Kamis, 24 Juli 2025

πŸ•―️ TEROR ARWAH dari Toraja – Bab 4: Yang Ikut Sampai Jakarta

 


“Tak semua roh tertanam bersama tanah. Ada yang menempel pada kenangan. Dan sisanya — menempel padamu.”


Kembali ke Kota, Tak Lagi Sama

Tiga minggu setelah ritual Ma’pettang Lolo’, aku kembali ke Jakarta. Dipa memilih tinggal di Toraja sementara. Ia bilang, “Aku merasa belum selesai di sini.”

Aku mengangguk saja waktu itu. Padahal, aku berharap dia ikut. Karena aku tahu… aku tidak pulang sendiri.


Suara itu Mengikuti

Malam pertama di kos, semuanya normal. Lampu menyala, kamar bersih. Tapi saat aku hendak tidur...

“Tik… tik… tik…”
Bunyi seperti kuku mengetuk kayu. Sangat pelan. Tapi berirama.

Aku membuka mata. Bunyi itu berasal dari lemari kayu tua di sudut kamar.

Kosku ini bukan bangunan baru. Lemarinya berat, warisan dari pemilik lama. Aku belum pernah membuka bagian bawahnya. Karena… memang tidak ada kuncinya.

Malam itu, entah kenapa, aku mendekat dan menyentuh pegangan pintunya. Saat aku sentuh, lemari itu bergetar halus.

Nene’... i’nana’ku...
(“Nenek... cucumu...”)

Suara itu lirih. Pelan. Seperti suara dari radio usang.

Aku mundur. Merasa tidak sedang sendiri.


Cermin, Lagi-lagi Cermin

Besok malamnya, aku mencuci muka. Saat menatap ke cermin kamar mandi, aku lihat diriku tersenyum, padahal aku tidak.

Refleksi itu tersenyum lebih dulu dariku. Sedikit miring. Mata kirinya sedikit putih. Mirip...

Mirip sosok nenek yang dulu muncul di Toraja.

Aku menyeka cermin. Tidak hilang. Tetes air di cermin mulai membentuk pola. Bukan sembarang bentuk… tapi simbol Ma’tinding, lambang pemisah dunia roh dalam budaya Toraja.


Mimpi Berdarah

Dalam tidur, aku bermimpi kembali ke liang batu. Tapi yang aneh: semua peti terbuka.
Mayat-mayat yang seharusnya membusuk, malah duduk dan menghadap ke arahku.

Mereka berbisik dalam Bahasa Toraja:

sanganmu dikalupai, tapi bombo kilalaiko...
(“Namamu terlupa. Tapi mereka mengingatmu…”)

Dan satu persatu roh itu menunjuk ke arahku. Suara jadi satu:

“iko bawakan, tae mu bisa lari, jadiko perantara.”
(“Kau bawa kami. Kau tak bisa lari. Kau jadi perantara.”)

Aku terbangun — dan hidungku berdarah.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar