

Tapi bayangan dalam layar tersenyum… sementara ia sendiri menangis ketakutan.

Keluar dari Layar

Dari dalam layar, jari-jari kurus itu muncul. Sama seperti yang menimpa Reza. Perlahan, tangan hitam itu keluar, meraih udara, lalu wajah itu ikut keluar—datar, tanpa mata, senyum lebar sampai telinga.

Tika mundur, menabrak dinding. Tangannya mencari-cari sesuatu untuk melawan.

Makhluk itu kini separuh tubuh keluar, merangkak dari ponsel seperti keluar dari sumur kegelapan.

“Ini tubuhku sekarang…” bisiknya.

Keputusan Terakhir

Tika menatap sekeliling, panik. Lalu matanya jatuh pada cermin besar di meja rias. Bayangan dirinya di sana… masih tersenyum, seakan menunggu.

Dengan nekat, Tika mengambil cermin itu dan melemparkannya ke lantai hingga pecah berkeping-keping.

Namun justru dari pecahan-pecahan cermin itu, wajah makhluk itu juga muncul. Dari setiap keping, ada mata hitam menatapnya, ada senyum menganga.

Ruangannya kini penuh pantulan senyum.

Tika menjerit histeris.

Twist: Kebenaran Nomor Itu

Di tengah kekacauan, suaranya kembali terdengar, kali ini lebih jelas, hampir seperti berbisik di telinganya.

“Tahukah kau, Tika… nomor ini bukan nomor telepon biasa. Ini adalah pintu. Nomor itu dulu dipakai seseorang untuk berkomunikasi dengan arwah. Namun pintu yang dibuka tidak pernah bisa ditutup. Dan setiap yang menjawab, akan jadi pintu baru.”

Tika terdiam, tubuhnya membeku.

“Sekarang giliranmu. Kau akan jadi pintu untuk yang lain. Dan saat orang lain menerima panggilan darimu… aku akan terus hidup.”

Akhir Malam

Jeritan terakhir Tika menggema di seluruh kos. Pagi harinya, ia tidak ditemukan di kamarnya. Hanya ponsel yang tergeletak di lantai, retak, tapi tetap menyala.

Layar ponsel menampilkan satu pesan sederhana:

“Jangan matikan lampunya.”

Dan nomor pengirimnya: Tika.

Nomornya kini sudah menjadi bagian dari rangkaian kutukan itu. Siapapun yang menerima telepon dari Tika, akan menjadi korban berikutnya.

Epilog

Beberapa hari kemudian, seorang mahasiswa baru bernama Arif menerima panggilan di tengah malam. Nomor itu tertera dengan nama Tika.

Penasaran, ia mengangkat.

“Halo?”

Sunyi. Lalu terdengar suara lirih, kali ini berbeda. Suara Tika sendiri, tapi serak dan putus-putus.

“Jangan… angkat… telepon ini…”

Klik. Telepon terputus.

Arif bingung, menatap ponselnya. Namun sebelum ia sempat berpikir, layar menyala lagi. Nomor sama.

000-000-0000.

Kutukan nomor itu tidak berakhir dengan hilangnya Dimas, Reza, atau Tika. Justru semakin menyebar. Nomor itu kini mencari korban baru, lewat siapa saja yang nekat menjawab panggilan tengah malam.

Dan jika suatu saat ponselmu berdering tepat pukul 00.00, menampilkan nomor asing dengan deretan angka kosong…
Ingat satu hal:

Jangan pernah mengangkatnya.



CTA

👻 Series Telepon Tengah Malam berakhir di sini.
Tapi siapa tahu, mungkin nomor itu suatu hari juga akan menghubungimu…
Ikuti terus update cerpen horor terbaru di blog ini, dan jangan lupa subscribe newsletter agar tidak ketinggalan kisah seram berikutnya!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar