Kamis, 24 Juli 2025

πŸ‘️ TEROR ARWAH dari Toraja – Bab 5: Cermin Itu Membuka Gerbang

 


Cermin bukan sekadar pantulan — ia adalah pintu. Dan pintu itu kini terbuka…”


Refleksi yang Menyimpang

Sudah seminggu sejak aku kembali ke Jakarta. Tapi cermin di kamarku mulai menunjukkan hal-hal yang tidak bisa dijelaskan.

Tiap pukul 2:13 pagi, aku mendapati pantulan di cermin tidak sesuai kenyataan. Kadang, aku melihat diriku berdiri padahal aku sedang duduk. Kadang, bayanganku tetap menatap ke arahku... bahkan setelah aku menoleh ke arah lain.

Dan tadi malam — refleksi itu mengangguk padaku.

Aku tidak bergerak. Tapi bayanganku seolah menyetujui sesuatu yang tak kukatakan.


Tulisan dari Dunia Lain

Pagi itu, saat matahari menerobos jendela kamar kos, aku melihat tulisan samar di permukaan cermin — seperti uap yang belum hilang sepenuhnya. Tanganku gemetar saat aku mendekat untuk membaca:

“Sapa’ta ku sangi’na. Pitu aninna, ta'de to tananan.”
(“Aku sudah membuka pintunya. Yang ketujuh, bukan dari dunia ini.”)

Bahasa Toraja kuno... Kalimat itu tak sepenuhnya asing. Aku pernah mendengarnya dulu dari nenek, ketika ia bercerita tentang Pitu Aninnatujuh jiwa yang ditolak dunia orang mati, tapi juga tak bisa hidup lagi.


Sosok Berambut Basah

Sore itu, di halte bus, aku melihat seseorang berdiri terlalu diam.

Seorang wanita muda. Rambutnya panjang, basah, dan meneteskan air ke lantai keramik. Orang-orang tak memperhatikannya. Tapi aku... tak bisa mengalihkan pandangan.

Saat aku melirik lagi — dia menghilang, tapi bekas jejak air menuju ke arahku.


Video Call yang Tak Biasa

Malam itu, Dipa akhirnya meneleponku. Ia masih di Toraja, tampak lelah dan gelisah.

“Net, aku minta maaf... batu itu belum sepenuhnya tertanam. Ada satu lagi yang belum kembali.”

“Siapa?” tanyaku cepat.

“Bukan siapa. Tapi **cermin yang dulu nenekmu pakai. Itu warisan, kan? Itu bukan cermin biasa.”
“Itu adalah Tolang Bassi’... cermin pemanggil arwah.”_

Mataku langsung menoleh ke kaca yang menggantung di dinding. Udara terasa berat.


Gerbang Terbuka

Malam itu, aku berusaha tidur lebih awal. Tapi terbangun oleh suara bisikan lembut, seperti napas di leherku:

“Pintu sudah terbuka…”

Cermin itu memantulkan ruangan lain — seolah dari dalamnya, ada tongkonan tua berdiri di balik dinding kosku. Lantainya dari bambu, lampu pelita redup, dan di dalamnya — enam bayangan berdiri.

Satu tempat di tengah masih kosong.

Aku melihat ke bawah. Kaki telanjangku berlumur tanah basah.


Penutup Bab 5: Dijemput dari Pantulan

Tepat pukul 2:13 pagi, refleksiku di cermin mengulurkan tangan keluar. Bukan metafora — benar-benar menjulur keluar, menembus kaca, dan mencengkram lengan kiriku.

Aku menjerit. Tapi suaraku tak terdengar.

Telepon di mejaku menyala. Ada pesan dari Dipa:

“JANGAN LIHAT MATA-MU DI CERMIN. ITU BUKAN KAMU LAGI.”

Aku melihat lagi — dan kali ini, sosok itu sudah sepenuhnya keluar dari cermin.

Dan aku?

Aku berdiri di sisi lain, terjebak di dalam pantulan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar