https://youtu.be/x9cxRJhWEx0?si=a6OWlXj9wS2dJlZW
Bab 1: Bisikan dari Celah Tebing
Langit Toraja menjelang malam selalu memiliki warna yang aneh—bukan sekadar jingga, tapi seperti darah tua yang mengendap. Dama berdiri di kaki tebing batu raksasa yang menjulang di sisi barat Buntu Rano, desa leluhur ibunya. Di hadapannya, Lo’ko Mebali berdiri bisu dan dingin, tebing pemakaman purba yang telah dilupakan oleh waktu.
Batu-batunya hitam kehijauan, ditumbuhi lumut tua yang mengelupas seperti sisik ular. Gua-gua kecil tersebar seperti rongga mulut pada wajah raksasa yang tertidur. Tidak ada tanda-tanda kubur modern—hanya liang tua yang bahkan tidak terdata dalam registrasi adat.
Dama, seorang arkeolog muda yang sedang menyusun tesis S2-nya, merasa ada sesuatu yang tersembunyi di balik batu itu. Bukan sekadar tulang-belulang, tapi mungkin—rahasia kuno yang tak boleh disentuh.
Ia menemukan celah kecil di sisi utara tebing, tersembunyi di balik semak dan akar beringin yang menjalar. Celah itu cukup untuk dilewati tubuh manusia jika merangkak. Saat ia menyentuh dinding batu di sekeliling celah, udara menjadi berat dan tubuhnya merinding tanpa sebab.
“Dama…”
Suara itu tidak keras, tapi jelas. Seperti bisikan langsung ke dalam tengkoraknya. Ia langsung menoleh ke belakang. Tak ada siapa-siapa. Hanya angin dan desir dedaunan.
"…Siapa?” gumamnya, pelan.
Dama mencoba meyakinkan dirinya bahwa itu hanya suara angin. Tapi napasnya mulai sesak, seperti ada yang mengawasinya dari balik gelap celah itu. Ia mengambil senter kepala dari tasnya dan memasangnya. Lalu ia menyalakan kamera saku untuk dokumentasi.
“Kalau ada sesuatu… aku akan jadi yang pertama menemukannya,” bisiknya kepada diri sendiri.
Ia merangkak masuk. Bau pengap langsung menusuk hidungnya, seperti bangkai lama yang terperangkap selama ratusan tahun. Udara di dalam lebih dingin dari luar, meski tidak ada aliran angin. Hanya gelap, dan batu, dan kesunyian.
Tiba-tiba, sesuatu menyentuh pundaknya.
Dama langsung menoleh, hampir menjatuhkan senternya. Tapi tidak ada apa-apa. Ia mengangkat kamera dan memutar tubuhnya perlahan. Hanya batu, akar, dan dinding sempit. Ia menghela napas. “Halusinasi,” katanya. “Aku lelah.”
Ia merangkak lebih dalam. Celah itu mulai melebar, dan akhirnya ia menemukan sebuah ruangan kecil—kubah alami di dalam batu. Di dinding, terdapat ukiran aneh. Bukan huruf lontara. Lebih seperti simbol: dua lingkaran bertumpuk, dengan garis di tengah seperti tengkorak bermata satu.
Di tengah ruang batu itu, ada sesuatu tertanam di tanah—seperti… peti? Tidak. Lebih mirip rak kayu kecil yang sudah lapuk, dengan tulang-belulang tersusun rapi. Tapi yang aneh, ada dua tengkorak kecil di sana. Tengkorak anak-anak. Tapi gigi mereka… runcing. Tidak normal.
Tiba-tiba, kamera Dama mati.
“Ah, sial…”
Ia mencoba menyalakannya lagi. Tidak bisa. Ia memeriksa baterai—penuh. Senter kepala masih menyala, tapi cahayanya mulai berkedip seperti senter kehabisan daya. Lalu, terdengar suara…
Tiktiktiktiktik…
Seperti kuku menggaruk batu. Cepat dan tidak teratur. Lalu, terdengar napas berat. Dama memutar tubuhnya, dan untuk sesaat, ia melihat bayangan—dua sosok kecil berdiri di belakang peti itu. Anak-anak. Tanpa wajah. Hanya tengkorak. Mereka tidak bergerak, tapi matanya… menyala merah.
Dama memundurkan tubuh. Ia terantuk batu, dan senter jatuh. Cahaya mati total.
Gelap.
“Kami belum mati…”
Suara itu serempak. Seperti dua suara anak kecil berbicara bersamaan, dari dalam kepala Dama. Suaranya nyaring dan menggema dalam batok tengkoraknya. Ia menjerit.
“AAARGHH!!”
Dalam kepanikan, ia meraba lantai mencari senternya. Tapi yang ia sentuh justru sesuatu yang dingin dan licin.
Tangan.
Tangan mungil, seperti milik anak usia lima tahun, tapi tulangnya terkelupas. Jari-jarinya menggenggam tangan Dama dengan keras.
Dama menendang dan meronta, lalu berhasil keluar dari ruang batu itu dan merangkak kembali ke celah. Nafasnya memburu, jantungnya menghantam tulang rusuk seperti palu. Di belakangnya, terdengar langkah-langkah kecil berlari—tak-tak-tak—di batu.
Namun begitu ia berhasil keluar dari celah, suara itu berhenti. Malam telah jatuh. Bulan pucat menggantung di langit. Udara terasa lebih panas dari sebelumnya. Di hutan sekitarnya, jangkrik berhenti bersuara.
Ia duduk terengah di tanah, memegangi dadanya. Tangannya masih dingin… dan saat ia melihat telapak tangannya sendiri, ia terdiam. Ada bekas cakar kecil. Lima garis berdarah, seakan dicengkeram kuku anak kecil.
Dama tidak berkata apa-apa. Ia bangkit, mengambil tas dan berjalan cepat kembali ke rumah penginapan desa. Malam itu, ia tidak bisa tidur. Bukan karena takut, tapi karena suara itu kembali datang. Dari bawah lantai kayu rumah panggung tempat ia tidur…
“Kami belum mati, Dama… Kami lapar…”
Lantai berderit. Lalu… ketukan.
Tok. Tok. Tok. Tok. Tok.
Seirama. Seakan dua tangan mungil mengetuk dari bawah ranjangnya.
Bab 2: Larangan Leluhur yang Dilanggar
Suara ketukan itu terus terdengar hingga menjelang subuh.
Tok... tok... tok...
Selalu lima ketukan. Selalu di bawah tempat tidur.
Dama tak tidur sama sekali malam itu. Tubuhnya gemetar, dan bajunya basah oleh keringat dingin. Walaupun ia menyalakan lampu kamar penginapan dan menyetel radio kecil, ketukan itu tetap datang. Diam. Ketukan. Diam. Bisikan.
Ia hanya bisa duduk di pojok ruangan, memeluk lutut, sambil menggenggam sebuah liontin tua milik ibunya.
Pagi harinya, wajahnya pucat seperti orang sekarat. Tanpa berkata apa-apa kepada pemilik penginapan, ia berjalan ke rumah adat di tengah desa Buntu Rano, tempat di mana para tetua adat biasanya berkumpul setiap hari untuk minum kopi pahit dan bercakap pelan soal dunia yang mereka anggap semakin rusak.
Di sana, Dama menemui Ne' Tandung, seorang tetua perempuan yang paling tua di desa itu. Tubuhnya bungkuk, namun sorot matanya tajam seperti pahat batu. Ia duduk di tangga rumah tongkonan, mengunyah sirih sambil menatap hutan.
Dama membuka pembicaraan dengan ragu.
“Ne’… saya butuh cerita. Tentang Lo’ko Mebali. Dan tentang... dua tengkorak.”
Ne’ Tandung tidak langsung menjawab. Ia mengunyah pelan. Lama. Lalu mendesah seperti orang yang baru mengingat mimpi buruk.
“Kau ke sana, ya?” katanya akhirnya. “Kau buka sesuatu?”
Dama menunduk. “Saya masuk celah kecil. Ada ruang... ada dua tengkorak anak-anak. Mereka... hidup, Ne’.”
Ne’ Tandung menatapnya lekat-lekat, lalu meludah ke tanah. Darah sirih membentuk noda merah pekat.
“Dua itu bukan anak. Mereka bukan manusia lagi. Mereka makhluk yang dikurung karena tak bisa mati. Lo’ko Mebali bukan tempat sembarang tulang. Itu penjara. Dan kau... sudah buka pintunya.”
Dama terdiam. Lehernya menegang.
“Dulu,” lanjut Ne’ Tandung, “di masa tua nenekku, ada pasangan kembar lahir dari garis darah keturunan to balak, penjaga ilmu hitam adat yang terlarang. Anak itu tidak menangis waktu lahir. Tapi ketika malam tiba... mereka tertawa. Terus-menerus. Bahkan saat bulan mati.”
“Orang kampung mulai resah. Hewan ternak ditemukan mati dengan leher terpelintir. Ibu mereka ditemukan menggantung di pohon nangka. Tapi anak itu... tetap tertawa. Mereka suka mencakar dinding, tidur berdiri, dan... minum darah ayam hidup-hidup.”
“Para tetua adat akhirnya memutuskan: mereka bukan manusia. Mereka harus dikurung, bukan dikubur. Maka dua peti dibuat dari kayu tampa langi’, dan mereka dikubur hidup-hidup dalam tebing Lo’ko Mebali.”
Dama membatu.
“Sejak saat itu, tebing itu disegel secara adat. Tidak ada upacara. Tidak ada tanda. Hanya larangan: jangan pernah masuk ke celah yang tersembunyi. Kalau kau ganggu... mereka akan kembali mencari darah.”
Dama menarik napas panjang. “Mereka... mencariku, Ne’.”
Ne’ Tandung menatapnya dengan mata sendu. “Tentu saja. Kau telah bangunkan mereka. Dan sekarang mereka lapar.”
Malam berikutnya, Dama memutuskan menginap di rumah kerabat ibunya, seorang pria tua bernama Lando, yang tinggal agak jauh dari tebing. Ia tak ingin sendiri lagi. Rumah itu adalah tongkonan tua, besar, dan sudah mulai lapuk, namun masih berdiri kokoh dengan ukiran kayu berlumut.
Saat malam turun, Dama tidur di ruang tamu bersama anak Lando yang masih kecil. Tapi tepat tengah malam, ia terbangun oleh suara gesekan kayu. Seperti sesuatu menggaruk-garuk dinding luar rumah.
Kkrrrrk... kkkrrrk...
Dama menajamkan telinga. Anak kecil di sebelahnya masih tertidur lelap. Ia berdiri pelan, membuka jendela... dan tidak melihat apa pun.
Namun saat ia berbalik, ia membeku.
Dari sela-sela papan lantai, muncul dua jari mungil. Panjang. Kurus. Coklat kehijauan, seperti kayu busuk. Perlahan, jari-jari itu mencakar lantai dari bawah.
Dan terdengar suara pelan...
“Daaa... maaaa…”
Dama menjerit. Lando terbangun dan langsung keluar dari kamarnya.
“Apa itu?” tanya Lando sambil menggenggam parang. Tapi saat Dama menunjukkan lantai tempat jari-jari itu muncul… tak ada apa-apa.
Namun yang lebih mengerikan…
Anak kecil Lando kini duduk di sudut ruangan, wajahnya menunduk, dan dia berbisik… terus-menerus…
“Kami belum mati… kami belum mati… kami belum mati…”
Matanya kosong. Dan saat Lando memanggilnya, si anak menatap ke atas…
…dan tersenyum dengan gigi yang bukan miliknya.
Keesokan harinya, para tetua desa kembali berkumpul.
Ne’ Tandung dengan suara berat berkata, “Sudah waktunya memanggil To Mangkasalak.”
“To Mangkasalak” adalah penjaga ritual adat pemurnian jiwa, semacam eksorsis dalam tradisi kuno Toraja. Dama hanya bisa menatap dengan cemas.
“Kalau tidak,” kata Ne’ Tandung, “kedua tengkorak itu akan merasuki lebih banyak orang. Mereka akan mengirim pesan. Lalu memakan jiwa.”
“Dan itu baru permulaan.”
Di malam ketiga, setelah semua upaya menenangkan gangguan gagal, seekor babi besar milik keluarga Lando ditemukan mati di kandang—kepalanya hilang, dan darahnya membentuk lingkaran di tanah. Di tengah lingkaran itu… ada ukiran yang sama seperti di dinding ruang batu yang Dama temukan.
Dua lingkaran. Garis tengah. Tengkorak bermata satu.
Dama kini dihantui lebih dari sekadar mimpi.
Ia melihat wajah anak-anak dengan kulit robek berdiri di antara pepohonan saat ia berjalan. Ia mendengar bisikan dari air yang ditimba. Dan setiap kali ia melihat bayangannya sendiri… ia merasa bayangan itu tersenyum lebih dulu darinya.
Sesuatu telah terbuka.
Dan dua roh…
Kini berkeliaran tanpa tubuh.
Dan mereka… mencari tubuh baru.
Bab 3: Mayat Pertama di Sungai Mataallo
Pagi itu, udara di Buntu Rano lebih lembab dari biasanya. Kabut tipis menyelimuti pepohonan, dan aroma tanah basah menyeruak tajam. Namun ada sesuatu yang lain, sesuatu yang tak biasa. Burung-burung diam. Jangkrik pun tak bersuara.
Sungai Mataallo mengalir tenang seperti biasa. Tapi warga yang hendak menimba air memekik histeris begitu melihatnya—ada mayat mengambang.
Tubuh itu menghadap ke atas, pakaian compang-camping, kulit membiru membusuk cepat. Tapi yang membuat bulu kuduk meremang: matanya terbuka lebar, dan rahangnya patah seolah dipaksa terbuka dari dalam.
Lehernya… seperti ditekuk ke belakang, namun lidahnya menjulur ke luar, seakan ia berusaha berteriak sebelum mati.
Namanya Kalinga, pria paruh baya yang sehari-hari bekerja di kebun dan tinggal di sisi timur desa. Warga terakhir yang lewat Lo’ko Mebali tiga hari lalu.
Tetua adat datang. Polisi desa datang. Tapi tak ada yang bisa menjelaskan luka-luka ganjil itu.
Namun Ne’ Tandung tahu.
Dama berdiri di dekat sungai, gemetar. Ia mengenal Kalinga. Bahkan sempat berbincang dengannya saat pertama kali tiba. Kini tubuhnya dibungkus daun pisang, digotong tanpa suara menuju rumah duka.
Ne’ Tandung menepuk bahu Dama.
“Ini baru yang pertama,” katanya lirih.
“Mereka sudah mencium bau jiwa kita.”
Sore harinya, para tetua desa mengadakan sidang adat darurat. Hal ini langka, dan biasanya hanya dilakukan jika bencana atau kutukan besar mengancam.
Duduk melingkar di tongkonan utama, mereka menyalakan dupa dan membakar kulit kayu wanga. Bau menyengat menusuk udara. Dama ikut duduk di antara mereka, wajahnya penuh bayangan dosa dan ketakutan.
Salah satu tetua membuka pembicaraan dengan suara parau:
“Darah pertama sudah tertumpah… tapi bukan yang mereka cari.”
Yang lain menimpali, “Arwah yang kelaparan tak akan berhenti sampai diberi pengganti… atau diikat kembali.”
“Dan ikatan itu… sudah Dama buka.”
Semua mata menatapnya. Dama merasa napasnya tercekat.
“Apa yang harus saya lakukan?” gumamnya lemah.
Ne’ Tandung menjawab, “Kau harus kembali. Bawa petunjuk. Tapi jangan sendiri.”
“Bawa sesuatu yang bisa mengikat roh mereka. Kami akan bantu. Tapi hanya kau yang bisa masuk. Mereka terikat padamu sekarang.”
Dama hanya bisa mengangguk. Dalam dadanya, ketakutan tumbuh menjadi bayang-bayang yang tak bisa ia singkirkan.
Malamnya, Dama tidur di tongkonan bersama tiga pemuda desa yang ditugaskan menjaganya. Mereka membawa dupa, daun sirih, dan parang pusaka yang telah dibacakan mantra. Tapi perlindungan adat tidak mencegah teror itu datang.
Sekitar pukul dua dini hari… suara dari atap rumah terdengar.
Tap… tap… tap… tap…
Seperti langkah kaki anak kecil… berjalan di atas atap jerami.
Salah satu pemuda bangun, membuka jendela. Tidak ada apa-apa. Tapi suara itu terus berlanjut… kali ini dari dinding. Lalu dari bawah lantai.
Tap… tap… tap… tok. Tok. Tok. Tok. Tok.
Kemudian… dari langit-langit, menetes darah.
Setetes. Dua tetes. Tepat ke wajah Dama yang sedang terjaga. Ia menyentuh pipinya. Basah. Merah. Hangat.
Ia mendongak…
Dan melihat dua wajah anak-anak tanpa kulit menempel di antara bambu atap.
Mereka tersenyum.
“Kau bawa kami keluar, Dama… Sekarang kau harus ikut kami pulang…”
Keesokan harinya, Dama memutuskan kembali ke Lo’ko Mebali.
Didampingi oleh dua pemuda, ia membawa dupa, kain adat hitam putih, dan batu pangala’, batu ritual penyeimbang arwah. Mereka juga membawa darah ayam yang baru dipotong, sebagai persembahan.
Celah yang dulu ia masuki kini terasa lebih sempit. Lebih gelap. Lebih berbahaya. Dama merangkak perlahan, tangannya gemetar. Aroma di dalam gua kini lebih tajam. Seperti darah basi dan daging hangus.
Mereka sampai di ruang batu.
Peti kayu itu masih ada. Tapi... kini terbuka.
Tulang-tulang berserakan. Di dinding, ada coretan aneh… seperti tangan mungil mencakar batu hingga hancur. Tulisannya… samar… tapi bisa dibaca:
“Kami belum mati.
Kami belum tidur.
Kami akan pulang lewat tubuhmu.”
Salah satu pemuda memuntahkan isi perutnya di pojok gua.
Dama menaruh batu pangala’ di tengah ruang, menyalakan dupa, dan mulai membaca mantra adat yang diberikan Ne’ Tandung. Tapi sebelum ia selesai, semua api padam.
Udara menghilang. Cahaya tersedot ke dinding.
Tiba-tiba... terdengar suara anak-anak… serempak… di sekeliling mereka.
“Kami lapar… kami haus… kami ingin Dama…”
Angin kencang muncul dari balik peti. Dari sudut gelap gua, dua sosok kecil muncul perlahan.
Wajah mereka seperti tengkorak yang dibalut daging busuk. Mata merah menyala. Gigi runcing. Tubuh mereka mungil… tapi mengapung. Tak menyentuh tanah.
Pemuda yang pertama melangkah maju—langsung terlempar ke dinding dan jatuh pingsan. Pemuda kedua berteriak, mencoba membaca doa. Tapi suaranya tersedot—hilang di udara.
Dama gemetar. Ia hanya bisa menunduk, menutup mata, dan mengucapkan satu kalimat:
“Maafkan aku… aku tak tahu…”
Dan saat itu juga—semua berhenti.
Sunyi.
Api dupa menyala kembali. Udara kembali normal. Tapi di depan Dama, kini ada dua tengkorak anak-anak… tersusun rapi di dalam peti.
Mereka kembali.
Untuk sementara.
Namun ketika Dama keluar dari gua…
Ia mendapat kabar.
Mayat kedua telah ditemukan.
Seorang bocah lima tahun, anak dari tetangga Lando. Ditemukan tergantung di pohon… matanya terbuka… dan tangannya menggenggam batu kecil dengan ukiran dua lingkaran bertumpuk.
Bab 4: Dua Suara dari Dalam Peti
Malam itu, angin di desa Buntu Rano berhenti. Daun-daun bambu membeku tanpa suara. Bahkan jangkrik enggan bernyanyi. Warga yang mengetahui kabar anak kedua yang ditemukan mati tergantung—menutup pintu dan jendela mereka sebelum matahari terbenam.
Mereka tahu...
Kutukan telah bangkit sepenuhnya.
Dan Dama tahu...
Ia bukan lagi hanya pembuka jalan, tapi sudah menjadi jembatan antara dunia yang hidup dan yang mati.
Ne’ Tandung duduk diam di depan perapian rumahnya. Uap kopi tak menyamarkan tatapan matanya yang kosong. Dama datang, membawa sebongkah batu dari gua, yang diambil diam-diam setelah ritual sebelumnya. Batu itu kini bersimbah noda hitam yang tidak bisa dibersihkan, meski telah dicuci berkali-kali.
“Apa ini?” tanya Dama dengan suara serak.
Ne’ Tandung menatapnya, lalu berkata pelan:
“Itu bukan batu biasa, Dama. Itu adalah pasang niamba — tempat suara jiwa terperangkap ketika mereka tidak dikubur dengan benar.”
Dama menggenggam batu itu. Dan saat itu juga...
Suara anak-anak terdengar. Dari dalam batu.
“Dama… Dama… kami belum tidur…”
Suara mereka bukan hanya bergema,
tapi masuk langsung ke kepala Dama…
Seperti dibisikkan dari balik tengkoraknya sendiri.
Malamnya, saat sendirian di tongkonan, suara itu datang lagi. Tapi kali ini…
lebih jelas. Lebih nyata. Lebih… meminta.
“Kami bukan pembunuh. Kami dibunuh, Dama… Tolong lepaskan kami…”
Dama merasa tubuhnya menggigil tanpa sebab. Batu di tangannya mulai menghangat. Suaranya berubah—dari bisikan lembut menjadi jeritan kecil yang menyayat:
“Tengkorak kami tak mau tidur!
Tengkorak kami masih menangis!Balaskan kami, Dama… atau kami akan mengambil tubuhmu.”
Lalu, seketika, seisi tongkonan berguncang.
Dinding bambu retak. Suara langkah kaki kecil berlari-lari di plafon. Api lampu minyak menyala dua kali lebih terang… lalu padam.
Dalam kegelapan itu…
mata Dama menangkap dua bayangan anak-anak duduk di sisi ruangan.
Mereka tidak bergerak. Tidak bersuara.
Tapi mereka melihatnya.
Dengan mata putih polos tanpa bola mata.
Keesokan harinya, Ne’ Tandung memanggil Dama dan membawanya ke seorang tetua ritual tua bernama Puang Layuk, seorang penjaga naskah kuno yang menyimpan pengetahuan tentang “roh longko”—roh gentayangan yang tersimpan di dalam kepala manusia.
Puang Layuk membuka lontara’ usang, lalu menunjukkan gambar yang membuat darah Dama dingin:
Dua anak kembar dengan tengkorak yang bersinar.
Dikelilingi simbol lingkaran dan tali.
Mereka disebut “Tau Tallu Solle”—roh anak-anak kembar yang dibunuh untuk menyegel dosa leluhur.
“Mereka bukan dikuburkan untuk dihormati,” ucap Puang Layuk lirih,
“Tapi dikurung agar tidak membocorkan rahasia… tentang pengorbanan yang dilakukan leluhurmu sendiri.”
Dama terdiam. Dunianya runtuh.
Apakah ia telah membebaskan dua roh yang disiksa oleh darah keluarganya sendiri?
Hari-hari berikutnya, desa mulai diselimuti oleh ketakutan massal.
-
Kambing ditemukan tergantung terbalik di sawah.
-
Anak-anak kecil mulai berbicara dengan 'teman yang tak terlihat'.
-
Dan setiap malam, ada suara dua anak tertawa dari arah gua.
Tetua adat mengadakan rapat kedua. Kali ini, wajah mereka pucat. Tubuh mereka dibalut kain kematian hitam.
“Kita harus menyegel kembali peti itu…
…atau mengorbankan satu tubuh baru untuk ditukar.”
Semua mata beralih ke Dama.
Ia menunduk. Dalam hatinya, suara-suara itu kini tidak hanya menakutkan.
Mereka membentuk kalimat.
“Kau tahu siapa yang mengurung kami, Dama…
Dia masih hidup…
Dan jika kau tak serahkan dia,
Kau akan menjadi tubuh kami berikutnya.”
Dama mulai bermimpi… tentang masa lalu yang tak pernah ia alami. Dalam mimpinya, ia melihat seorang pria tua membawa dua bayi, lalu mengurung mereka di dalam gua dengan mulut dibungkam, tubuh dibalut kain adat, dan kepala dipukul hingga mati.
Dama mengenali wajah pria itu.
Itu kakeknya sendiri.
Orang yang dulu sangat dihormatinya.
Orang yang jasadnya dimakamkan di bukit selatan desa,
…dengan semua kehormatan dan upacara lengkap.
Kini, dua tengkorak yang ia bangunkan
ingin keadilan.
Dan mereka hanya akan berhenti…
jika darah keturunan pembunuh itu dibayar setimpal.
Bab 5: Pengorbanan di Bawah Tanah
Dama tidak tidur malam itu.
Tubuhnya rebah, tapi pikirannya terus berputar—menahan jeritan-jeritan halus yang kini menghantui bahkan di siang hari. Dua suara kecil... tak pernah pergi. Mereka berbicara saat ia minum, saat ia duduk, bahkan saat ia memejamkan mata.
“Kami sudah dikubur hidup-hidup…
sekarang waktunya kau pilih siapa yang akan menggantikan kami…”
Di desa Buntu Rano, teror telah menjadi kebiasaan.
Seorang wanita ditemukan dengan lidah menghitam, mengerang-ngerang tak jelas, dan tertawa sambil menunjuk ke arah Lo’ko Mebali.
“Ada anak-anak… pakai darah, mainkan jari-jari saya…” katanya sambil menggigiti tangannya sendiri.
Pendeta adat menabuh gendang tua di halaman kampung. Upacara tolak bala dilakukan. Tapi malam berikutnya, dua anak kecil warga desa menghilang setelah bermain dekat tebing.
Ne’ Tandung, yang semakin lemah sejak malam kematian kedua anak desa, memberi satu pesan terakhir pada Dama:
“Kau satu-satunya yang bisa mendengar mereka...
Kau bukan hanya warisannya, Dama.Kau adalah pintu pengampunan… atau kutukan terakhir desa ini.”
Dama menangis. Ia tidak pernah meminta ini. Ia tidak ingin menjadi jembatan antara darah dan arwah. Tapi pilihan tidak ada lagi.
Malam keempat.
Dama datang ke makam kakeknya—Tandung Malangka. Ia membawa batu pasang niamba, dua daun sirih berdarah, dan sesajen dari jantung ayam hitam.
Di depan liang batu tua, ia membaca mantra yang pernah ia dengar diam-diam dari Puang Layuk.
“Roi tallu… karampuang makapa...
Arang tua padinna, dekke’ solle allinna...Biarkan yang tersembunyi terbakar,
dan rahasia keluar dengan darah.”
Udara menjadi berat. Napasnya sesak. Dan tanah di depan makam bergerak.
Bukan hanya suara tanah bergeser…
tapi seperti tarikan dari bawah.
Dari dalam gelap, muncul dua sosok kecil.
Tubuh mereka kini berdaging setengah, seperti tengah tumbuh kembali.
Tulang-tulang wajah mulai tertutup daging tipis…
Namun masih bolong di bagian mata.
“Kami hampir lengkap, Dama…
Tapi butuh tubuh satu lagi…”
Mereka menunjuk makam itu.
“Buka batu itu. Dan ambil sisa darahnya…”
Dama, setengah kesurupan, mulai mengetuk batu makam dengan martil besi kecil yang dibawanya. Tidak perlu waktu lama—batu pecah… dan udara busuk menyembur keluar.
Dari balik makam, ia melihat tengkorak kakeknya.
Namun di bawah tengkorak itu…
terdapat dua benda kecil.
Dua jari tangan.
Kering. Mengecil. Tapi masih utuh.
Jari anak-anak.
Mereka dikubur bersama jari korban, agar roh anak itu tak pernah bisa lepas.
Peti itu bukan untuk menyegel roh. Tapi sebagai alat kontrol.
Suara dua anak itu kini berubah… lebih dalam… lebih menyerupai suara manusia dewasa.
“Dia memotong kami…
Dia yang mengurung kami dalam tanah…”
“Sekarang, kami ingin tubuh yang utuh. Dan suara yang bebas…”
Dama tahu… satu-satunya cara untuk mengakhiri ini…
bukan menutup makam…
tapi membuka semua rahasia.
Ia kembali ke desa keesokan harinya.
Dengan mata sayu, tubuh kurus, dan langkah pelan seperti mayat hidup.
Ia memanggil semua tetua dan pendeta adat. Ia minta satu hal:
“Gali makam Tandung Malangka.
Buka petinya. Lihat sendiri apa yang dia simpan.”
Mereka menolak.
Tapi malam itu…
petir menyambar pohon tua di tengah desa.
Langit menjadi merah.
Dan dari kejauhan, terdengar tangisan dua anak-anak yang tak berhenti.
“Kami akan ambil tubuh kami sendiri…
Jika tak kau serahkan darahnya.”
Tengah malam.
Desa terguncang oleh teriakan.
Rumah Puang Layuk terbakar.
Tubuhnya ditemukan dalam posisi membungkuk, kedua tangan terpotong, dan matanya dicongkel.
Di dinding rumahnya tertulis dengan darah:
“TIGA DARAH HARUS TERTUMPAH.
DUA TELAH DIAMBIL.
SATU MASIH BERSEMBUNYI.”
Semua warga kini percaya… kutukan bukan dari Dama…
tapi dari mereka yang mencoba menutupinya.
Bab ini berakhir di bawah tanah.
Di sebuah gua tersembunyi, Dama kini duduk sendiri.
Dua tengkorak kini telah berubah menjadi dua anak yang hampir sempurna.
Dan mereka berkata:
“Kau telah memilih sisi kami, Dama.
Kini tinggal satu hal terakhir:Serahkan tubuh terakhir.
Atau tubuhmu sendiri jadi milik kami.”
Bab 6: Tengkorak Terakhir di Lo’ko Mebali
Langit Toraja malam itu seolah berhenti bernapas.
Tidak ada bintang, tidak ada bulan.
Hanya kabut tebal yang merayap seperti ular di antara atap-atap tongkonan.
Di gua Lo’ko Mebali, Dama duduk dalam diam, tubuhnya lemah, matanya merah karena tidak tidur dua hari.
Dua sosok kecil duduk di hadapannya—bukan lagi tengkorak, bukan pula anak-anak biasa.
Mereka adalah sesuatu di antara roh dan daging.
Tubuh mereka hampir sempurna, tapi kulitnya seperti belum selesai dijahit oleh alam.
“Dama,” kata yang lebih tua dengan suara seperti retakan batu.
