Senin, 15 September 2025

Jalan Pulang yang Tak Pernah Sama

 

Cerpen Horor: Jalan Pulang yang Tak Pernah Sama 

Penulis: Risti Windri Pabendan

Fajar, mahasiswa tingkat akhir, punya kebiasaan pulang larut malam dari kampus. Entah karena tugas, nongkrong dengan teman, atau sekadar mencari udara segar setelah seharian penat. Kosnya terletak di pinggiran kota, cukup jauh dari pusat keramaian. Biasanya ia memilih rute cepat—sebuah jalan lurus yang membelah area persawahan dan kebun kosong.

Teman-temannya sering memperingatkan, “Jangan lewat jalan itu kalau sudah lewat jam 11 malam. Banyak cerita aneh.”
Namun Fajar selalu menanggapinya dengan tawa. Baginya, itu hanya takhayul. Jalan itu memang sepi, tapi hemat waktu hampir 20 menit.

Malam Pertama

Malam itu pukul 11.30, Fajar baru saja keluar dari kampus. Jalanan kota sudah mulai lengang, hanya ada beberapa kendaraan lewat. Ia mengayuh motornya dengan santai, memilih jalur pintas favoritnya.

Awalnya semua terasa normal. Lampu motor menyorot jalan lurus, kiri-kanan gelap oleh sawah dan pohon bambu. Angin malam berhembus dingin, membawa bau tanah basah.

Namun, setelah sekitar 10 menit berkendara, Fajar merasa ada yang aneh. Jalan lurus yang biasanya berakhir di pertigaan dekat jembatan, kini terasa lebih panjang. Ia belum juga sampai, padahal harusnya sudah.

“Ah, mungkin aku nggak sadar ngebut terlalu pelan,” pikirnya. Ia menambah gas.

Tapi jalan itu seolah tak berujung. Bayangan pepohonan berganti, tapi pertigaan yang ia kenal tidak pernah muncul.

Suara Aneh

Di tengah keheningan, tiba-tiba Fajar mendengar sesuatu. Suara langkah kaki, samar, di belakang motor. Tap… tap… tap…

Ia menoleh sekilas. Jalan kosong. Tidak ada apa-apa selain kegelapan.
“Nggak mungkin… masa ada orang jalan kaki tengah malam di sini?” gumamnya.

Ia kembali fokus, namun suara itu terus mengikuti. Setiap kali ia mempercepat laju motor, suara langkah itu pun terdengar semakin cepat.

Jantungnya mulai berdegup kencang. Fajar mencoba meyakinkan diri: mungkin hanya ilusi karena suara mesin motornya bergema. Tapi hatinya berkata lain.

Pertigaan yang Tak Sama

Akhirnya ia melihat pertigaan. Tapi bukan pertigaan yang biasa. Kali ini jalan bercabang ke arah kanan, menuju hutan gelap yang belum pernah ia lihat sebelumnya.

“Eh, perasaan biasanya lurus aja…” Fajar mengerutkan dahi.

Ia menyalakan GPS di ponselnya, tapi sinyal hilang total. Peta hanya menampilkan layar kosong dengan tulisan “No Service”.

Fajar mulai panik. Ia memutuskan tetap lurus, berharap jalan akan kembali ke jalur yang ia kenal.

Namun semakin jauh, jalan terasa makin asing. Pohon bambu berganti menjadi pohon-pohon besar tua, rantingnya menjuntai rendah seperti tangan hendak meraih.

Penumpang Misterius

Lampu motor Fajar tiba-tiba meredup, lalu terang kembali. Dalam sepersekian detik itu, ia melihat sesuatu di spion.

Ada bayangan duduk di jok belakang motornya. Rambut panjang menutupi wajah, tubuhnya kurus dengan pakaian putih lusuh.

Fajar tersentak. Ia hampir kehilangan kendali dan oleng. Saat menoleh cepat ke belakang—kosong, tidak ada siapa-siapa. Tapi di spion, bayangan itu masih ada, tersenyum tipis meski wajahnya tak terlihat jelas.

