Jumat, 19 September 2025

Cerpen Suara Pa’gellu’ di Malam Bulan Purnama

 


Suara Pa’gellu’ di Malam Bulan Purnama

Penulis: Risti Windri Pabendan

Bulan purnama menggantung megah di langit Toraja, cahayanya menumpahkan kilau perak ke atas sawah yang menghampar, pepohonan yang tegak, hingga atap-atap tongkonan yang berderet anggun. Malam itu, suasana di kampung Batu Karopi berbeda dari biasanya. Orang-orang berkumpul di lapangan besar, lampu-lampu minyak menyala di sekeliling, dan suara gendang perlahan mulai dipukul, memberi tanda akan dimulainya tarian yang dinanti: Pa’gellu’.

Di antara kerumunan, seorang gadis remaja bernama Nira duduk di samping ibunya. Matanya berbinar, tak sabar menunggu momen yang sudah ia nantikan sejak lama. Pa’gellu’ bukan hanya tarian baginya, melainkan panggilan hati. Sejak kecil, ia sudah menirukan gerakan para penari, membayangkan dirinya menari di bawah cahaya bulan sambil mengenakan sarung Toraja yang indah.

Namun, malam itu bukan sekadar pementasan tarian biasa. Di balik gegap gempita, ada sesuatu yang lebih dalam: dua keluarga besar yang berselisih akan duduk bersama, menyaksikan tarian ini. Orang-orang berharap, suara gendang, lantunan gong, dan gerakan penari bisa meleburkan kemarahan yang selama ini membeku.

Nira tahu betapa berat dendam yang diwariskan itu. Keluarga ayahnya, Dalle, sudah lama berselisih dengan keluarga Pong Rura karena perebutan tanah warisan. Pertengkaran yang berlangsung bertahun-tahun itu telah merenggangkan hubungan dua tongkonan besar di kampung. Bahkan, orang-orang muda dari kedua pihak sering saling menatap tajam bila berpapasan di jalan. Nira sering mendengar bisikan orang dewasa, “Kalau saja leluhur mereka masih hidup, tentu mereka malu melihat cucunya saling bermusuhan.”

Namun, malam ini ada harapan. Tetua adat bersepakat, Pa’gellu’ akan dipentaskan tepat di bawah bulan purnama, sebagai simbol penyatuan kembali. Nira, yang terpilih menjadi salah satu penari muda, merasakan beban sekaligus kebanggaan. Ia tahu, langkah kakinya bukan sekadar gerakan, melainkan doa yang mengalir lewat tubuhnya.

Ketika suara gendang mulai cepat, Nira dan teman-temannya melangkah ke tengah lapangan. Mereka memakai sarung Toraja berwarna merah dengan motif khas, tubuh mereka disampirkan selendang emas, dan kepala dihiasi hiasan bunga kertas. Nira berdiri di depan, wajahnya tenang meski jantungnya berdegup kencang. Ia merasakan tatapan banyak orang—tetua adat, orang tua, pemuda, bahkan anak-anak—semua mata tertuju pada mereka.

Gendang dipukul makin keras, suara gong berdentum, dan suara suling mengalun mengiris malam. Nira mengangkat kedua tangannya, jari-jarinya lentik, tubuhnya berayun dengan ritme yang lembut. Pa’gellu’ bukan tarian yang penuh teriakan, tapi gerakan halus yang sarat makna. Setiap ayunan tangan, setiap langkah kaki, adalah simbol penghormatan, syukur, dan kebersamaan.

Di sisi lapangan, Dalle dan Pong Rura duduk berseberangan. Keduanya sama-sama menatap panggung dengan wajah kaku. Tak ada sapaan, tak ada senyum. Namun, tatapan mereka sesekali bertemu, lalu cepat-cepat dialihkan. Orang-orang berdesir resah, takut jika suasana kembali tegang. Tapi suara gendang dan gong menekan kegelisahan itu, mengikat semua perhatian pada gerakan para penari.

Nira menari dengan sepenuh hati. Dalam benaknya, ia teringat pesan neneknya sebelum ia tampil. “Nak, ketika kau menari Pa’gellu’, jangan hanya menari dengan kaki dan tanganmu. Menarilah dengan hatimu. Biarkan hatimu berbicara lewat gerakanmu, biarkan leluhurmu mendengar.”

Kata-kata itu membuat Nira menahan air mata. Ia tahu, malam ini bukan hanya malam pertunjukan, tapi juga malam doa. Doa agar keluarganya dan keluarga Pong Rura mau berdamai.

Tiba-tiba, angin malam bertiup lembut. Bunga kertas di kepala Nira bergoyang. Ia merasa seolah bulan purnama menyorotinya lebih terang. Dalam gerakan tertentu, ketika ia mengangkat tangannya ke arah langit, cahaya bulan menyentuh wajahnya, membuatnya tampak bersinar. Orang-orang yang menonton menahan napas. Beberapa tetua berbisik, “Lihatlah, itu pertanda baik. Leluhur merestui tarian malam ini.”

Suara gendang makin cepat, tubuh para penari bergerak lebih dinamis. Langkah kaki menghentak tanah, selendang berayun di udara. Anak-anak bersorak kecil, terpesona melihat keindahan itu. Dan di bangku kehormatan, Dalle tanpa sadar ikut mengetuk kakinya mengikuti irama. Pong Rura melihatnya sekilas, hatinya berdesir. Ia tahu betul, dulu ketika masih muda, ia dan Dalle sering menari bersama dalam pesta adat. Ingatan itu menohoknya, menyingkap luka lama yang tertutup amarah.

Nira terus menari, matanya menyapu kerumunan. Ia melihat ayahnya dan Pong Rura, duduk kaku seperti dua batu besar. Hatinya berdoa keras, “Ya Leluhur, jika tarian ini benar sakral, lembutkanlah hati mereka.”

Ketika tarian mencapai puncaknya, gendang berhenti sejenak. Hening. Para penari berdiri tegak, tangan terangkat. Dalam diam itu, hanya suara jangkrik dan desir angin yang terdengar. Bulan purnama menggantung semakin terang, seakan mendengar doa semua orang.

Lalu, gendang dipukul kembali, kali ini lebih pelan, seperti suara jantung yang tenang. Para penari bergerak perlahan, menutup tarian dengan gerakan melingkar, tangan mereka seolah merangkul udara. Nira menundukkan kepala, menutup tarian dengan penuh kesungguhan.

Tepuk tangan pecah. Orang-orang bersorak, wajah mereka berseri. Beberapa meneteskan air mata tanpa sadar. Mereka tidak hanya menyaksikan tarian, tapi merasakan sesuatu yang lebih dalam: getaran persatuan yang lama hilang.

Namun, yang paling ditunggu adalah reaksi Dalle dan Pong Rura. Semua mata kini beralih kepada mereka. Dalle menghela napas panjang, menatap Pong Rura. Untuk sesaat, waktu seolah berhenti. Pong Rura mengangkat wajah, tatapan mereka bertemu. Tidak ada kata-kata, tapi dalam sorot mata itu ada luka, ada kenangan, dan ada kerinduan.

Nira yang masih berdiri di tengah lapangan, melihat momen itu. Ia tahu, tarian Pa’gellu’ belum sepenuhnya selesai. Karena tarian itu bukan hanya tentang gerakan tubuh, tapi tentang menyatukan hati.

Hening setelah tarian Pa’gellu’ usai terasa begitu menekan. Orang-orang menunggu, berharap ada sesuatu yang lebih dari sekadar pertunjukan malam itu. Dalle dan Pong Rura masih duduk di kursi kehormatan, sorot mata mereka bertemu, lalu berpaling lagi. Tidak ada kata yang terucap.

Tetua adat, Pong Nene, berdiri. Suaranya serak tapi tegas. “Kita sudah menyaksikan Pa’gellu’ malam ini. Leluhur sudah diberi hormat, doa sudah dihaturkan lewat gerakan. Sekarang tergantung kita, apakah kita mau mengikuti suara itu atau tetap menutup hati.”

Kerumunan berdesir. Orang-orang tahu, kata-kata itu jelas diarahkan pada Dalle dan Pong Rura. Dua keluarga yang dulu akrab, kini renggang karena warisan tanah yang dianggap tak adil.

Nira menunduk, hatinya berdebar. Ia ingin sekali mendengar ayahnya berbicara, atau Pong Rura berdiri, saling berjabat tangan. Tapi yang terdengar hanya suara jangkrik dan desir angin.

Tiba-tiba, seorang pemuda dari pihak Pong Rura berdiri. Namanya Lemba, cucu tertua Pong Rura. Wajahnya keras, suaranya lantang. “Tetua, dengan segala hormat, tarian itu indah. Tapi dendam keluarga kami tidak bisa diselesaikan hanya dengan tarian. Tanah itu tetap milik kami. Dalle dan keluarganya yang merampasnya!”

Kerumunan bergemuruh. Orang-orang saling berbisik, beberapa menarik napas panjang. Nira terkejut, ia tahu Lemba sering vokal, tapi ia tidak menyangka pemuda itu berani mengucapkannya di depan semua orang.

Dalle berdiri perlahan. Suaranya dalam, ditahan agar tidak bergetar. “Tanah itu warisan leluhur saya. Saya tidak pernah merampas. Justru kakekmu yang dulu mengubah batas tanah demi keuntungan.”

Wajah Pong Rura memerah. Ia bangkit, matanya berkilat. “Cukup, Dalle! Jangan kau lemparkan kesalahan itu pada ayahku. Kau tahu betul siapa yang serakah.”

Suasana berubah tegang. Orang-orang mulai khawatir, takut keributan pecah malam itu juga. Beberapa pemuda dari masing-masing pihak sudah bergerak, menatap satu sama lain dengan penuh amarah.

Nira ingin berteriak, ingin menghentikan semuanya, tapi suaranya tercekat. Ia hanya bisa menggenggam selendang yang masih tergantung di lehernya, berdoa dalam hati agar malam itu tidak berubah menjadi malapetaka.

Tetua Pong Nene mengangkat tangan, suaranya menggelegar. “Diam semua! Jangan rusak malam yang sakral ini!”

Hening kembali turun. Tapi hening yang dipenuhi ketegangan, seperti bara yang siap meledak kapan saja.

Dalle menatap Pong Rura. “Kita sudah terlalu lama hidup dalam dendam. Anak-anak kita tumbuh dengan kebencian. Apa kau tidak lelah, Rura?”

Pong Rura terdiam sesaat. Wajahnya berubah, dari marah menjadi bimbang. Tapi sebelum ia bisa menjawab, Lemba maju selangkah, suaranya menusuk. “Kalau ayahmu lelah, aku tidak! Selama aku hidup, tanah itu tidak akan kembali ke keluarga Dalle!”

Ucapan itu menyalakan bara. Dari pihak Dalle, seorang pemuda lain, Malla, langsung berdiri. “Kalau begitu, jangan salahkan kami kalau kami mengambilnya dengan cara kami sendiri!”

Keributan hampir pecah. Orang-orang bersuara keras, sebagian mencoba menenangkan, sebagian terbawa emosi. Gendang yang tadi hening, dipukul lagi oleh salah satu penabuh, kali ini dengan pukulan cepat, seolah ingin meredakan suasana lewat bunyi. Tapi bukannya mereda, suara gendang justru terdengar seperti peringatan keras.

Nira tidak tahan lagi. Ia maju ke tengah lapangan, berdiri di antara Dalle, Pong Rura, dan dua kelompok pemuda yang siap bentrok. Wajahnya pucat, tapi matanya teguh.

“Berhenti!” teriaknya.

Semua terdiam. Mata mereka kini tertuju pada gadis muda itu.

Nira mengangkat selendangnya tinggi-tinggi. “Apakah kalian tidak lihat? Leluhur kita menyaksikan kita malam ini. Mereka tidak hanya menonton tarian, tapi hati kita! Kalian mau mempermalukan mereka?!”

Suasana sunyi, hanya suara napas yang berat. Nira melangkah mendekati ayahnya. “Ayah, aku menari bukan hanya untuk diriku. Aku menari untukmu, untuk keluarga kita. Jangan biarkan gerakan itu sia-sia.”

Lalu ia menoleh pada Pong Rura. “Pong Rura, aku tahu aku hanya seorang anak. Tapi aku juga tahu, dulu Ayah dan kau pernah menari bersama. Apakah kalian lupa bagaimana rasanya bersaudara?”

