Bab 1: Tamu Pertama Setelah Tiga Tahun
Kabut tebal menggulung dari lembah, menyelimuti jalanan kecil yang berliku menuju bukit Londa, Toraja Utara. Hujan turun rintik-rintik sejak sore, menetes perlahan di atas daun kopi dan ilalang yang merunduk. Di puncak bukit, tersembunyi di balik deretan pohon bambu dan nisan-nisan tua, berdiri sebuah bangunan kayu besar—tua, sunyi, seolah dikubur waktu.
Hotel Lemba Karopi, begitu nama yang tertera samar di papan kayu tua yang hampir lepas dari paku karatan. Atapnya berbentuk tanduk kerbau seperti rumah Tongkonan, berdinding papan gelap yang sudah mulai lapuk. Jendela-jendela besar berjeruji melengkung ke dalam, seperti mata tua yang mengintip siapa saja yang datang.
Tak ada yang tinggal di sekitar hotel itu. Warga sekitar sudah lama menjauhi tempat itu sejak tragedi yang tak pernah dijelaskan, hanya dibisikkan dari mulut ke mulut. Mereka menyebut hotel itu sebagai "Bale Kambura"—rumah arwah gentayangan.
Namun, meski bangunannya menyerupai rumah hantu, lobi hotel itu tidak pernah kosong. Di balik meja resepsionis yang terbuat dari kayu ukir, duduk seorang lelaki tua. Rambutnya putih seluruhnya, pipinya cekung, matanya tajam dan suram. Tubuhnya kurus kaku, seolah hanya rangka yang dibalut kulit.
Ia mengenakan kemeja katun tenunan Toraja, berwarna merah darah dengan motif kerbau dan tulang-tulang. Namanya Pak Sampe. Usianya sudah lebih dari tujuh puluh. Tak ada yang tahu dari mana ia berasal. Ia hanya muncul di hotel itu sejak tiga dekade lalu, dan tak pernah meninggalkannya. Orang-orang berkata, ia tak makan, tak tidur, dan tak pernah pergi ke belakang meja itu.
Di dekatnya selalu ada sebuah lonceng perunggu kecil, menggantung di atas meja kayu. Lonceng itu akan berdenting sendiri, meski tak ada tangan yang menyentuhnya.
Senja di Atas Bukit
Sore itu, tiga suara tawa memecah kesunyian kabut. Sebuah SUV hitam melaju pelan menembus hutan kecil, melewati batu nisan dan pepohonan angker. Di dalamnya duduk tiga mahasiswa dari Makassar yang sedang liburan: Tia, Reti, dan Barto. Mereka tengah dalam perjalanan menyusuri jalur-jalur budaya di Toraja, berburu foto dan cerita untuk tugas akhir mereka.
“Menurut Google Maps, ini hotel paling dekat dari gua Londa,” kata Reti sambil menatap peta di ponselnya. “Tapi kok serem, ya?”
“Ah, biasa itu... desainnya aja yang tradisional. Keren malah,” sahut Barto. Ia memang suka tempat-tempat tua.
Tia duduk diam di kursi depan. Matanya memandangi kabut yang makin pekat. Di kejauhan, samar-samar ia melihat seorang perempuan berpakaian adat Toraja berdiri di antara pohon-pohon, wajahnya tersembunyi di balik kain. Tia terperanjat, tapi saat ia menoleh, perempuan itu sudah tidak ada.
“Mungkin cuma bayangan,” gumamnya.
Mobil akhirnya berhenti di depan hotel. Mereka keluar sambil mengangkat ransel masing-masing. Udara dingin seperti menusuk tulang. Angin membawa bau anyir tanah basah dan dupa sisa upacara kematian.
Mereka melangkah masuk melewati pintu berat dari kayu jati. Begitu pintu terbuka... suara derak pelan terdengar, seolah rumah itu menghela napas.
Lobi yang Memandang
Lobi hotel Lemba Karopi seperti museum. Dindingnya penuh dengan tengkorak kerbau, foto-foto tua, dan ukiran Toraja yang tampak seperti wajah-wajah yang menangis. Lantai kayunya berderit di setiap langkah. Suara tetesan air terdengar dari pojok ruangan, namun tak ada bocor di langit-langit.
Dan di balik meja resepsionis, Pak Sampe duduk diam.
Ia menatap mereka, matanya bagai sumur gelap yang tak berdasar. Ia tidak tersenyum, tidak pula menyambut. Tangannya yang kurus terangkat perlahan, menunjuk tiga kunci kamar tua berlabel logam:
Kamar 102,
Kamar 103,
Kamar 104.
Tak satu kata pun keluar dari mulutnya.
Tia meraih kunci kamar 102, dan ketika tangannya bersentuhan dengan tangan Pak Sampe, ia merasa seperti memegang batu nisan basah—dingin, keras, dan berdenyut aneh.
“Kok kayak... jantung?” bisiknya pada Reti.
Reti hanya mengangguk ragu. Matanya menatap cermin besar di dinding seberang lobi. Di sana, refleksi mereka bertiga terlihat... tapi di belakang mereka ada bayangan keempat, tinggi dan kurus, berdiri diam.
Saat mereka menoleh, tak ada siapa pun.
Lorong ke Neraka
Mereka berjalan menyusuri lorong panjang ke arah kamar. Dinding hotel seperti menutup perlahan. Suara langkah mereka menggema... atau lebih tepatnya, terdengar lebih dari tiga pasang kaki.
Di lorong itu tergantung beberapa lukisan tua: lukisan upacara Rambu Solo’, prosesi Ma’nene, dan satu lukisan besar bergambar lobi hotel itu sendiri, dengan resepsionis duduk di belakang meja... namun wajah resepsionis itu berubah-ubah saat mereka lewat: kadang tersenyum, kadang menangis, kadang tak bermata.
“Kok bisa berubah begitu?” tanya Barto. Ia mencoba memotret, tapi ponselnya langsung mati.
“Listrikku masih penuh…” gumamnya, cemas.
Penampakan Pertama
Sebelum masuk ke kamar, Tia sempat berhenti dan menatap pintu Kamar 105—satu-satunya kamar yang terkunci. Di pintunya terukir lambang tengkorak dan tulisan halus dalam bahasa Toraja kuno.
Ia mendekat, berusaha membaca...
Tapi dari celah pintu itu muncul mata—dua bola mata merah menyala, menatapnya tajam. Seketika Tia melompat mundur, menjatuhkan kunci.
“Ada yang ngintip!” teriaknya.
Barto langsung mendekat, tapi saat ia membuka pintu... kamar itu kosong. Tidak ada siapa-siapa.
Hanya ruangan gelap yang penuh kain putih tergantung dan aroma tanah kuburan.
Mereka bertiga saling berpandangan. Reti merinding dari kepala sampai kaki.
“Aku... kayaknya nggak jadi tidur sendirian, deh,” katanya.
“Besok pagi aja kita pergi. Ini hotel udah aneh,” ujar Tia. Tapi malam sudah terlalu larut. Dan luar terlalu gelap untuk kembali ke jalan.
Kembali ke Lobi
Sementara itu di lobi, Pak Sampe masih duduk di kursinya, menatap ke arah lukisan tua.
Lampu gantung bergoyang sendiri perlahan. Di cermin besar, pantulan Pak Sampe perlahan menghilang.
Dan di meja kayu, lonceng kecil berdenting sendiri...
Ting... ting... ting...
Bab 2: Bisikan dari Dalam Cermin
Hening menyelimuti lorong Hotel Lemba Karopi malam itu.
Jam dinding besar di ujung koridor berdentang tiga kali. Suaranya menggema lama, seperti dipantulkan dinding-dinding kayu yang sudah usang. Tia, Reti, dan Barto telah masuk ke kamar masing-masing, mencoba beristirahat setelah perjalanan panjang. Tapi malam itu… tak ada yang benar-benar tidur.
Hanya satu suara yang terdengar dari lobi:
Ting... ting... ting...
Lonceng kecil di meja resepsionis berdenting sendiri.
Dan Pak Sampe masih duduk di tempatnya.
Menatap diam ke arah kamar 105…
Yang pintunya kini... sedikit terbuka.
Tia – Kamar 102
Tia duduk di pinggir ranjang, menyisir rambut sambil menatap cermin di meja rias. Kamar itu beraroma kayu tua dan dupa lama. Lampunya remang, berkedip pelan seperti kehabisan tenaga.
Cermin itu tinggi, tua, dan berbingkai ukiran kepala kerbau. Saat Tia menunduk untuk menyimpan sisir, cermin di depannya masih memantulkan bayangan dirinya yang menyisir rambut.
Namun ia belum menyadari.
Begitu ia kembali menatap cermin...
bayangan itu tidak mengikuti.
Tia membeku.
Bayangannya masih duduk, masih menyisir rambut… tapi sekarang tersenyum. Senyuman lebar, tak manusiawi. Dan perlahan... tangan bayangan itu bergerak sendiri, mencoret-coret permukaan cermin dengan jari:
“PULANG…”
Tia menjerit dan menjatuhkan kursi. Saat ia menoleh ke belakang, tak ada siapa-siapa. Cermin itu kembali normal. Tapi... uap dingin mulai muncul di permukaannya, dan tulisannya masih samar di sana.
Ia meraih handphone. Tak ada sinyal. Tak ada koneksi.
Ketika ia hendak keluar kamar, ia mendengar suara…
Perempuan menangis.
Pelan… lirih… dari dalam kamar mandi.
Tia mendekat, menggenggam gagang pintu. Perlahan-lahan ia buka...
Gelap. Tak ada cahaya sama sekali di dalam.
Tapi suara tangisan semakin jelas.
Lalu...
tiba-tiba muncul kepala wanita dengan rambut panjang menutupi wajah, merangkak keluar dari bathtub, tangannya berlumur darah.
Tia berteriak histeris dan menutup pintu sekuat tenaga, menahan tubuhnya agar tidak roboh.
Dari celah bawah pintu,
darah mulai merembes keluar...
Reti – Kamar 103
Di kamar sebelah, Reti duduk bersila di atas ranjang sambil memeluk bantal. Ia merasa aneh sejak masuk. Hawa dingin menusuk hingga tulang, meski jendela tertutup rapat. Ia menggigil, dan lampu kamarnya mulai mati-hidup tak beraturan.
Tiba-tiba...
Suara ketukan terdengar dari lemari kayu besar di pojok kamar.
Tiga ketukan.
Lalu… senyap.
Reti mendekat. Ia ragu. Tapi rasa penasaran mengalahkan rasa takut.
Dengan tangan gemetar, ia membuka pintu lemari itu perlahan...
Kosong. Hanya gantungan tua berderit.
Namun, saat ia hendak menutupnya kembali...
Sesuatu dari atas lemari jatuh tepat di kakinya.
Tangan!
Tangan manusia kering dan dingin—seperti milik mayat.
Namun tangan itu bergerak, merangkak cepat dan masuk ke bawah ranjang.
Reti menjerit dan melompat ke atas ranjang, menarik kakinya tinggi-tinggi. Napasnya tercekat.
Dari bawah tempat tidur…
tangan-tangan lain mulai menjulur keluar.
Empat... lima... enam...
Hitam, kurus, berlumur tanah… mencakar lantai, meraih udara... mencari tubuh hidup.
Lalu… terdengar suara berbisik dari bawah ranjang:
“Mati bersamaku…”
Barto – Kamar 104
Barto, yang paling cuek di antara mereka, awalnya tak merasa ada yang aneh. Ia bahkan sempat bersandar sambil menyalakan musik dari ponselnya. Tapi begitu musik diputar, lagu itu berubah sendiri menjadi suara gamelan pelan… dan ratapan pria tua.
Ia mencoba mematikan musik. Tapi layar ponselnya tidak merespons.
Tiba-tiba...
suara ketukan dari jendela.
Tiga kali.
Ia menoleh. Jendela itu tertutup rapat, dan kamar berada di lantai dua. Mustahil ada orang di luar.
Namun...
Dari balik tirai, ia melihat bayangan seseorang berdiri diam di luar jendela. Tinggi, besar... tak punya wajah.
Bayangan itu mengetuk lagi.
Lebih keras.
Dengan perlahan, kunci jendela berputar sendiri.
Daun jendela terbuka…
Dan dari luar, asap putih dingin merayap masuk ke kamar.
Barto mundur. Tapi asap itu membentuk sosok bayangan lelaki berjas tua, lehernya miring… dan wajahnya hilang, hanya kulit datar dan gelap.
Lelaki itu mendekat…
Dan membisikkan satu kata:
“Tukar.”
Barto berteriak dan memukul asap itu, tapi tubuhnya justru terhantam ke tembok, dan matanya terbuka lebar dalam ketakutan.
Kembali ke Lobi
Sementara itu, di lobi...
Pak Sampe masih duduk tenang. Wajahnya tak berekspresi. Namun, di sekitar meja resepsionis, bayangan mulai bermunculan satu per satu.
Mereka adalah arwah tamu-tamu lama. Tubuh mereka transparan, membusuk, beberapa tanpa kepala, satu lagi membawa koper dengan tangan penuh belatung. Mereka berdiri mengelilingi Pak Sampe... seperti menunggu giliran.
Dan di tengah mereka… muncul seorang perempuan muda dalam pakaian pengantin Toraja, mukanya tertutup kain putih. Ia melayang ke arah Pak Sampe, lalu menunjuk kamar 105.
Pintu kamar 105 kini terbuka lebar.
Dari dalam, keluar suara gamelan pelan... dan aroma daging terbakar.
Pertemuan di Lorong
Tia berhasil keluar dari kamar, tubuhnya gemetar. Ia berlari menuju kamar Reti, mengetuk pintu keras-keras.
Reti membuka dengan wajah pucat.
Mereka saling berpelukan.
“Barto!” teriak Tia.
“Kita harus ke kamar Barto!”
Mereka berlari, mengetuk pintu kamar 104.
Tak ada jawaban.
Saat mereka hendak membuka pintu,
pintu itu terbuka sendiri.
Kamar itu kosong.
Tapi udara di dalamnya lebih dingin dari lemari mayat.
Dan di atas ranjang, tergeletak foto lama—foto hitam-putih yang buram... memperlihatkan seorang pemuda dengan kemeja Toraja, wajahnya mirip sekali dengan Barto, tapi... tanggal di bawahnya menunjukkan tahun 1978.
Reti menjerit.
“Barto nggak mungkin… dia kan baru lahir tahun 2000!”
Mereka mendengar langkah berat dari lorong.
Dari ujung lorong, sosok Pak Sampe berjalan perlahan ke arah mereka.
Kepalanya menunduk. Tangannya menggenggam kunci kamar 105.
“Sudah saatnya,” ucapnya pelan, suara serak seperti pasir basah.
“Siap untuk bergabung?”
Penampakan Puncak: Cermin Hotel
Mereka mundur ke arah lobi, mencari jalan keluar. Tapi begitu sampai di lobi...
seluruh ruangan telah berubah.
Cermin besar yang semula memantulkan lobi, kini menunjukkan ruang bawah tanah yang penuh mayat tergantung.
Dan di tengah-tengah cermin, berdiri Pak Sampe muda, dengan darah menetes dari wajahnya.
Ia menunjuk mereka…
dan cermin mulai retak... sedikit demi sedikit...
“Dia bukan resepsionis biasa…” bisik Tia, tubuhnya mulai lemas.
“Dia... penjaga arwah.”
Lonceng di meja berbunyi sendiri…
Ting... ting... ting...
Bab 3: Kamar 105 Dibuka
Udara malam makin menebal. Kabut dari luar merayap masuk lewat celah jendela yang retak, membawa aroma dupa terbakar dan bau amis tanah basah. Lantai kayu hotel Lemba Karopi kini terasa seperti berdetak pelan—hidup, menyatu dengan napas roh-roh yang menuntut dikenang.
Di lobi, Pak Sampe berdiri.
Untuk pertama kalinya... ia meninggalkan meja resepsionis.
Tangannya yang kurus menggenggam kunci tua berukir tengkorak. Kunci kamar yang tak pernah dibuka selama puluhan tahun: Kamar 105.
Lorong Gelap Menuju Kamar
Tia dan Reti melangkah mundur ketika sosok Pak Sampe mendekat. Wajahnya kini lebih pucat, kulitnya tampak seperti lilin meleleh. Cahaya lampu lorong berkelip liar di atas kepalanya.
“Mana... Barto?” tanya Tia dengan suara bergetar.
Pak Sampe tidak menjawab. Ia hanya mengangkat tangannya, menunjuk ke arah pintu kamar 105 yang kini sudah terbuka... menanti.
Reti gemetar, tubuhnya ingin kabur, tapi kakinya menolak bergerak. Dinding lorong seperti menutup perlahan, memaksa mereka masuk.
Dari dalam kamar, keluar suara gamelan tua yang diputar terbalik.
Dan sesekali terdengar suara erangan... seperti napas seseorang yang sekarat.
Dengan langkah tertahan, Tia dan Reti memasuki Kamar 105.
Kamar 105: Ruang di Luar Dunia
Kamar itu lebih besar dari kamar biasa. Langit-langitnya tinggi dan penuh ukiran tua, gelap, dan berdebu. Dindingnya bukan dari papan, tapi dari tulang kerbau yang telah dilapisi darah kering. Di sudut ruangan, tergantung foto-foto buram orang-orang yang pernah menginap. Beberapa dari mereka... wajahnya tampak familiar.
Tia menunjuk satu foto yang menggantung miring.
“Itu... Mirip Barto,” bisiknya.
Namun bukan hanya satu.
Ada juga foto mereka berdua—Tia dan Reti, dengan pakaian yang mereka kenakan saat ini.
“Ini… mustahil!” jerit Reti.
Seketika, pintu kamar menutup sendiri.
Suara klik keras terdengar, mengunci mereka dari dalam. Lampu padam.
Gelap total.
Ritual yang Tidak Pernah Selesai
Tiba-tiba, lilin-lilin di dinding menyala sendiri. Dan di tengah ruangan, muncul meja batu seperti altar upacara. Di atasnya tergeletak keranda mayat, terbuat dari bambu tua dan kain tenun merah hitam. Kain itu... bergerak perlahan, seperti ada sesuatu yang bernapas di dalamnya.
Kemudian...
keranda itu terbuka.
Barto.
Ia terbaring di dalam, wajahnya pucat, matanya terbuka tapi tak fokus.
Tia mencoba mendekat, tapi suara berat menghentikannya.
"Jangan bangunkan yang sudah dipanggil..."
Pak Sampe berdiri di balik mereka.
Tapi kini... tubuhnya berubah.
Kain Toraja yang ia pakai menyatu dengan kulit. Wajahnya melar... dan dari matanya menetes cairan hitam.
“Barto telah dipilih,” bisik Pak Sampe.
“Karena dia... pewaris darah lama.”
Reti mundur. “Apa maksudmu!?”
Pak Sampe mengangkat tangannya, dan dari lantai, muncul bayangan-bayangan—sosok roh-roh yang pernah terperangkap di hotel ini. Mereka merangkak naik dari celah lantai:
• Seorang anak kecil tanpa wajah.
• Lelaki bersarung dengan leher terbalik.
• Perempuan tua menggenggam kepala babi.
• Dan roh berkebaya merah yang seluruh tubuhnya terbakar.
“Dulu, hotel ini dibangun di atas tanah adat yang tidak pernah disucikan,” ujar Pak Sampe.
“Arwah-arwah ini... tertinggal. Dan aku... adalah penjaga gerbang antara mereka... dan kalian.”
Bayangan Masa Lalu
Cermin besar di ujung kamar tiba-tiba menyala, memperlihatkan peristiwa masa lalu.
Tia dan Reti menyaksikan sebuah ritual tua yang dilaksanakan di lobi hotel puluhan tahun lalu. Seorang pemuda berdiri di tengah lingkaran dupa dan darah kerbau. Di sekelilingnya, orang-orang berdoa sambil menangis.
“Itu Barto...” bisik Reti.
“Bukan. Itu... kakeknya,” jawab Tia perlahan.
Dalam penglihatan itu, pemuda itu dikorbankan untuk menutup gerbang arwah. Tapi ritualnya gagal. Gerbang terbuka. Arwah-arwah menyerbu. Dan sejak saat itu... hotel menjadi kuburan hidup.
Pak Sampe mengalihkan pandangannya ke Barto.
“Dia... keturunan yang tertinggal.
Dan kalian... tamu terakhir sebelum hotel ini dikubur selamanya.”
Kejutan: Barto Bangkit
Tiba-tiba, tubuh Barto bangkit dari keranda. Tapi matanya bukan lagi matanya.
Matanya putih seluruhnya, dan dari mulutnya keluar suara berlapis:
"Aku bukan Barto lagi..."
"Aku... penjaga baru."
Tia menjerit.
Barto melayang turun dari altar.
Tangannya menengadah, dan paku-paku bambu terbang dari lantai, mengarah ke Reti.
Reti terdorong ke tembok. Darah menetes dari dahinya.
Tia mencoba memanggil Barto.
“Ini aku, Tia! Kau harus bangun! Ingat siapa dirimu!”
Untuk sesaat…
Barto mematung. Matanya berkedip.
Namun…
terlambat.
Pak Sampe meletakkan tangannya di dada Barto.
“Waktunya sudah tiba.”
Ledakan Roh
Cermin besar pecah.
Dari dalamnya, ratusan roh beterbangan keluar, memenuhi kamar 105. Suara tangis, tawa, dan erangan membaur menjadi satu. Dinding bergetar. Tulang kerbau jatuh dari plafon. Dan di tengah kekacauan, Tia meraih Reti yang sudah lemas.
“Kita harus keluar!”
“Pintu terkunci, Ti... kita terjebak...”
Tapi tiba-tiba...
pintu kamar terbuka sendiri.
Di luar... lorong gelap tak berujung, seolah hotel itu tak lagi memiliki arah.
Di ujung lorong...
berdiri Pak Sampe muda, dengan wajah penuh luka, tersenyum pelan.
🕯️ Bab 4: Hotel Tanpa Pintu Keluar
Kabut semakin pekat saat dini hari menelan sisa-sisa cahaya dari celah jendela hotel. Langit di atas Londa seolah terlipat, meninggalkan hotel itu terkurung dalam batas waktu yang membeku. Reti terbangun dengan tubuh basah kuyup, bukan karena keringat, tapi karena air… air yang entah dari mana datangnya, menggenangi lantai kamarnya.
Tia duduk di pojok kamar sambil memeluk lutut. Matanya sembab, suaranya parau.
“Aku dengar suara perempuan nyanyi… tapi… bukan dari kamar ini.”
Reti memandang ke arah pintu. Cahaya dari lorong sudah berubah warna, bukan kuning pendar lampu tua, tapi merah... seperti bara. Dan ketika mereka memberanikan diri membuka pintu, yang terbentang bukan lagi koridor biasa—melainkan sebuah pemakaman tua.
Barisan batu nisan dengan ukiran aksara Toraja berjejer, beberapa di antaranya terbalik. Udara di sekitar mereka berbau dupa dan tanah basah.
Dari kejauhan, mereka melihat Barto... duduk di atas salah satu nisan, tangannya bermain-main dengan segumpal rambut manusia.
"Barto!" Reti berteriak.
Tapi lelaki itu menoleh dengan wajah kosong. Matanya telah berubah menjadi rongga gelap.
"Aku harus menjaga mereka tetap di sini... kalian pun harus tetap di sini…"
Ruang-Ruang yang Bergerak
Reti menarik tangan Tia, memaksa untuk kembali ke kamar. Tapi kamar yang tadi mereka tinggalkan telah lenyap. Kini setiap pintu berubah bentuk—ada yang dipenuhi tengkorak, ada yang berdarah, dan satu di antaranya tertulis angka besar: 106.
Dari dalam kamar itu terdengar suara:
“Sssst… jangan ganggu dia… dia belum selesai merajut wajahnya kembali…”
Tia mendekat… dan dari celah pintu, dia melihat... sosok perempuan tanpa wajah, memegang jarum besar dan seutas benang merah, mencoba menjahit potongan wajah yang menggantung dari langit-langit.
Perempuan itu menoleh… meski tak punya mata.
Lobi Tak Lagi Sama
Mereka berlari ke arah lobi… berharap ada jalan keluar. Tapi meja resepsionis kini kosong, tak ada lagi Pak Sampe. Lonceng tua di atas meja terus berdenting sendiri.
Tiga… empat… lima kali…
Lalu berhenti.
Tia dan Reti memandangi cermin besar di belakang meja. Di dalamnya, mereka melihat diri mereka sendiri… tapi versi yang telah mati. Tubuh mereka membiru… mata kosong… dan di belakang mereka berdiri Pak Sampe muda, tersenyum seperti biasa.
"Pintu keluar sudah lama dikubur bersama upacara terakhir... kalian bukan tamu… kalian pewaris baru."
Dan saat mereka berbalik…
Lobi telah berubah menjadi ruangan batu penuh mayat. Langit-langitnya terbuka ke langit merah. Udara dipenuhi tangisan yang berbalik arah. Lorong keluar? Tidak ada.
Pintu? Semua hilang.
Dan waktu? Tak lagi berjalan.
Akhir dari Malam Pertama
Tia menggenggam erat tangan Reti.
“Kita harus cari jalan lain… kita nggak bisa mati di sini…”
Tapi dari balik bayangan, sesosok tinggi menjulang muncul. Kulitnya seperti anyaman kain tua, wajahnya tertutup tengkorak kerbau, dan dadanya berdetak dengan bunyi gendang pemanggil roh.
"Mereka datang untukmu, Tia… karena kamu cucu dari mereka yang dulu membuka hotel ini dengan tumbal manusia."
Dan malam itu…
Lorong-lorong hotel kembali hidup.
Dinding-dindingnya bernapas…
Dan suara orang menangis tak pernah berhenti.
🕯️ Bab 5: Ritual yang Belum Selesai
Waktu tak lagi berjalan.
Tia dan Reti seperti terjebak dalam ruang hampa yang memutar ulang mimpi buruk tanpa akhir. Hotel Lemba Karopi kini telah berubah—bukan hanya sebagai bangunan, tapi makhluk hidup yang bernapas, berpikir, dan lapar.
Pagi tak pernah datang. Jam di dinding lobi berhenti pukul 03.33. Angin dari langit-langit menyebarkan aroma darah kering dan dupa kematian. Reti terbangun lebih dulu, tubuhnya kaku, seluruh kulitnya merinding.
Di depannya berdiri Pak Sampe.
Namun kini, ia tak lagi menyerupai manusia tua yang ramah.
Tubuhnya dibalut benang merah, seperti mayat dalam prosesi Ma'nene. Di dahinya tertancap paku emas. Bibirnya dijahit setengah, dan dari sela-sela benang itu terdengar suara tangisan bayi—halus tapi mengganggu.
“Kalian sudah dipilih,” gumamnya.
“Ritual lama harus diselesaikan, atau hotel ini akan menuntut darah baru.”
Ruang Ritual Rahasia
Tia dan Reti digiring ke belakang lobi, ke sebuah pintu yang tak pernah mereka lihat sebelumnya. Di atasnya tertulis ukiran kayu:
"Banua Tangngana" — Rumah Tengah.
Ruangan itu gelap, dindingnya penuh tulang yang disusun rapi. Di tengahnya ada altar batu, dengan mangkuk berisi darah yang masih hangat. Di sekeliling altar, kerbau-kerbau kecil dari tulang berdiri, menghadap ke satu arah:
Cermin besar.
Cermin itu memperlihatkan semua kamar hotel—tapi kamar-kamar itu kini terlihat seperti kuburan basah.
Reti memeluk tubuh Tia. Ia berbisik, “Apa yang mereka inginkan dari kita?”
Pak Sampe menjawab, “Kalian adalah garis keturunan dari wanita yang membatalkan ritual ini 70 tahun lalu. Dia tamu pertama… dan dia pergi sebelum waktunya. Karena itu, roh-roh di hotel ini tak pernah bisa pulang.”
Pengorbanan yang Gagal
Pak Sampe membuka sebuah buku tua, ditulis dalam aksara lontara Toraja, sudah lusuh dan berlumut. Ia menunjuk satu halaman:
Gambar perempuan hamil yang dibakar hidup-hidup dalam kamar hotel, disaksikan oleh 6 sosok berpakaian hitam.
“Dia ibuku,” kata Pak Sampe.
“Ia hamil oleh lelaki dari luar desa. Mereka ingin memusnahkannya, karena dianggap membawa roh asing. Tapi ibuku kabur... dan ritual pembakaran gagal.”
Sejak saat itu, semua kamar di hotel itu dihuni arwah tak tenang. Hotel menjadi penjara.
“Kalian... adalah cucu dari perempuan itu.
Satu dari kalian harus mengakhiri siklus.”
Malam Penentuan
Tia dan Reti dibaringkan di dua ranjang batu di dalam ruang ritual. Pak Sampe menyalakan dupa, mulai melantunkan doa dalam bahasa yang asing.
Lalu… satu persatu hantu dari tiap kamar muncul.
-
Kamar 101: Nenek tanpa wajah, membawa kain putih basah.
-
Kamar 102: Bayi tanpa kepala, tertawa sambil merangkak.
-
Kamar 103: Lelaki gantung diri, matanya terus terbuka.
-
Kamar 104: Wanita yang membelah perutnya sendiri.
-
Kamar 105: Barto… tubuhnya kini penuh belatung.
-
Kamar 106: Anak kecil bersuara seperti kakek tua.
Mereka mengelilingi Tia dan Reti, menanti salah satu dari mereka… untuk dipilih.
Tiba-tiba…
cermin retak.
Dari dalam cermin, muncul sosok perempuan hamil, wajahnya sama persis dengan Tia. Rambutnya panjang, matanya penuh kesedihan. Ia tidak berbicara, tapi tangannya menunjuk ke Tia.
Tia Dipilih
Cahaya dari langit-langit menyinari Tia. Semua arwah berlutut. Pak Sampe menangis.
“Ritual bisa selesai. Tapi kau tidak akan kembali sebagai manusia,” katanya pelan.
Reti memeluk Tia, tapi tubuh Tia mulai memudar. Perlahan, ia berubah menjadi kabut—wajahnya tetap tenang, seolah memang sudah ditakdirkan.
Tia berkata terakhir kali:
“Jaga hotel ini... jangan biarkan pintunya terbuka untuk siapa pun lagi...”
Dan dengan itu, ia lenyap.
Lobi yang Baru
Pagi hari. Untuk pertama kalinya, matahari terbit menembus jendela hotel.
Meja resepsionis kini rapi kembali.
Dan di balik meja itu… berdiri seseorang.
Tia.
Tapi matanya kosong. Ia tersenyum… dan menyambut tamu baru yang membuka pintu depan.
“Selamat datang di Hotel Lemba Karopi.
Semoga malam Anda... penuh kenangan.”Lonceng berdentang tiga kali.
👁️ Bab 6: Tamu yang Tak Pernah Check-Out
Hari itu mendung, dan kabut turun lebih cepat dari biasanya.
Seorang pria bernama Agus, fotografer dokumenter asal Makassar, menginjakkan kakinya di tanah basah depan Hotel Lemba Karopi. Ia sedang membuat proyek dokumentasi bangunan tua bersejarah di Toraja. Tapi dari awal, langkah kakinya terasa berat.
“Hotel ini... belum pernah saya lihat di peta,” gumamnya sambil memeriksa GPS-nya yang terus berputar, tak menemukan sinyal.
Tepat saat ia mengangkat matanya...
