Rabu, 23 Juli 2025

Jangan Tidur di Depan Patung Tau-Tau (Dau mu mamma dio patung Tau-Tau.)

 



“Mereka itu bukan pajangan. Mereka adalah penjaga. Tapi kadang, mereka pun lelah menjaga.”

— Bapak Sombo, penjaga makam di Rante Lemo.

 

Aku tidak tahu kenapa aku memutuskan untuk kembali.
Setelah malam sebelumnya aku mendengar tawa dari liang batu, dan melihat tau-tau bergeser sendiri, tubuhku seharusnya menolak untuk kembali ke tempat itu. Tapi sesuatu di dadaku memaksa. Bukan karena penasaran, lebih seperti… panggilan.

Pak Sombo, pemandu lokal sekaligus penjaga makam, adalah satu-satunya orang yang mau menampungku malam itu. Rumahnya berada di bawah tebing Rante Lemo, menghadap langsung ke arah deretan liang batu yang tertanam di dinding curam. Di atas tebing, patung-patung tau-tau berdiri diam. Memandang lembah.

“Kau tahu, tongkonan itu bukan cuma rumah. Ia tempat arwah berkumpul. Kalau mereka tidak siap pergi, mereka akan tinggal di sana. Tapi tau-tau lebih sensitif dari rumah,” kata Pak Sombo saat kami makan malam.

“Makna kata ‘tau-tau’ itu sendiri dari kata ‘tau’ yang artinya ‘orang’. Jadi ‘tau-tau’ adalah ‘wakil dari orang yang sudah mati’,” lanjutnya. “Mereka bisa jadi jembatan, tapi bisa juga jadi pintu yang salah.”

Aku hanya mengangguk, mencoba memahami.
Lalu beliau menambahkan dengan nada berat:

“Jangan tidur di dekat jendela yang menghadap ke mereka. Apalagi menatap matanya malam-malam.”
“..Tau-tau tania boneka di solan mamma.” (Patung itu bukan untuk jadi teman tidur.)

Malam menjelang cepat di Lemo. Jam delapan malam, langit sudah seperti jam dua dini hari. Udara lembab dan angin berembus dari sela-sela pohon bambu, menimbulkan suara gemerisik yang tak pernah tenang.

Aku menulis di buku catatanku, duduk di bale-bale bambu dekat jendela. Saat mataku melirik ke luar, aku sadar satu hal:

Salah satu tau-tau yang semula menghadap ke tebing… kini menghadap ke rumah ini.

Aku berhenti menulis.

Kupandangi lebih lama. Mungkin hanya perasaanku? Mungkin posisi sebelumnya memang seperti itu?

Aku menggeleng. Tidak, sore tadi aku memotret mereka. Aku yakin.

Tapi... aku terlalu lelah untuk merasa takut.

Aku akhirnya rebah, menarik selimut, dan mencoba tidur. Lampu minyak dibiarkan menyala.


Sekitar jam 1:20 dini hari, aku terbangun. Suhu kamar lebih dingin dari biasanya. Kuku tanganku membiru. Jendela... terbuka sedikit. Padahal aku yakin sudah menutupnya.

Angin lembab masuk, membawa bau seperti tanah basah yang lama tidak tersentuh. Tapi bukan itu yang membuat jantungku berdegup kencang.

Di bawah jendela, sekitar 7–8 meter dari rumah, ada seseorang berdiri.

Tidak bergerak. Tidak bersuara. Tidak memakai pakaian yang jelas. Hanya bayangan tinggi dan kurus, menghadap langsung ke jendela.

Aku menahan napas.

Kupicingkan mata. Tidak. Itu bukan orang. Itu patung.
Salah satu tau-tau. Tapi mengapa dia ada di situ?

Aku memejamkan mata dan menarik selimut. Badanku dingin.


Beberapa menit berlalu.
Lalu aku mendengar suara—“krek... krek...”
Seperti kayu tua yang diinjak. Suara itu datang dari langit-langit. Dari atap rumah.

Aku terdiam. Lalu... bunyi langkah.
Berat. Lambat. Melingkari atap. Lalu berhenti tepat di atas ranjangku.

“miliko... taepa na selesai inde te...”
(“Bangunlah… kamu belum selesai di sini...”)

Suara itu pelan. Seperti suara wanita tua yang mendesah di telinga.
Aku ingin menjerit, tapi tubuhku tak bisa bergerak. Aku kerasukan diam.

Dan saat aku membuka mata, ada tangan—berwarna keabuan, tulangnya menonjol, dengan kuku panjang hitam—merayap dari bawah ranjang. Menyentuh pergelangan kakiku.

Aku bisa mencium baunya.
Busuk. Seperti daging basah dan dupa terbakar bersamaan.

Tiba-tiba seluruh tubuhku ditarik ke lantai. Aku terlempar keluar ranjang, menabrak lantai bambu.

Lampu minyak padam. Gelap total.

Aku merangkak, tapi tanganku menginjak sesuatu—kain kafan basah.
Aku tahu bentuknya. Licin dan dingin.

Lalu suara itu terdengar lagi. Kali ini di belakangku.

“tania linomu indete..., sulemoko. sebelum lino duka rakako”
(“Ini bukan duniamu… pulanglah, sebelum langit juga ikut memelukmu.”)

Dan saat aku menoleh, aku melihat sesuatu duduk di pojok ruangan. Tidak punya mata. Tapi kepalanya bergerak, mengikuti gerakanku.


Cahaya menyala tiba-tiba. Pak Sombo masuk, membawa obor. Wajahnya kaku, tapi tatapannya dalam.

“Kau lihat dia, ya?”

Aku tak bisa jawab. Hanya menangis.

Pak Sombo menaburkan abu di sekeliling tempat tidurku dan menggantung daun-daun kering di dekat jendela. Lalu berkata:

“Tau-tau itu... bukan patung biasa. Mereka menyimpan jiwa. Kadang, saat tidak ada yang mengunjungi mereka terlalu lama, mereka jadi kesepian. Kau terlalu dekat.”

Aku hanya diam.


Paginya aku kembali ke liang batu. Dan memang benar—satu dari tau-tau hilang dari posisinya. Ada bekas tanah yang tergeser di bawahnya, seperti sesuatu turun dari tempat tinggi.

Dan sebelum aku pulang, aku sempat dengar suara dari balik liang batu, pelan… tapi jelas:

“inang lasitamuki sule.... dio inan malilin dao mai  langi.”
(“Kita akan bertemu lagi... di tempat yang lebih sunyi dari langit.”)


🕯️ Refleksi:

Kadang sesuatu yang kita kira diam… hanya menunggu waktu untuk bergerak.
Dan saat ia bergerak, bukan untuk menyambut. Tapi menjemput.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar