Bab 2: Suara dari Bawah Kasur
“Saat tidur tak lagi aman, dan malam mulai berbisik...”
Sudah seminggu sejak kepulanganku dari Toraja, tapi malam-malamku tidak pernah sama lagi. Matahari bisa bersinar cerah di siang hari, tapi saat malam datang… aku merasa dunia menjadi milik yang lain.
Dan mereka bukan makhluk yang menginginkan damai.
Ketukan Malam dan Bau Anyir
Malam itu aku tidur lebih awal. Sudah dua hari berturut-turut tidak bisa istirahat karena mimpi buruk. Tapi tepat pukul 2:13 pagi, aku terbangun. Bukan karena mimpi. Tapi karena bau.
Bau tanah basah. Dicampur bau darah dan sesuatu yang busuk... seperti bangkai binatang yang sudah dikubur lalu digali kembali.
Lalu datang suara itu:
“Tok… Tok… Tok…”
Bukan dari pintu.
Dari bawah kasurku.
Kupaksakan membuka mata, dan melihat... ujung seprai terangkat sedikit dari bawah, seolah ada sesuatu di sana bergerak. Perlahan. Menekan dari bawah. Mendorong ke atas seakan mencoba keluar.
Aku tidak berani menjerit. Badanku membeku.
Dan dari arah kasur itu, terdengar suara pelan, parau, seperti wanita tua, yang sedang berbisik di balik lumpur:
“Anakku… Tang'diapa… bawana sule…”
(“Anakku… aku masih lapar… bawa aku kembali…”)
Nafasku tercekat. Aku menangis tanpa suara.
Ritual Pembersihan
Pagi harinya, aku ceritakan semuanya ke Herni. Ia datang dengan seorang pria paruh baya yang dipanggilnya Pong' Toto' Lebang, seorang tau manarang — perantara roh khusus yang bisa “membaca” suara dari dimensi lain.
Pong Toto’ masuk ke kamar kosku, duduk bersila, lalu menaburkan abu dari sisa dupa Rambu Solo’ di lantai. Ia komat-kamit dalam bahasa Toraja. Lalu dia berhenti, menatapku tajam:
“Iko’ bawa sule Deata tang masanang, yato nenek tae na porai torro indete.”
(“Kamu membawa pulang jiwa yang belum rampung. Nenek itu tidak betah di sini.”)
Herni lalu menjelaskan: batu merah yang kubawa bukan sekadar batu. Itu simbol persembahan kecil yang seharusnya tidak boleh dipindahkan dari tempatnya. Batu itu mengandung jejak roh — semacam "pancingan spiritual" agar arwah bisa menemukan kembali tubuhnya.
Dan aku, tanpa sadar, menjadi jembatan.
Teror Tak Kasat mata
Malam berikutnya, teror meningkat.
Jam 2 dini hari. Kipas angin tiba-tiba mati. Cermin berembun meski AC tidak menyala. Di kaca itu, aku melihat tulisan kabur dari jari basah:
“LEMBANG SALUALLO”
Aku langsung bangun. Menyalakan lampu. Tapi cahaya terasa tertelan oleh dinding. Bayangan-bayangan aneh bergerak di pojok ruangan. Dan di lantai, air merah mengalir dari bawah tempat tidurku.
Dari balik lubang kecil di kayu, mata putih menatapku. Tidak bergerak.
Aku menjerit sekuat mungkin. Tapi suara itu ditelan malam. Listrik padam. Dan dari arah cermin, aku melihat nenek itu — berdiri terbalik, kakinya di atas, rambut terjulur ke bawah, wajahnya mendekat perlahan.
Dan kemudian...
Dia berbicara langsung ke dalam kepalaku.
Arwah Berbicara
“Ditampena.. iko bawana tarru kambela .”
(“Aku ditinggalkan... kamu telah membawaku terlalu jauh.”)
Aku bisa merasakan suara itu di dalam dadaku. Seolah ia bukan hanya bicara, tapi mencengkram hatiku.
Tanganku kaku. Mataku terasa berat. Dunia seperti membeku.
“Kembalikan aku... atau aku ambil kau.”
Upacara “Ma'pettang Lolo’”
Herni segera menghubungi keluarga di Toraja. Kami harus kembali. Membawa batu itu, bersama sedikit tanah dari bawah kasurku — karena jejak roh telah tertinggal di sana.
Kata Pong' Toto’, hanya satu cara agar roh itu kembali tenang: melakukan Ma’pettang Lolo’, sebuah doa pengembalian arwah ke tanah leluhurnya.
Kami berangkat ke Lembang Salu malam itu juga. Dan aku tahu, jika aku gagal... roh itu tidak hanya akan menetap di sekitarku, tapi menguasai tubuhku.
Penutup Bab 2: Bukan Sekadar Oleh-Oleh
Sesampainya di Toraja, suara-suara itu mulai mereda. Tapi dalam tidurku, aku masih melihat wajah itu. Rambut putih. Selendang merah. Berdiri di antara pepohonan bambu, dengan batu merah di tangan, menunjuk ke arahku.
“Kita belum selesai, Indo’...”
Dan aku tahu, arwah itu belum benar-benar pergi.
Bersambung ke Bab 3: “Pemanggilan Terakhir”
Tidak ada komentar:
Posting Komentar