Kamis, 25 September 2025

👻 Cerpen Horor: Bisikan dari Lemari Tua

 


👻 Cerpen Horor: Bisikan dari Lemari Tua

Pintu yang Tak Pernah Tertutup

Penulis: Risti Windri Pabendan

Pintu yang Tak Pernah Tertutup

Lemari Warisan

Kos Nadya yang lama akhirnya ia tinggalkan, dan kini ceritanya berpindah ke Rina, mahasiswi baru yang mencari kamar murah di pusat kota. Ia menemukan sebuah kamar dengan harga miring, namun pemilik kos berpesan satu hal:

“Lemari tua di pojok kamar jangan dibuang, ya. Itu sudah ada di situ sejak lama.”

Rina mengangguk, tak berpikir macam-macam. Lemari itu besar, terbuat dari kayu jati, penuh ukiran rumit. Catnya sudah kusam, dan pintunya agak bengkok.

Pintu yang Tak Pernah Tertutup

Malam pertama, setelah membereskan barang, Rina mencoba menutup pintu lemari. Tapi sekeras apa pun ia mendorong, pintu itu selalu terbuka sedikit—menyisakan celah gelap di antara dua daun pintu.

“Dasar tua…” gumamnya.

Namun ketika lampu dimatikan, ia merasa celah itu terlalu… mengundang. Gelap pekat, seolah ada mata yang menatap dari dalam.

Bisikan Pertama

Tengah malam, Rina terbangun. Ada suara samar dari arah lemari.

sshh… sini…

Rina menegakkan tubuh, menatap lemari itu. Pintu masih terbuka sedikit. Ia bangkit, mencoba menutupnya lagi. Tapi kali ini, dari celah itu keluar hembusan angin dingin.

Dan bersamaan dengan itu, suara lebih jelas terdengar:
“Jangan tutup… aku masih di sini.”

Rina terdiam, tubuhnya membeku. Matanya menatap celah gelap itu, dan ia merasa ada sesuatu yang bergerak di baliknya.

Dengan tangan gemetar, Rina menutup pintu lemari sekali lagi, menumpuk kursi di depannya agar tidak terbuka.

Namun saat ia kembali ke ranjang dan memejamkan mata, suara itu terdengar tepat di telinganya.
“Aku sudah melihatmu.”

Hari yang Penuh Gelisah

Seharian penuh, Rina tak bisa berhenti memikirkan kejadian semalam. Ia mencoba menghibur dirinya dengan berpikir logis: mungkin suara itu hanyalah halusinasi karena lelah pindahan.

Namun, rasa takut tetap mengendap di pikirannya. Celah gelap pada lemari itu seperti terus menatapnya, bahkan ketika ia berusaha menghindari tatapan.

Siang hari, ia mencoba kembali menutup pintu lemari rapat-rapat, bahkan menumpuknya dengan koper. Tapi tetap saja, pintu itu selalu membuka sendiri, menyisakan celah kecil.

“Dasar barang rongsokan,” gerutunya, pura-pura tenang.

Namun jauh di dalam hati, ia tahu… lemari itu bukan sekadar barang tua.

Malam Kedua Dimulai

Malam kembali datang. Kos itu terasa semakin sunyi, hanya suara kipas angin tua yang berdecit pelan.

Rina menyalakan lampu tidur kecil di samping ranjang, enggan membiarkan kamarnya terlalu gelap. Ia menutup matanya, berusaha tidur lebih cepat daripada semalam.

Tapi menjelang tengah malam, rasa kantuknya buyar.

Ada suara.
Pelan, seperti kuku yang menggores kayu.

krk… krk… krk…

Rina membuka mata perlahan. Dan seperti yang ia takutkan, suara itu berasal dari arah lemari.

Celah pintunya kini sedikit lebih lebar daripada sebelumnya.

Bisikan yang Semakin Dekat

“Rina…”

Suara itu terdengar jelas. Kali ini bukan bisikan samar. Itu seperti seseorang benar-benar memanggil namanya dari dalam lemari.

Jantung Rina berdegup kencang. Ia menutup telinganya dengan bantal, tapi suara itu justru semakin jelas.

“Rina… jangan tidur. Lihat aku…”

Dengan gemetar, ia menoleh ke arah lemari. Celahnya kini tampak lebih gelap dari seluruh ruangan. Gelap yang terasa hidup, seolah ada sesuatu yang bersembunyi di baliknya.

