"Seseorang telah memanggil... dan kini sesuatu ikut pulang."
Namaku Ribka. Mahasiswa semester akhir di Makassar. Aku bukan orang Toraja, tapi aku punya teman dekat bernama Herni — mahasiswa antropologi, keturunan Toraja asli. Dialah yang mengajakku ke kampung leluhurnya di Lembang Saluallo, wilayah pegunungan di Tana Toraja yang dingin dan diselimuti kabut hampir sepanjang hari.
Herni sedang melakukan penelitian tentang Rambu Solo’, upacara kematian paling sakral dalam budaya Toraja. Ia bilang, ini adalah “perayaan perpisahan paling megah di dunia”. Aku mengangguk saja, walau dalam hati bertanya-tanya, bagaimana mungkin kematian bisa dirayakan?
Kami tiba malam hari. Rumah-rumah tongkonan berdiri dengan atap lengkung seperti perahu terbalik, dihiasi ukiran merah-hitam yang misterius. Di halaman luas, sudah banyak kerabat berkumpul. Mereka menyambut kami ramah, walau sesekali aku merasa tatapan mereka... aneh. Terutama dari satu orang — nenek tua dengan selendang merah dan rambut panjang disanggul seadanya.
Dia menghampiriku dan menyentuh pundakku dengan tangan keriput dingin.
“ oh..ampoku'... Deata mangkamo di tambai.”
(Anakku... arwah itu telah dipanggil.)
Aku hanya tersenyum kaku. Tidak tahu harus berkata apa. Dipa menggandeng lenganku, membawa pergi sambil berbisik, “Dia itu sando... semacam perantara roh. Jangan terlalu diladeni.” Aku mengangguk, meski perasaan tidak enak mulai merayap.
Prosesi Kematian
Esoknya, Rambu Solo’ dimulai. Peti kayu besar diarak dengan sorak-sorai. Di sekitar lapangan, puluhan kerbau dan babi dikorbankan. Terdengar teriakan, tangisan, tawa — semuanya bercampur dalam satu suara aneh yang asing bagiku. Aku menyaksikan dengan kagum dan bingung.
Beberapa kali, aku melihat anak-anak kecil meletakkan batu kecil berwarna merah di sekitar liang batu, seperti sedang menata altar kecil. Aku mengambil satu — halus, mengkilap, warnanya unik. Aku menyimpannya di saku. Sebagai kenang-kenangan, pikirku.
Di malam terakhir sebelum kami pulang, nenek sando itu kembali mendekat. Kali ini, suaranya lebih pelan, nyaris seperti gumaman doa.
“Deata masih lapar... jangan bawa tanah kematian ke dunia yang lupa caranya menghormati.”
Aku tak paham maksudnya. Tapi aku mulai merasa tidak enak — seperti ada yang mengawasi dari balik pohon bambu yang berderak pelan ditiup angin.
Pulangnya Arwah
Dua hari setelah kami kembali ke Makassar, gangguan mulai terjadi.
Malam pertama, kipas anginku tiba-tiba mati sendiri. Saat aku mengecek kabelnya, kipas menyala lagi — tapi anginnya malah seperti berhembus ke arahku, pelan, dingin… lalu berhenti. Malam itu, aku bermimpi seseorang mengetuk pintu kamar, tapi ketika kubuka, yang kulihat hanya sekelebat rambut putih berlendir menyelip ke bawah tempat tidurku.
Malam berikutnya, suara itu datang.
Tok... Tok... Tok...
Lemari kayuku diketuk dari dalam. Awalnya pelan, kemudian semakin cepat. Aku membuka pintunya, kosong. Tapi bau anyir mulai tercium... seperti tanah basah dicampur darah yang mengering.
Aku mulai mengingat satu hal: batu merah yang kuambil dari liang. Masih kusimpan dalam kotak perhiasan. Saat kubuka, batu itu retak. Ada noda hitam seperti terbakar di permukaannya.
Bahasa Leluhur
Herni akhirnya datang ke kost-ku setelah aku meneleponnya sambil menangis. Ia masuk, menghirup udara, lalu langsung memejamkan mata. Dia berdiri di depan cermin kamarku dan berkata pelan:
“Ada yang ikut kau pulang, Ribka. Dia bukan penunggu biasa. Dia... roh lapar.”
“Roh lapar?” tanyaku ketakutan.
“Namanya bombo’ masakke'. Dia adalah arwah yang belum sepenuhnya diterima di langit karena ada yang mencemari tempat peristirahatannya. Dan kamu...”
Herni menunjuk ke arah kotak perhiasanku, “...bawa tanahnya pulang.”
Tanganku gemetar. Batu itu hanya kenang-kenangan, kupikir. Tapi baginya, itu adalah penyambung. Sesuatu yang membuat roh mengenaliku… dan mengikutiku.
Kamar yang Bersuara
Malam itu kami mencoba mengembalikan batu itu ke tanah dengan doa sederhana. Tapi ketika tengah malam datang, aku terbangun oleh suara seseorang memanggil dari luar jendela.
“Ribka... buka pintumu...”
Suara perempuan. Serak. Tapi anehnya... suara itu seperti berasal dari dalam kepalaku.
Saat aku melihat ke arah bawah ranjang, aku melihat jari-jari panjang dan basah menjulur keluar, meraba-raba lantai seperti sedang mencari sesuatu yang jatuh.
Aku menjerit. Tapi suara itu tidak keluar. Tubuhku kaku. Di cermin, aku melihat bayangan seseorang berdiri membelakangiku. Rambut putih. Selendang merah. Dan wajah... tanpa mata.
Penutup Bab 1: Tidak Semua Roh Mau Pergi
Pagi harinya, Herni bilang satu hal:
“Beberapa roh tidak akan berhenti sampai kau minta maaf. Mereka bukan sekadar arwah… tapi utusan untuk menjaga batas.”
“Dan sekarang, kau sudah melewati batas itu.”
Aku tidak tahu bagaimana cara memperbaikinya. Tapi aku tahu satu hal…
Nenek itu tidak akan pergi.
Karena aku memanggilnya.
Tanpa sadar.
Dan sekarang, aku harus menemukan cara untuk mengembalikannya... sebelum dia mengambil sesuatu dariku.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar