“Kau kira dia hanya ingin pulang? Tidak. Dia ingin dikenang dengan darah.”
Pendakian Kembali ke Lembang Salu
Perjalanan kembali ke Lembang Salu bukan sekadar pulang — ini adalah pengakuan. Aku telah membawa sesuatu yang bukan milikku. Batu merah itu kini dibungkus kain putih dan disimpan dalam kotak kayu, seperti jenazah kecil yang harus dikembalikan.
Langit di atas Toraja hari itu tampak muram. Kabut menggantung rendah di atas sawah dan liang batu. Angin membawa bau dupa, tanah, dan kayu basah.
Toto’ Lebang menyambut kami di tepi kampung, wajahnya lebih pucat dari biasanya.
“Dia belum pergi. Malam ini harus Ma’pettang Lolo’. Kalau terlambat, tidak cuma kau yang dibawa.”
Ritual di Tengah Kabut
Jam 11 malam, kami menuju hutan bambu di belakang Tongkonan tua milik nenekku. Di sana, api unggun kecil menyala. Tiga ayam hitam, seikat daun sirih, dan batu merah itu disiapkan di atas tikar bambu.
Toto’ mulai membacakan doa-doa kuno dalam Bahasa Toraja. Suaranya naik turun, seperti gumaman yang membelah dimensi.
“Pelle', sanggallo', batti' tu tananan sangkan sangnga...”
(“Bukalah jalan, penjaga malam, biar ia kembali ke tempat asal.”)
Tiba-tiba... angin berhenti.
Api unggun berkedip. Suasana menjadi berat. Seolah ada ribuan mata mengintip dari balik gelap.
Dan... dari arah hutan, suara lonceng kecil terdengar... “ting...ting…ting…”
Dari kabut itu, muncul siluet.
Wajah yang Tak Mau Dilupakan
Nenek itu — atau sosok yang menyerupainya — muncul di antara batang bambu. Matanya putih sepenuhnya, tidak berkedip. Tubuhnya tidak menyentuh tanah. Ia melayang... perlahan.
Wajahnya tidak menakutkan. Tapi menyayat.
Ia menunjuk padaku.
“Aku tidak marah. Aku kesepian. Kau yang datang padaku dulu... Kau yang bawa aku keluar.”
Aku gemetar. Air mataku menetes, entah karena takut atau karena… aku merasa bersalah.
Toto’ Lebang melempar daun sirih ke api. Asap mendadak tebal. Ia berseru:
“Ma’rapoi! Ma’doti! Ana’ta bukan untukmu!”
(“Pulanglah! Pergi! Anak ini bukan milikmu!”)
Nenek itu tersenyum. Tapi senyumnya tidak sampai ke mata.
Tukar Nyawa
Api unggun mendadak padam. Dari tanah, muncul tangan. Bukan satu. Tapi banyak. Seolah bumi membuka diri, dan para roh lapar ingin keluar.
Toto’ berteriak:
“Dia tidak sendiri! Ini bukan satu arwah…! Dia panggil yang lain juga!”
Salah satu ayam tiba-tiba mati mendadak. Lehernya patah sendiri. Batu merah itu bergetar, lalu melompat dari kotak dan jatuh tepat ke tanah yang berlumpur.
Dari situ, sebuah bayangan hitam membentuk tubuh. Besar. Tersusun dari rambut, tanah, dan suara tangis.
“Kau harus ganti. Atau arwah ini tetap tinggal.”
Pengorbanan Terakhir
Dipa, sahabatku, yang selama ini menemaniku, maju perlahan. Ia mengeluarkan pisau kecil dari sarung bajunya. Menorehkan sedikit darah dari telapak tangan, lalu meletakkan tetesannya ke batu itu.
“Biarkan aku jadi penjaga. Jangan ambil dia.”
Angin mendesing.
Siluet sang nenek menghilang perlahan ke kabut. Batu merah retak. Dan seluruh malam seolah menghela nafas.
Toto’ Lebang berkata lirih:
“Telah dibayar. Tapi tidak dilupakan. Akan ada yang datang lagi… saat waktunya tiba.”
Penutup Bab 3: Luka yang Tak Hilang
Sudah sebulan berlalu. Batu merah itu kini dikubur kembali di bawah akar bambu, dan kami meninggalkan Lembang Salu dengan kepala tertunduk.
Tapi malam-malamku tak pernah utuh lagi.
Kadang, pukul 2:13 pagi, aku masih terbangun. Dan di ujung tempat tidur, aku melihat setetes darah yang muncul dari celah lantai, padahal kamarku sudah dibersihkan.
Dan dari cermin kamar…
Ada noda jari basah yang membentuk dua kata:
“Bukan akhir.”
Tidak ada komentar:
Posting Komentar