“Tubuh kami hampir lengkap. Tapi belum bisa bergerak bebas… sebelum satu tubuh terakhir dikorbankan.”
Dama menunduk.
Tubuh terakhir.
Roh terakhir.
Pengorbanan terakhir.
Ia tahu siapa yang dimaksud.
Flashback menghantam pikirannya…
Seorang wanita, hamil tujuh bulan, menangis di bawah pohon ara.
Dikejar warga, dituduh membawa kutukan.
Ia dilempari batu, ditendang, lalu dikurung di gua gelap.Ia melahirkan dua anak kembar…
Anak dari laki-laki yang berkuasa: Tandung Malangka.
Dama menahan napas.
Kisah ini disembunyikan dari semua. Tapi kini roh dua anak itu memaksanya mengingat.
Tandung Malangka, kakeknya sendiri, pernah memperkosa perempuan muda dari dusun bawah.
Saat perempuan itu melahirkan, dua bayi itu tidak dibunuh, tapi dikorbankan hidup-hidup, dikubur bersama jari dan tulang.
Agar tidak ada yang tahu.
Dan sekarang…
Mereka ingin balas.
“Tiga darah harus tertumpah…
Dua sudah kami ambil…
Tapi darah keturunan pelaku belum,”
bisik yang satu lagi sambil mengelus lengan Dama.
“Dama… kau adalah darah itu.”
Dama menggigil.
“Kalau kau menyerahkan dirimu, kami bebas…
Tapi kalau tidak—darah lain akan kami ambil, sebanyak yang perlu.”
Dama berlutut. Menangis.
“Apa kalau aku menyerahkan diriku… desa ini akan selamat?”
Anak-anak itu hanya tersenyum.
Dan mengangguk perlahan.
Tapi saat Dama mengambil belati dari ransel…
Ia mendengar suara dari balik gua:
“Berhenti, Dama!”
Itu suara Ne’ Tandung, tua, rapuh, tapi penuh kekuatan.
Di belakangnya: beberapa tetua adat, pendeta, dan warga desa.
“Kami telah melihat makam Tandung Malangka…
Kami tahu apa yang dia lakukan…”
Salah satu pendeta menunduk:
“Seluruh desa menanggung dosa karena membungkam kebenaran.
Tapi tidak seharusnya kau… cucunya… membayar lunasnya.”
Dama menoleh pada dua anak kembar itu.
Mata mereka hitam. Tak berkedip. Tapi tubuh mereka bergetar.
“Jika bukan Dama, lalu siapa?!” teriak salah satunya.
“Kami dibunuh tanpa alasan! Kami berhak mendapat tubuh yang utuh!”
Ne’ Tandung maju perlahan. Tangannya gemetar.
“Maka biar aku…
Darah perempuan yang membuka jalan bagi dosa Tandung Malangka…
Aku, yang dulu tahu tapi diam.”
Ia membuka baju ritualnya.
Menyerahkan dirinya.
Dan berlutut.
Dama berteriak.
“Tidak! Nene’! Kau bukan pelaku!”
“Tapi aku saksi. Dan aku diam…”
Langit bergemuruh.
Tanah di bawah gua berguncang.
Kabut memasuki celah-celah batu.
Dua anak itu bergerak cepat, menyentuh kepala Ne’ Tandung…
Dan dalam satu hembusan napas panjang…
Tubuh mereka perlahan menyatu.
Tidak lagi dua, tapi satu—anak kecil laki-laki berumur sekitar delapan tahun, mengenakan pakaian tenun Toraja yang robek-robek.
Ia berdiri. Menatap Dama.
“Kami… akhirnya bebas.”
“Tapi harga dari keadilan…
Selalu dibayar dengan nyawa.”
Gua runtuh.
Suara teriakan warga bergema.
Tapi dari sela-sela batu, hanya satu sosok yang keluar.
Dama.
Wajahnya pucat.
Tangannya berlumuran darah.
Dan matanya… kosong.
Beberapa bulan kemudian…
Desa Buntu Rano menjadi sunyi.
Banyak keluarga pindah.
Lo’ko Mebali ditutup secara adat, dengan puluhan kayu salib dan sesajen gantung.
Tapi di malam-malam tertentu…
Anak-anak yang lewat dekat tebing itu…
Kadang mendengar suara tepuk tangan kecil.
Dan suara dua anak bernyanyi dengan nada gelap:
“Kami tidur di tanah yang gelap…
Kini kami bermain di atas darah…
Siapa diam…
Akan kami panggil pulang.”
TAMAT

Tidak ada komentar:
Posting Komentar