Mata Pong Rura berkaca-kaca. Kenangan lama membanjir dalam benaknya: malam-malam muda ketika ia dan Dalle berdiri di satu lingkaran, tertawa, menari, mengangkat tangan bersama dalam Pa’gellu’. Kenangan itu terasa jauh, tapi masih hidup di sudut hatinya.

Tetua Pong Nene kembali bersuara. “Kalian lihat, bahkan anak-anak kita lebih bijak daripada kita sendiri. Apakah kita harus terus mewariskan kebencian?”

Gendang dipukul sekali, keras. Gong berdentum, panjang dan berat. Seolah bumi ikut bicara.

Dalle menghela napas panjang. Ia menoleh pada Pong Rura, matanya lembut. “Aku... aku lelah, Rura. Aku tidak ingin cucuku nanti masih mendengar cerita kebencian ini. Kalau kau mau, mari kita bicara lagi. Mari kita cari jalan damai.”

Pong Rura terdiam. Semua mata menatapnya, menunggu. Lemba menatap kakeknya penuh harap agar tidak menyerah. Tapi hati Pong Rura bergejolak. Ia melihat wajah Nira, gadis muda yang begitu berani berdiri di tengah bara. Ia merasa malu sekaligus tersentuh.

Perlahan, ia berkata, suaranya berat, “Baiklah, Dalle. Kalau memang ada jalan damai, aku akan mencobanya. Tapi bukan malam ini. Aku butuh waktu.”

Itu sudah cukup. Orang-orang menarik napas lega. Ketegangan sedikit mencair, meski bara masih tersisa.

Nira menunduk, air matanya jatuh tanpa sadar. Ia tahu ini baru awal, belum ada penyelesaian. Tapi setidaknya malam itu, pertumpahan darah bisa dicegah. Pa’gellu’ belum sepenuhnya menyatukan, tapi sudah membuka pintu.

Malam itu berakhir tanpa darah, tapi bara masih tersisa. Orang-orang pulang dengan wajah campur aduk: lega karena bentrokan terhindar, tapi juga khawatir karena dendam lama belum sepenuhnya padam. Lapangan perlahan kosong, hanya tersisa suara jangkrik, gong yang sudah terdiam, dan bulan purnama yang tetap memantulkan cahayanya.

Nira duduk sendirian di tengah lapangan. Kakinya terasa lelah setelah menari, tapi hatinya lebih lelah lagi menanggung beratnya peristiwa tadi. Ia memandang langit, berbisik lirih, “Leluhur, apakah aku sudah melakukan yang benar?”

Ayahnya, Dalle, menghampiri. Wajahnya tampak penat, matanya merah. Ia duduk di samping putrinya, menghela napas panjang. “Kau lebih berani dari siapapun malam ini, Nira. Ayah bangga.”

Nira menoleh, matanya berkaca-kaca. “Tapi semuanya belum selesai, Yah. Pong Rura masih marah. Lemba juga... aku takut mereka akan menyerang lagi.”

Dalle menatap tanah. “Aku juga takut, Nak. Tapi aku melihat sesuatu malam ini—sesuatu yang sudah lama hilang. Aku melihat kerinduan di mata Pong Rura. Itu pertanda, hatinya belum sepenuhnya tertutup.”

Keesokan harinya, kabar kejadian malam itu menyebar cepat. Ada yang menganggap Nira penyelamat, ada juga yang mengejeknya karena ikut campur urusan orang dewasa. Tapi Nira tidak peduli. Ia hanya tahu satu hal: Pa’gellu’ malam itu sudah membuka celah damai, meski kecil.

Hari-hari berikutnya, ketegangan masih terasa. Pemuda dari dua pihak sering saling tatap dengan wajah keras. Namun, tidak ada yang berani memulai pertikaian, karena semua tahu, tatapan leluhur masih terasa kuat setelah malam purnama itu.

Suatu sore, ketika Nira sedang berlatih tarian Pa’gellu’ seorang diri di halaman tongkonan, Lemba muncul. Pemuda itu berdiri dengan tangan bersedekap, wajahnya tajam.

“Aku tidak mengerti kenapa kau ikut campur,” katanya dingin. “Itu urusan orang tua kami, bukan urusanmu.”

Nira menghentikan gerakannya. “Kalau aku tidak ikut campur malam itu, mungkin sekarang kau sudah saling tikam dengan Malla.”

Lemba terdiam. Ucapannya menusuk hatinya, tapi ia enggan mengakuinya. “Kau pikir tarian itu bisa menyelesaikan semuanya? Kau naif.”

Nira menatapnya tajam. “Aku tidak naif. Aku percaya tarian ini bukan sekadar gerakan. Ini doa, Lemba. Kalau kau tidak percaya, itu karena hatimu tertutup oleh amarah.”

Pemuda itu mengepalkan tangan. Tapi kemudian ia menghela napas panjang, berbalik, dan pergi tanpa berkata-kata.

Hari demi hari, kabut kebencian perlahan mulai menipis. Dalle dan Pong Rura akhirnya mau duduk bersama dalam pertemuan adat. Mereka belum sepakat soal tanah, tapi setidaknya mereka mau bicara. Itu sudah lebih jauh daripada bertahun-tahun sebelumnya.

Nira terus menari. Ia menari di sawah, di halaman rumah, di lapangan kosong. Setiap kali ia menari, ia membayangkan leluhur berdiri di belakangnya, mengangkat tangan bersama. Dan entah bagaimana, setiap kali ia selesai menari, hatinya lebih ringan.

Bulan berikutnya, pada malam purnama lagi, tetua adat memutuskan untuk kembali mengadakan Pa’gellu’. Tapi kali ini, mereka meminta sesuatu yang berbeda: bukan hanya gadis-gadis yang menari, melainkan juga para pemuda dari kedua pihak.

Kabar itu membuat heboh. Orang-orang heran, apakah mungkin pemuda yang masih menyimpan dendam bisa menari bersama?

Nira diam-diam berharap Lemba akan ikut. Dan harapannya terkabul. Pada malam itu, ia melihat Lemba berdiri di antara barisan penari, wajahnya kaku tapi matanya dalam.

Musik dimulai. Gendang berdentum, gong bergetar, suling melengking. Para penari bergerak serentak. Nira di depan, Lemba di sampingnya. Awalnya kaku, tapi perlahan gerakan mereka menyatu. Selendang berayun, tangan terangkat, kaki menghentak tanah dengan ritme yang sama.

Orang-orang menonton dengan mata berbinar. Mereka tidak hanya melihat tarian, tapi juga harapan.

Di tengah tarian, Nira melirik Lemba. Pemuda itu tampak menahan sesuatu di wajahnya. Dan ketika gerakan terakhir tiba—tangan terangkat ke langit, kepala menunduk—air mata jatuh di pipinya.

Setelah tarian selesai, hening melingkupi lapangan. Lalu terdengar tepuk tangan, sorak sorai, dan tangis yang pecah dari kerumunan.

Pong Rura berdiri, menatap Dalle. Kali ini, ia melangkah maju. Dengan tangan bergetar, ia meraih tangan sahabat lamanya itu.

“Cukup sudah, Dalle. Aku tidak ingin anak cucu kita hidup dalam dendam lagi.”

Dalle menatapnya lama, lalu mengangguk. Mereka berpelukan, tangis mereka pecah di depan semua orang.

Kerumunan bersorak. Beberapa orang menangis. Gong dipukul keras, gendang bergema. Malam itu, bulan purnama bersinar lebih terang dari biasanya.

Nira menutup matanya, merasakan air matanya sendiri mengalir. Ia tahu, Pa’gellu’ malam itu bukan hanya tarian. Itu doa yang dijawab.

Sejak malam itu, kampung Batu Karopi berubah. Perselisihan tanah masih ada, tapi tidak lagi dengan kebencian. Mereka duduk bersama, mencari solusi dengan tenang. Pemuda dari kedua pihak mulai bermain bola bersama di lapangan, anak-anak berlari tanpa takut melewati batas rumah.

Nira terus menari. Ia tahu, selama Pa’gellu’ masih dipentaskan di bawah bulan purnama, suara leluhur akan terus menjaga mereka.

Dan setiap kali gendang berdentum, setiap kali gong bergetar, ia berbisik dalam hati:

“Terima kasih, Leluhur. Kami telah kembali bersaudara.”


Tamat

Tidak ada komentar:

Posting Komentar