Sudah seminggu sejak aku meninggalkan Toraja. Tapi Toraja… belum selesai denganku.
Aku kembali ke kamar kos kecilku di Yogyakarta. Sudut kamar ini biasanya menjadi tempat paling aman di dunia: dinding putih kusam, kipas angin tua, dan tumpukan buku yang nyaris tumbang. Tapi sekarang... aku merasa ada yang ikut.
Awalnya hanya mimpi. Setiap malam aku mendengar suara yang sama seperti di Lemo:
"Milliko...taepa mu selesai indete'"
(“Bangunlah… kamu belum selesai di sini…”)
Aku terbangun dalam peluh, lampu kamar berkedip sebentar, lalu mati total.
π Hari keempat
Hal-hal kecil mulai berubah.
Sapu lidi di sudut kamar berpindah sendiri ke depan pintu. Cermin kamar mandi menjadi berembun setiap pagi, padahal aku belum mandi.
Dan di pagi hari kelima… aku menemukan serbuk tanah merah berceceran di bawah jendela.
Aku tahu tanah itu. Aroma khas dari tebing batu kapur Rante Lemo.
“Seseorang membawanya.”
π Hari keenam
Aku pulang malam dari kampus. Temanku, Dimas, tidur di lantai kosku karena kosnya disemprot serangga. Saat aku membuka pintu kamar, dia langsung menatapku.
“say... kamu bawa apa dari Toraja?”
Aku menatapnya.
“Maksud kamu?”
“Tadi waktu lo belum balik, gue denger orang jalan bolak-balik di atap. Tapi... pas saya buka pintu kamar, ranjang lo... ada bayangan duduk. Tapi gak ada orang.”
Darahku seperti berhenti mengalir.
Aku tahu dia tidak berbohong. Matanya merah, tubuhnya gemetar.
π Hari ketujuh
Malam itu, aku memutuskan untuk merekam.
Kameraku kupasang di pojok kamar, menghadap tempat tidur. Aku tidur dengan lampu mati.
Jam 2:43 dini hari, aku terbangun karena bau busuk.
Bukan keringat. Tapi daging busuk bercampur dupa. Lagi. Seperti malam terakhirku di Lemo.
“Seseorang... duduk di atas dadaku.”
Aku tidak bisa melihat, tapi terasa seperti ada tubuh berat menekan tulang rusukku. Nafasku tercekat. Aku ingin membaca doa, tapi mulutku terkunci.
Tiba-tiba suara itu muncul lagi.
Dekat telinga. Pelan.
Napasnya dingin.
“Dau mu torro misa-misa... sabana toro duka na totemo”
(“Jangan tinggal sendiri... karena aku pun sekarang tinggal.”)
Aku menjerit. Tubuhku bisa bergerak lagi.
Kameraku jatuh. Lampu tiba-tiba menyala sendiri. Dan di cermin... ada bekas tapak tangan, dari sisi dalam.
πΉ Pagi harinya, aku cek rekaman:
Jam 2:38 — aku mulai gelisah di ranjang.
Jam 2:41 — lampu berkedip.
Jam 2:43 — bayangan hitam muncul dari bawah ranjang. Tidak merangkak, tapi menanjak seperti kabut, lalu membentuk siluet seseorang berdiri diam di sudut kamar. Wajahnya kabur. Tapi... topi rotan khas duka Toraja tergantung di kepalanya.
Jam 2:45 — bayangan itu duduk di dadaku. Kamera berhenti merekam sendiri.
Aku pergi ke gereja sore itu. Pendeta menatapku lama. Lalu berkata:
“Kau membawa sisa roh dari tempat yang tidak suka ditinggalkan.”
π§© Simbol:
Aku baru sadar—salah satu tulang kering patung tau-tau di Toraja hilang. Dan serbuk tanah yang muncul di kamar berasal dari lubang tempat patung itu berdiri.
Mungkin... yang datang bersamaku bukan sekadar roh.
Mungkin aku membawa pulang cangkangnya.
π―️ Refleksi:
Kita sering berpikir arwah itu terikat pada tempat.
Tapi ada yang terikat pada ingatan, rasa takut, bahkan tatapan.
Dan saat kita menatap mata tau-tau, bisa jadi kita juga sedang dibaca balik.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar