Kalau kamu dengar suara orang tertawa dari liang batu saat malam, itu bukan mimpi. Tapi jangan pernah bertanya siapa yang tertawa.”
— Pesan dari nenek sebelum aku menginap di Rante Lemo.
Aku menginjakkan kaki di Rante Lemo, salah satu situs pemakaman tebing terkenal di Toraja. Deretan liang batu yang ditatah di dinding tebing menjulang tinggi, dihiasi patung-patung tau-tau yang memandang ke arah pengunjung—atau lebih tepatnya, mengawasi.
Malam itu, aku tidur di rumah keluarga jauh di atas bukit. Rumah Tongkonan tua dengan dinding gelap dan atap yang nyaris menyentuh bintang. Tidak ada listrik. Hanya lampu minyak dan suara serangga. Tapi justru saat malam menjadi paling hening, langit menjadi paling bising.
Aku terbangun sekitar jam dua dini hari. Bukan karena suara binatang, tapi karena suara… langkah.
Langkah ringan di atap.
Lalu suara tawa kecil dari luar jendela—tawa yang sangat… salah.
Aku menahan napas. Tawa itu terdengar lagi. Kali ini dari arah liang batu yang hanya berjarak sekitar 200 meter dari rumah.
Aku membuka jendela sedikit. Kabut tebal menyelimuti halaman. Tapi dari balik kabut itu, aku bisa melihat bayangan hitam berdiri menghadap tebing. Tidak bergerak. Tidak berkedip.
Beberapa detik kemudian, tau-tau di liang batu berubah posisi. Salah satu dari mereka menunduk. Yang lain mengangkat tangan.
Paginya aku bilang ke orang rumah, "Tadi malam aku dengar ada yang tertawa di luar."
Mereka hanya menatapku. Lalu salah satu dari mereka menjawab:
"Mereka sudah lama tidak tertawa. Mungkin mereka senang kamu datang."
Dan sejak hari itu, aku tidak pernah melihat langit malam di Rante Lemo dengan cara yang sama. Karena ternyata, bukan hanya tanahnya yang hidup. Tapi juga udara di atasnya.
🕯️ Pesan Tersirat:
Kadang kita datang untuk mencari cerita. Tapi jangan lupa:
Cerita juga bisa mencari kita.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar