Jangan bicara terlalu keras di dekat liang batu. Mereka mendengar.”
— Kalimat pertama yang saya dengar saat menginjakkan kaki di kampung leluhur kami.
Di Toraja, kematian bukan akhir. Ia hanya pintu.
Dan di balik pintu itu—kadang ada yang masih menunggu. Atau belum siap pergi.
Aku menulis ini dari sebuah rumah Tongkonan yang sudah lama tidak ditinggali. Kayu-kayunya masih berdiri, tapi udara di dalamnya lebih berat dari udara luar. Di sinilah semuanya bermula. Suara langkah yang tak pernah terlihat. Bau dupa yang muncul tanpa alasan. Goresan di dinding yang tak bisa dijelaskan. Dan mimpi yang terus berulang: seseorang berdiri di ambang pintu, menatapku tanpa wajah.
Blog ini bukan sekadar kumpulan kisah horor.
Ini adalah catatan dari balik dinding-dinding tua, tempat arwah, kenangan, dan pesan-pesan dari masa lalu masih hidup. Beberapa cerita adalah nyata. Beberapa mungkin hanya mimpi buruk. Tapi semua meninggalkan jejak.
Saya tidak menulis untuk menakut-nakuti.
Saya menulis untuk mengingatkan—bahwa bahkan dari hal yang paling gelap, kita bisa belajar sesuatu.
Tentang kehilangan. Tentang warisan. Tentang apa artinya pulang.
Selamat datang di Cerita dari Balik Tongkonan.
Tempat di mana kisah tak berani tidur.
Dan kamu, pembaca, kini sudah mengetuk pintunya.
Hati-hati saat membuka cerita selanjutnya.
Karena mereka mungkin ikut membaca bersama kamu.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar