“Ia bukan hanya kaca... tapi jembatan. Dan jembatan itu telah digunakan bolak-balik — kini kau yang berada di sisi lain.”
Aku di Dalam Cermin
Bayangkan ini: kau menatap cermin — lalu mendapati dirimu sendiri yang tak lagi menjadi kau.
Itulah yang terjadi padaku.
Aku masih bisa melihat dunia nyata dari balik permukaan kaca. Tapi tubuhku di luar kini dihuni oleh sesuatu... sesuatu yang bukan aku.
Pantulan itu kini hidup. Aku hanya penonton.
Yang Diambil dan Yang Mengambil
Di dalam ruang kaca ini, langit berwarna abu-abu, seperti kabut tak berujung. Aku bisa melihat kamar kosku... tapi terbalik. Segalanya dalam versi bayangan.
Tiba-tiba, aku mendengar suara nenekku.
"Tolang Bassi’ adalah milik To Manurun... hanya mereka yang menjaga dan memanggil arwah boleh menyentuhnya. Kau... telah membuka tanpa ijin.”
“Patuduan to mate. Tondokko na dappo. De’pakandungang.”
(“Yang mati tidak tidur. Desamu telah diganggu. Tak ada yang menampung mereka.”)
Aku ingin menangis, tapi di tempat ini — air mata jatuh ke atas.
Sisi Luar yang Kacau
Sementara itu, di dunia nyata, tubuhku — atau lebih tepatnya sosok yang memakai tubuhku — mulai bertingkah aneh.
Dipa menghubungi teman kosku.
“Net sering bicara sendiri,” katanya.
“Semalam dia bicara bahasa yang kami tak mengerti. Seperti... nada-nada kematian.”
Mereka bilang aku kini menulis simbol-simbol di dinding. Huruf Toraja kuno, yang hanya digunakan dalam ritual pemanggilan roh leluhur.
Dipa memutuskan untuk kembali ke Jakarta. Ia membawa salah satu benda pusaka keluarga kami — batu Karandoan, batu kecil yang konon bisa membakar kehadiran roh jahat.
Pintu ke Dunia Lain
Di sisi kaca ini, aku berjalan dalam ruang kosong. Tapi tiap langkahku mengarah ke satu tempat: sebuah tongkonan berdiri sendirian, tapi terpantul dari berbagai arah.
Tongkonan itu terbuka, dan di dalamnya, ada cermin besar berbentuk lingkaran, dikelilingi tulang kerbau dan lilin yang tak pernah padam.
Dari balik cermin itu — aku melihat diriku di dunia nyata. Dia tersenyum. Tapi senyumnya tak punya jiwa.
Dia memegang pisau kecil, lalu mulai menggambar simbol di kulit pergelangan tanganku. Dan aku? Aku merasakannya, dari dalam cermin.
“Dia bukan sekadar meniru diriku,” bisikku. “Dia sedang mencoba menggantikanku sepenuhnya.”
Herni dan Batu Karandoan
Di dunia nyata, Herni tiba dan langsung masuk ke kamarku.
Tubuhku — atau makhluk dalam tubuhku — menatapnya sambil tertawa.
“Ribka?”
“Bukan.” jawabnya dengan suara parau.
“Susi’, sang to melo. Na'potingkan tana.”
(“Aku jiwa yang lapar. Yang dikubur tanpa nama.”)
Herni tidak gentar. Ia menaruh batu Karandoan di depan cermin.
Saat batu itu menyentuh permukaan kaca — retakan muncul, seperti jaring laba-laba.
Dari balik kaca, aku melihat cahaya! Aku menjerit, memukul permukaan dari dalam.
“DIPAAA!! AKU DI SINI!!”
Pecahnya Gerbang Tolang Bassi’
Retakan itu tumbuh. Lalu meledak dalam cahaya merah terang. Tubuhku — yang palsu — menjerit keras, berubah bentuk, lalu menghilang seperti asap.
Aku terdorong keluar dari cermin. Terhempas ke lantai kamar.
Herni memelukku, menahan tubuhku yang dingin dan lemas.
“Kau kembali…”
“Aku... melihat... dunia mereka.” bisikku. “Mereka belum selesai, Her…”
Penutup Bab 6: Tidak Semua Kembali
Beberapa hari berlalu. Aku mulai pulih, tapi cermin itu kini dibungkus kain merah dan disimpan dalam kotak kayu.
Kami sepakat untuk mengubur Tolang Bassi’ di tempat semestinya — di Tanah Toraja, dalam liang batu tempat nenekku dulu bersemayam.
Tapi malam sebelum berangkat, aku mendapat mimpi.
Dalam mimpi itu, tongkonan berdiri di tengah kabut, dan enam arwah memandangku. Tapi kini, mereka tak lagi diam.
Satu per satu berkata:
“Kau sudah melihat kami. Maka kini… kau pembawa kami.”
Tidak ada komentar:
Posting Komentar