Pintu hotel terbuka sendiri.
Senyuman Baru di Meja Resepsionis
Di balik meja resepsionis berdiri seorang perempuan muda…
Berwajah tenang. Senyumnya datar. Matanya tajam namun kosong.
Itu Tia.
Tapi kini, tak ada tanda kehidupan dalam sorot matanya. Seolah tubuhnya hanya kulit yang mengenakan kenangan.
“Selamat datang di Hotel Lemba Karopi,” katanya datar.
“Satu malam saja cukup. Tapi kenangan... bisa tinggal selamanya.”
Agus merasa ada yang aneh. Tapi, karena hujan mulai turun deras, ia terpaksa menerima kunci kamar.
“Kamar 107,” kata Tia.
“Kamar terakhir. Tamu sebelumnya... belum sempat check-out.”
Kamar yang Tak Pernah Dibersihkan
Kamar 107 sunyi. Bau anyir langsung menyeruak ketika Agus membuka pintu. Di dalamnya, tempat tidur berantakan, jendela tertutup rapat, dan di dinding... tergantung foto keluarga—wajah-wajah yang setengah terbakar.
Di meja kamar, ada catatan kecil yang tertinggal:
"Jangan pernah menatap cermin di malam hari. Jika kau dengar namamu dipanggil, abaikan. Jika pintu terbuka... jangan keluar."
—B.
Agus mengambil foto catatan itu, tapi ketika melihat pratinjau fotonya… tak ada apa-apa. Semua gambar gelap.
Malam Tak Berujung
Saat malam tiba, udara di kamar semakin dingin. Agus menyalakan lampu, tapi lampunya berkedip tak menentu. Ia merekam video dengan kameranya, mencoba mendokumentasikan suasana horor kamar itu.
Tiba-tiba… terdengar ketukan pelan dari dalam lemari.
(Tok... tok... tok…)
Agus membuka lemari… kosong. Tapi saat menoleh ke belakang, di atas tempat tidur, ada jejak kaki basah.
Lampu padam total.
Dalam kegelapan, suara Tia terdengar dari interkom kamar:
“Tamu kamar 107… waktumu sudah habis…”
Tamu Sebelumnya
Agus keluar dari kamar dan mulai menjelajahi lorong hotel. Setiap kamar kini terbuka sedikit. Di dalamnya, bayangan-bayangan berdiri kaku, memperhatikannya.
Di kamar 103, Agus melihat Reti duduk memeluk lutut, tubuhnya gemetar.
“Kau harus keluar… dia sudah jadi bagian hotel ini… dia bukan Tia lagi…”
Reti menyodorkan potongan foto—gambar Pak Sampe muda, memegang bayi perempuan di depan hotel yang masih setengah jadi.
“Itu Tia. Dia sudah dipilih sejak lahir. Dia ditanamkan roh leluhur, sebagai penjaga hotel…”
Kembali ke Lobi
Agus mencoba melarikan diri. Tapi lorong hotel tak berujung. Dindingnya terus berganti. Satu detik ia di lantai dua, detik berikutnya ia sudah di basement.
Akhirnya, ia tiba kembali di lobi.
Tia menunggunya.
Kini, ia mengenakan pakaian ritual Ma’nene lengkap. Rambutnya basah seperti habis dimandikan. Dari telapak tangannya menetes darah segar.
“Kau... bukan hanya tamu,” katanya pelan.
“Kau... pewaris yang tertinggal. Anak dari Barto.”
Agus terdiam.
“Ayahmu... mencoba membawa keluar roh dari hotel ini. Tapi gagal. Kau kembali… maka kau yang harus menggantikannya.”
Kutukan Diteruskan
Reti berteriak dari belakang, mencoba melindungi Agus. Tapi lantai retak, dan lubang hitam terbuka di tengah-tengah lobi.
Dari sana, muncul tangan-tangan tua dan tubuh-tubuh terbungkus kain tenun Toraja, menarik Agus ke bawah.
“Bantu aku…!” teriak Agus terakhir kali.
Tia menunduk. Lonceng di meja berdentang tujuh kali.
Pagi yang Baru, Resepsionis yang Baru
Pagi datang. Cahaya menyinari lobi yang kosong.
Lalu pintu depan terbuka. Seorang wisatawan baru masuk.
Di balik meja… berdiri Agus, mengenakan kemeja tenun merah darah, tersenyum.
“Selamat datang di Hotel Lemba Karopi…”
“Semoga malam Anda… tak berakhir.”
https://youtu.be/rMIYC1GQHkU?si=eLcuiRW_AsQ1dngJ

Tidak ada komentar:
Posting Komentar