“Bismillah…” Fajar berbisik, keringat dingin membasahi lehernya.

Ia menambah gas sekuat tenaga. Jalan lurus itu seolah tak habis-habis.

Fajar akhirnya berhenti di pinggir jalan, napasnya memburu. Ia mencoba menenangkan diri, tapi ketika ia menoleh ke arah sawah di samping jalan, matanya hampir keluar dari kepala.

Di sana, ratusan sosok berdiri diam di tengah sawah pucat, tak berkedip, menatapnya lurus. Mereka semua tersenyum dengan wajah yang sama seperti bayangan di spion tadi.

Fajar menjerit, namun suaranya hilang ditelan malam. Jalan pulang malam itu sudah berubah, dan ia tahu: ia tidak sedang berada di dunia yang sama lagi.

Jalan yang Tidak Berakhir

Fajar memelototi jalan di depannya. Napasnya terengah-engah, suara jantungnya berdetak keras sampai bisa ia dengar sendiri di telinga. Motor masih menyala, mesinnya bergetar pelan, namun semua terasa tidak nyata.

Sawah di kiri-kanan berubah seperti lautan bayangan. Sosok-sosok yang tadi berdiri di sana kini hilang, seolah ditelan kegelapan. Tapi perasaan diawasi tidak pernah hilang.

“Aku harus keluar dari sini…” Fajar menggenggam setang motor lebih erat. Tangannya berkeringat, nyaris licin. Ia putar gas dan mencoba ngebut.

Jalan itu lurus, lalu tiba-tiba muncul pertigaan lagi. Pertigaan yang sama persis seperti sebelumnya: cabang ke kanan menuju hutan gelap, dan cabang ke kiri ke arah ladang sunyi.

“Hah?!” Fajar terbelalak. “Baru saja aku lurus… kenapa balik ke sini lagi?”

Ia berhenti. Jalan terasa melingkar, menjeratnya ke titik yang sama.

Bayangan di Pertigaan

Fajar menyalakan senter ponsel, meski sinyal hilang total. Sorot cahaya tipis itu menyingkap sesuatu di ujung cabang jalan kanan: seorang perempuan berdiri di sana. Rambut panjang, baju putih lusuh, kepala sedikit tertunduk.

Fajar tercekat.
Perempuan itu mengangkat wajahnya perlahan. Wajah pucat dengan mata hitam pekat menatap lurus ke arahnya. Senyuman tipis menghiasi bibirnya—senyum yang sama dengan sosok di spion motor tadi.

“Jangan ke kanan…” bisikan lirih itu terdengar, entah dari mana. Bisa jadi dari perempuan itu, bisa jadi dari dalam kepalanya sendiri.

Fajar gemetar. Ia memutuskan mengambil jalan kiri.

Jalan Kiri yang Salah

Ban motor berderit pelan saat ia membelokkan setang. Jalan kiri ternyata lebih sempit, dipenuhi rerumputan liar. Pohon-pohon besar di kiri-kanan menjulang, menutup sebagian langit.

Udara semakin dingin, menusuk tulang. Fajar mengancingkan jaketnya rapat-rapat, tapi dingin itu terasa datang dari dalam, bukan luar.

Beberapa menit berlalu. Jalan ini pun terasa tidak berujung. Tidak ada rumah, tidak ada tanda-tanda kehidupan. Hanya suara jangkrik yang terdengar makin lama makin sumbang, seperti bukan suara serangga, melainkan jeritan kecil yang menyamar.

Lalu ia melihat sesuatu di tanah.

Sesuatu di Jalan

Lampu motor menyorot kain putih tergeletak di tengah jalan. Fajar memperlambat laju. Kain itu kotor, penuh lumpur dan darah kering.

Di atas kain itu… ada boneka rusak. Wajahnya retak, matanya hanya tinggal satu, tapi tersenyum.

Fajar hampir pingsan. Kenapa harus boneka? Ingatannya kembali pada cerita temannya tentang jalan angker ini: katanya, mereka yang tersesat di jalan ini akan melihat benda-benda milik korban sebelumnya.

“Aku… harus balik. Ini nggak bener.”

Ia hendak memutar balik motornya. Tapi saat menoleh ke belakang, jalan yang ia lewati sudah tidak ada. Hanya tembok bambu rapat, seperti hutan menutup rapat jalur keluar.

Pertemuan Pertama

Tiba-tiba terdengar suara tertawa kecil.
Cihihihihih…

Fajar membeku. Ia menoleh perlahan. Di bawah pohon beringin besar, seorang anak kecil berdiri. Bocah laki-laki, bajunya compang-camping, matanya kosong.

“Mas… mau pulang ya?” suaranya lirih, seperti bisikan angin.

Fajar tidak menjawab. Tubuhnya gemetar. Bocah itu mendekat, langkahnya lambat. Setiap kali ia maju, lampu motor Fajar meredup, hingga akhirnya hampir mati.

“Mas… jangan lewat sini. Mereka marah.”

Sebelum Fajar sempat bertanya, bocah itu lenyap begitu saja. Hilang tanpa suara, tanpa jejak.

Jalan yang Berulang

Fajar kembali memacu motor, kali ini tanpa tujuan. Hanya ingin keluar. Tapi semakin jauh ia melaju, semakin sering ia kembali ke pertigaan yang sama.

Kadang jalan kanan, kadang jalan kiri, kadang lurus—hasilnya sama. Ia selalu kembali ke titik awal.

Dan yang lebih menyeramkan, setiap kali ia kembali ke pertigaan, ada tambahan sosok baru yang berdiri di sana.

Pertama hanya perempuan berbaju putih.
Kali kedua ada bocah kecil di sampingnya.
Kali ketiga ada seorang lelaki tua dengan wajah penuh luka, tersenyum lebar.
Kali keempat, mereka semua berdiri berjejer, menatapnya bersamaan.

Fajar hampir gila. “Apa mau kalian?!” teriaknya, suaranya pecah di keheningan.

Mereka tidak menjawab. Hanya tersenyum, senyum yang sama, senyum yang membuat darah Fajar membeku.

Petunjuk Misterius

Saat putus asa, Fajar teringat pada sesuatu. Kakeknya pernah bercerita tentang jalan angker di desa lain: katanya, kalau tersesat, jangan pernah terus-menerus memilih jalur. Harus berhenti, turun, dan menancapkan sesuatu di tanah sebagai tanda “tolak bala”.

“Bisa jadi ini jalan yang sama…” Fajar bergumam. Ia merogoh kantong, hanya menemukan kunci motor cadangan dan pulpen.

Dengan tangan gemetar, ia turun dari motor. Ia menggambar simbol silang di tanah dengan pulpen itu, sambil komat-kamit membaca doa.

Udara tiba-tiba berubah lebih berat. Angin bertiup kencang, dedaunan berputar mengelilinginya. Sosok-sosok di pertigaan menoleh bersamaan.

“Keluar… kau tidak boleh keluar…” suara mereka bergema serempak, dalam, menyeramkan.

Kebenaran yang Menyeruak

Tanah di bawah kaki Fajar bergetar. Jalan mulai retak, seperti akan runtuh. Dari celah tanah, tangan-tangan pucat muncul, meraih pergelangan kakinya.

Fajar menjerit, menendang, berusaha melepaskan diri. Ia berlari ke motor, menyalakannya kembali, dan memacu gas sekuat tenaga.

Kali ini ia tidak peduli ke arah mana. Ia hanya ingin menjauh. Tapi semakin jauh ia melaju, semakin jelas ia sadar: ini bukan jalan di dunia nyata.

Langit di atas berubah merah gelap, bulan purnama tampak pecah, dan suara ribuan langkah kaki terdengar mengikuti dari belakang.

Fajar akhirnya berhenti lagi. Nafasnya nyaris habis, tubuhnya lelah. Ia memandang ke depan—dan hatinya langsung jatuh.

Jalan buntu. Di depannya hanya tebing curam, tanpa apa pun.

Saat ia menoleh ke belakang, pertigaan itu kembali ada. Dan kali ini, puluhan sosok berdiri di sana. Semuanya tersenyum, menatapnya.

Di tengah mereka, seorang perempuan maju satu langkah. Ia membuka mulutnya lebar-lebar, suaranya bergema memenuhi udara:

“Jalan pulangmu sudah tidak akan pernah sama lagi, Fajar…”

Fajar berdiri di tepi tebing curam. Di bawahnya hanya ada jurang tak berujung, kegelapan pekat yang terasa hidup. Dari sana terdengar bisikan samar, seperti ribuan orang berbisik serempak.

Ia menoleh. Pertigaan itu kembali ada, lebih dekat dari sebelumnya. Sosok-sosok yang berdiri di sana kini jumlahnya puluhan. Mereka semakin nyata: wajah pucat, mata kosong, bibir tersenyum lebar.

“Tidak mungkin… tidak mungkin aku bisa keluar dari sini…” Fajar bergetar, nyaris menangis.

Tiba-tiba, tanah di bawahnya bergetar lagi. Jurang itu seolah memanggil. Fajar menjerit dan berlari ke arah motor. Ia menyalakan mesin, namun suara mesinnya berubah aneh—bukan deruman motor, tapi seperti raungan binatang.

Motor itu berguncang, setang bergerak sendiri, seolah ada tangan tak kasatmata yang mencoba merebut kendali.

“LEPASKAN!” Fajar berteriak, berusaha menahan.

Dunia yang Berubah

Saat ia kembali ke jalan, Fajar menyadari sesuatu. Jalan itu sudah tidak sama.

Langit berubah merah kehitaman, seperti fajar terbalik. Bulan hancur di atas, pecahan-pecahan menggantung di udara seperti kaca. Pohon-pohon di pinggir jalan tumbuh terbalik, akarnya di atas, cabangnya menusuk ke tanah.

Suara jangkrik lenyap. Diganti suara teriakan lirih, seperti orang menahan sakit. Dari kejauhan, jalan lurus yang biasa ia kenal kini berbelok ke arah yang mustahil—melingkar ke atas, seperti spiral menuju langit.

Fajar berhenti. “Ini… bukan dunia yang sama.”

Sosok di Cermin

Ia merogoh ponsel. Layarnya berfungsi, tapi bukan menampilkan aplikasi. Layar itu kini seperti cermin, memperlihatkan wajahnya sendiri.

Namun di pantulan itu, wajahnya tidak sama. Matanya hitam pekat, mulutnya tersenyum lebar, giginya tajam.

Pantulan itu berkata dengan suara serak:
“Kau sudah milik kami, Fajar. Jangan lawan. Jalan pulangmu hanyalah jalan ke kami.”

Ponsel terlepas dari tangannya, jatuh pecah di tanah.

Orang-Orang di Jalan

Fajar mencoba mengabaikan semuanya dan memacu motor. Ia melewati jalan spiral itu. Angin bertiup kencang, membuat matanya pedih.

Di sepanjang jalan, ada orang-orang berdiri diam. Mereka seperti patung: tubuh pucat, baju compang-camping, wajah hancur sebagian. Tapi matanya bergerak, mengikuti Fajar lewat.

Beberapa di antaranya berbisik lirih:
“Jangan teruskan…”
“Kau tidak boleh di sini…”
“Berhenti…”

Namun semakin ia mempercepat motor, semakin keras mereka berteriak. Hingga akhirnya teriakan mereka menjadi pekikan bersamaan, membuat telinganya berdengung.

Dunia yang Terbalik Benar-benar Nyata

Jalan spiral itu berakhir di sebuah lapangan luas. Tapi lapangan itu aneh. Tanahnya bukan tanah, melainkan air hitam pekat yang bisa diinjak. Pohon-pohon tumbuh terbalik dari bawah ke atas, akar menjuntai ke bawah.

Di tengah lapangan, ada rumah tua berdiri terbalik—atapnya menancap ke tanah, pintu dan jendela menghadap ke langit merah.

Fajar menelan ludah. “Apa ini…?”

Rumah itu berderit, lalu dari dalam pintu yang menghadap ke langit, sesosok tubuh jatuh terbalik ke arah tanah. Tubuh perempuan berbaju putih, rambut panjang, wajah pucat. Ia mendarat dengan posisi tidak normal, kepala lebih dulu menghantam tanah, tapi tubuhnya tetap tegak, seolah gravitasi tidak berlaku.

Perempuan itu tersenyum. “Selamat datang, Fajar. Kami sudah lama menunggu.”

Perempuan Misterius

Fajar mundur, motor hampir jatuh. “Kamu siapa?! Kenapa aku di sini?!”

Perempuan itu berjalan mendekat, langkahnya tidak menyentuh tanah. Tubuhnya melayang, menoleh ke kiri-kanan dengan gerakan aneh.

“Aku penjaga jalan ini. Semua yang memilih pintas, semua yang menantang larangan, akhirnya akan sampai di sini.”

“Tidak! Aku cuma… aku cuma lewat. Aku nggak tahu apa-apa!”

“Ketidaktahuanmu tidak menyelamatkanmu. Jalan ini memangsa siapa saja yang sombong.”

Dunia Mulai Menelan

Lapangan itu bergetar lagi. Dari tanah air hitam, muncul tangan-tangan pucat yang meraih ke arah Fajar. Ia meloncat naik ke motor, memutar gas sekencangnya.

Motor melaju kencang melewati lapangan. Tapi rumah terbalik itu tiba-tiba muncul lagi di depannya. Ia berbelok, namun tetap kembali ke titik yang sama.

“Tidak mungkin! Aku muter balik, tapi selalu ke sini lagi!”

Perempuan itu tertawa kecil. “Karena ini dunia kami. Tidak ada keluar, kecuali kau menyerah.”

Cahaya Aneh

Saat hampir putus asa, Fajar melihat sesuatu. Di kejauhan, di balik rumah terbalik itu, ada cahaya kecil. Putih, terang, berbeda dengan warna merah gelap dunia ini.

“Cahaya itu… bisa jadi jalan keluar!” pikirnya.

Ia melajukan motor, menabrak apapun di depannya. Tangan-tangan pucat meraih, wajah-wajah pucat menatap, tapi ia abaikan. Suara teriakan, tawa, bisikan, semuanya bercampur jadi satu.

Cahaya itu semakin dekat. Tapi perempuan tadi tiba-tiba muncul tepat di depannya, menghalangi jalan. Wajahnya berubah mengerikan: mata hitam melebar, mulut sobek sampai ke telinga.

“Tidak ada pulang, Fajar.”

Fajar menutup mata, memutar gas sekuat tenaga. Motor menabrak tubuh perempuan itu. Tubuhnya pecah menjadi asap hitam, tapi suara tawanya tetap bergema.

Saat ia melewati cahaya itu, tubuhnya terasa ringan. Jalan berubah lagi. Suara teriakan hilang.

Namun saat ia membuka mata, ia mendapati sesuatu yang lebih menyeramkan. Ia kembali ke jalan semula—jalan pintas di dekat kampus. Tapi… semuanya terbalik.

Langit ada di bawah, tanah di atas. Gedung kampus tergantung di udara terbalik, orang-orang berjalan di langit dengan kepala di bawah.

“Tidak… ini bukan pulang. Ini dunia yang terbalik…”

Fajar menjerit.

Fajar berdiri kaku. Jalan pintas yang ia kenal kini terbalik sepenuhnya. Tanah yang biasa ia injak justru berada di atas, sedangkan langit merah pekat terhampar di bawah. Gedung kampus tergantung terbalik di udara, dan orang-orang berjalan di atas "langit" dengan posisi terbalik, kepala di bawah, kaki di atas.

Ia memejamkan mata, berharap ini mimpi buruk. Tapi setiap kali ia buka mata, pemandangan itu tetap sama. Bahkan semakin nyata: suara langkah orang-orang terbalik menggema, tapi tidak ada yang menoleh padanya. Mereka berjalan tanpa ekspresi, tanpa tujuan, seolah dikendalikan.

“Ini bukan dunia… ini neraka,” desis Fajar.

Bayangan Pertama

Saat ia hendak melangkah, ia menyadari sesuatu yang membuat darahnya membeku.

Bayangannya.

Bayangan tubuhnya jatuh ke arah atas—ke tanah yang tergantung di langit. Tapi bayangan itu bergerak lebih cepat dari dirinya. Saat ia melangkah ke kiri, bayangan di atas justru bergerak ke kanan.

Dan… bayangan itu tersenyum.

Mulut bayangan di atas kepalanya merekah lebar, meski Fajar sendiri tidak tersenyum. Gigi tajam terlihat jelas, seolah siap menggigit.

“Tidak mungkin…” Fajar bergumam. Ia melangkah mundur. Bayangan di atas melangkah maju, mendekat, wajahnya semakin jelas.

Jalan yang Hidup

Fajar panik, ia kembali naik ke motornya, memacu sekuat tenaga. Jalan di bawah roda motor bergoyang, seolah bernapas. Aspal berdenyut, muncul retakan yang menyerupai urat nadi.

Suara aneh terdengar dari jalan: bisikan dan tawa kecil, bercampur jadi satu.

Bayangan di atas ikut bergerak, berlari di tanah terbalik, mengikuti laju motornya. Senyum bayangan itu makin besar, matanya membesar, hingga wajahnya tampak seperti topeng mengerikan.

Rumah Terbalik

Setelah beberapa menit ngebut tanpa arah, Fajar melihat sesuatu. Sebuah rumah berdiri di pinggir jalan. Tapi rumah itu pun terbalik—atapnya menancap ke bawah, pintunya di atas.

Namun anehnya, di dalam rumah itu terlihat cahaya lampu normal, seperti rumah biasa. Fajar ragu, tapi firasatnya mengatakan rumah itu bisa jadi jalan keluar.

Ia berhenti, menatap pintu rumah di atas. Bagaimana cara masuknya?

Saat ia kebingungan, pintu rumah itu terbuka sendiri. Dari dalam, seorang perempuan muncul. Wajahnya biasa, ramah, tidak menyeramkan. Ia melambai.

“Masuklah, Fajar. Cepat. Sebelum bayanganmu mengambil alih.”

Pertemuan dengan Perempuan

Fajar ragu, tapi suara tawa bayangan semakin keras di atas. Ia akhirnya nekat. Ia memanjat ke arah pintu terbalik itu, seolah gravitasi berpindah, dan berhasil masuk.

Di dalam, rumah terasa normal. Lantai di bawah kakinya lurus, cahaya lampu kuning hangat menyala, dan aroma kayu memenuhi udara.

Perempuan itu duduk di kursi, wajahnya lembut. “Kau sudah melangkah terlalu jauh. Jalan ini tidak akan mengizinkanmu kembali.”

“Kenapa aku? Aku cuma mau pulang!” Fajar hampir menangis.

“Banyak yang ingin pulang. Tapi jalan ini memilih siapa yang pantas… dan siapa yang harus tinggal.”

Bayangan di Jendela

Perempuan itu menunjuk ke jendela. Fajar mendekat.

Di luar, bayangan Fajar terlihat di tanah terbalik. Bayangan itu kini bukan sekadar siluet. Wajahnya jelas, matanya merah, senyumannya melebar sampai telinga. Bayangan itu menempel di kaca, meski terbalik posisinya.

“Dia akan terus mengikutimu, Fajar,” bisik perempuan itu. “Sampai salah satu dari kalian lenyap.”

Bayangan itu menggerakkan bibirnya. Meski tanpa suara, Fajar bisa membaca kata-katanya:

“AKU = KAU”

Fajar mundur, ketakutan.

Perempuan yang Tidak Benar

“Siapa kau sebenarnya?” tanya Fajar pada perempuan itu.

Perempuan itu tersenyum samar. “Aku dulu juga seperti kamu. Tersesat di jalan ini, mencari pulang. Tapi akhirnya aku memilih tinggal.”

Wajahnya tiba-tiba berubah pucat. Matanya hitam, senyumnya lebar. “Dan kau… akan segera bergabung denganku.”

Fajar tersentak. Ia segera berlari ke pintu. Tapi begitu membuka pintu, ia tidak menemukan jalan keluar. Hanya kegelapan pekat.

Perempuan itu mendekat perlahan. “Tidak ada pulang. Tidak ada dunia. Hanya jalan ini, dan bayanganmu.”

Kejaran Bayangan

Tiba-tiba rumah itu berguncang keras. Jendela pecah, dan bayangan Fajar menerobos masuk, jatuh ke lantai.

Bayangan itu kini bukan lagi siluet. Ia memiliki tubuh yang sama persis seperti Fajar—tapi dengan senyum mengerikan.

“Sekarang… giliranmu untuk jadi bayangan,” katanya, suaranya serak tapi mirip suara Fajar sendiri.

Bayangan itu berlari mengejar. Fajar kabur, menendang pintu lain di rumah. Ia menemukan lorong panjang, sempit, gelap. Ia berlari secepat mungkin, suara langkah bayangan bergema di belakangnya.

Lorong itu seolah tidak berujung. Pintu-pintu di kiri-kanan berderet, masing-masing bergetar, seperti ada sesuatu di dalamnya yang ingin keluar.

Fajar mencoba membuka salah satu pintu. Di baliknya hanya ada tembok bata. Ia mencoba pintu lain. Sama. Semua pintu buntu.

Bayangan semakin dekat. Nafas Fajar habis, kakinya lelah. Ia terhuyung, hampir jatuh.

Tiba-tiba, dari ujung lorong, muncul cahaya putih kecil—sama seperti cahaya yang ia lihat di dunia sebelumnya.

Fajar menoleh sebentar. Bayangan sudah hampir meraih bahunya. Nafasnya bau busuk, senyumnya semakin lebar.

Fajar menjerit dan berlari sekuat tenaga menuju cahaya itu. Tapi sebelum ia bisa mencapainya, suara bayangan bergema tepat di telinganya:

“Kalau kau masuk ke cahaya itu… kau tidak akan pernah kembali jadi manusia.”

Cahaya yang Menggoda

Fajar berlari sekuat tenaga. Nafasnya nyaris habis, tenggorokannya perih. Di ujung lorong gelap, cahaya putih itu berdenyut, seperti detak jantung.

Bayangan di belakangnya makin dekat. Suara langkahnya menirukan langkah Fajar, tapi lebih keras, lebih berat, seakan ada ribuan kaki yang ikut mengejar.

“Kalau kau masuk ke cahaya itu… kau tidak akan pernah kembali jadi manusia,” suara bayangan bergema.

Fajar hampir pingsan. Tapi ia tahu, jika ia tetap di sini, bayangan itu akan menelannya. Pilihan cuma dua: mati di lorong ini, atau melompat ke cahaya yang entah membawa ke mana.

“Aku… harus coba,” gumam Fajar.

Melompati Cahaya

Ia berlari dan melompat masuk ke cahaya itu. Seketika tubuhnya terasa melayang, lalu ditarik jatuh sangat cepat.

Suara bisikan, tawa, jeritan, bercampur di telinganya. Dunia di sekelilingnya berputar. Ia menutup mata, hingga tiba-tiba—

Hening.

Kembali ke Dunia Nyata?

Fajar membuka mata perlahan. Ia terkejut.

Ia berdiri di jalan pintas dekat kampus. Jalan yang ia kenal. Sawah di kiri-kanan, lampu jalan redup, udara malam sejuk. Jam tangannya menunjukkan pukul 11.55 malam.

“Ya Tuhan… aku kembali,” Fajar hampir menangis lega. Ia meraba motornya—ada, normal, mesin dingin. Ponselnya pun ada di saku, sinyal penuh, jam digital sama dengan jam tangan.

Semua terasa nyata. Semua tampak normal.

Ia menyalakan motor dan melaju pelan. Hatinya masih berdebar, tapi ia bersyukur sudah keluar dari mimpi buruk itu.

Atau… ia pikir begitu.

Hal-Hal Kecil yang Aneh

Di pertigaan dekat jembatan, ia tersenyum lega. Akhirnya benar-benar jalan yang ia kenal. Tapi saat melewati, ia melihat sesuatu.

Seorang ibu tua berdiri di pinggir jalan, menatapnya. Wajahnya samar, tapi senyumnya lebar sekali.

Fajar mengerjap. Mungkin hanya orang lewat. Ia melajukan motor lebih cepat.

Namun beberapa menit kemudian, ia kembali melihat orang itu. Sama, berdiri di pinggir jalan, senyum lebar, mata kosong.

“Tidak… ini tidak mungkin,” Fajar mulai panik.

Sampai di Kos

Akhirnya, ia tiba di kos. Bangunan itu sama seperti biasa. Lampu teras menyala, pintu pagar terbuka. Teman-temannya mungkin sudah tidur.

Ia masuk kamar, mengunci pintu, lalu menjatuhkan diri ke kasur. “Ini nyata. Aku sudah pulang. Semua hanya mimpi buruk.”

Fajar menutup mata. Tapi saat itu juga, ia merasakan sesuatu yang membuat darahnya berhenti mengalir.

Ada napas di lehernya. Hangat, lembab.

Ia membuka mata perlahan.

Bayangan dirinya duduk di kursi dekat meja belajarnya. Wajahnya persis Fajar, tapi tersenyum lebar, gigi tajam terlihat jelas.

Konfrontasi

“Tidak mungkin…” suara Fajar serak.

Bayangan itu berdiri. “Aku bilang, kalau kau masuk ke cahaya itu… kau tidak akan pernah kembali jadi manusia.”

Fajar mundur ke dinding. “Apa maksudmu? Aku nyata! Aku kembali!”

Bayangan itu tertawa. “Kau tidak sadar, Fajar? Yang keluar ke dunia nyata bukan kau. Yang pulang… adalah aku.”

Fajar terdiam, tubuhnya gemetar hebat. Ia menatap tangannya sendiri. Kulitnya mulai memucat, tubuhnya semakin tipis, transparan.

“Aku… aku bayangan sekarang…?”

Bayangan itu mendekat, menatapnya lurus. “Ya. Kau bayangan. Aku yang akan hidup di dunia ini. Aku yang akan menjadi Fajar. Dan kau… hanya akan menonton dari kegelapan.”

Penyerahan

Tubuh Fajar semakin samar. Ia mencoba berteriak, tapi suaranya tidak keluar. Ia meraih meja, tapi tangannya tembus, tak bisa menyentuh apapun.

Bayangan—atau Fajar baru—memakai jaketnya, mengambil ponselnya, lalu menatap cermin. Wajahnya kini persis Fajar, sempurna, tanpa retakan.

Namun saat ia tersenyum di cermin, bayangan di cermin tersenyum terlalu lebar. Lebih lebar dari manusia normal.

“Sekarang… aku adalah kau. Dan kau adalah aku.”

Senyum Terakhir

Fajar berusaha merangkak, tapi tubuhnya hilang sepenuhnya. Yang tersisa hanya kegelapan, suara bisikan, dan tawa kecil.

Sebelum segalanya benar-benar lenyap, ia mendengar suara terakhir dari mulut bayangan itu:

“Jalan pulangmu… tidak akan pernah sama lagi.”

Dan senyum itu—senyum terakhir yang tidak pernah hilang—menjadi hal terakhir yang Fajar lihat sebelum dunianya gelap selamanya.



CTA

👻 Serial Jalan Pulang yang Tak Pernah Sama 
Apakah kamu berani membaca ulang dari awal, dengan pemahaman bahwa mungkin… yang pulang bukanlah Fajar yang asli?

Ikuti blog ini untuk kisah horor terbaru karya Risti Windri Pabendan. Klik [ikuti sekarang] agar tidak ketinggalan cerita seram berikutnya!


Tidak ada komentar:

Posting Komentar