Tiba-tiba, dari celah itu muncul sesuatu.

Sebuah jemari pucat. Panjang, kurus, dengan kuku yang retak dan kotor. Jemari itu meraba udara, mencari sesuatu—atau seseorang.

Rina menahan napas, tubuhnya kaku. Jemari itu bergerak perlahan, menyusuri tepian pintu lemari, lalu berhenti… mengarah lurus ke tempatnya berbaring.

Jemari yang Mencari

Rina menarik selimutnya hingga menutupi seluruh tubuh, seperti anak kecil yang takut pada monster. Tapi ia bisa mendengar suara jemari itu menggores lantai kayu:

krk… krk…

Jemari itu semakin panjang, merayap di lantai menuju ranjangnya.

Rina ingin berteriak, tapi suaranya tercekat di tenggorokan. Air matanya mulai mengalir, tubuhnya gemetar hebat.

Ketika jemari itu hampir menyentuh sisi ranjang, tiba-tiba terdengar suara pintu kamar kos diketuk keras.

“Rina! Kamu belum tidur? Lampu kamarmu masih nyala!” suara ibu kos terdengar dari luar.

Dalam sekejap, jemari itu menyusut kembali ke celah lemari, menghilang. Pintu lemari menutup rapat, seolah tidak pernah terbuka.

Rina langsung melompat, membuka pintu. Wajahnya pucat. Ibu kos menatap heran.

“Kamu sakit?” tanya ibu kos.

Rina hanya menggeleng, tak sanggup menjelaskan. Ia menatap ke arah lemari, dan sejenak merasa lemari itu ikut menatap balik, diam… tapi penuh ancaman.

Rahasia Lama

Keesokan paginya, Rina memberanikan diri bertanya pada ibu kos tentang lemari itu.

“Bu… lemari itu… kenapa nggak dibuang aja? Kan udah tua banget.”

Ibu kos terlihat ragu, lalu menjawab singkat:
“Itu peninggalan pemilik kos lama. Katanya kalau dibuang, selalu balik lagi ke kamar ini. Jadi… biarkan saja.”

Jawaban itu membuat Rina semakin takut. Ia merasa seolah lemari itu memang punya kehidupan sendiri.

Malam nanti, ia tahu sesuatu yang lebih buruk akan terjadi. Jemari itu baru permulaan.

 Malam Kedua yang Tak Berakhir

Malamnya, Rina menyiapkan ponselnya untuk merekam video, berharap bisa menangkap bukti. Ia menaruh kamera menghadap lemari dan pura-pura tidur.

Tengah malam, suara itu muncul lagi. Kali ini lebih keras.
krk… krk… krk…

Celah pintu lemari terbuka perlahan, meski Rina yakin sudah menumpuk koper di depannya. Dari celah itu, jemari pucat muncul lagi—bukan hanya satu, tapi banyak.

Beberapa jemari merayap keluar, panjang seperti ular, menggores lantai, naik ke meja, bahkan hampir mencapai ranjang.

Rina menahan napas di balik selimut, sementara kamera ponselnya merekam semuanya.

Bisikan itu kembali terdengar, lebih jelas, lebih dekat.
“Kami lapar… kami ingin keluar…”

Jemari-jemari itu bergerak cepat, menempel di kaki ranjang, mengguncang kasur. Seluruh tubuh Rina bergetar hebat, dan akhirnya ia tak bisa menahan teriakannya lagi.

“AAAKKHHH!!!”

Teriakan itu membuat jemari-jemari itu langsung lenyap, pintu lemari menutup dengan keras.

BAMM!

Rina terengah-engah, matanya mencari ponsel di meja. Tangannya gemetar saat memutar rekaman yang ia buat.

Namun, layar ponsel menunjukkan sesuatu yang membuat darahnya membeku.

Video hanya menampilkan Rina yang tidur gelisah di ranjang. Tidak ada suara bisikan, tidak ada jemari, tidak ada lemari yang terbuka.

Semuanya terlihat normal.

Kecuali satu hal.

Di menit terakhir video, ketika Rina berteriak ketakutan, layar menampilkan wajahnya sendiri… tersenyum lebar… dari dalam celah lemari.

Rekaman yang Salah

Pagi itu, Rina masih gemetar mengingat kejadian malam sebelumnya. Jemari pucat yang keluar dari celah lemari membuatnya hampir gila. Tapi yang lebih mengganggu adalah rekaman ponselnya.

Ia memutarnya berulang kali, berharap ada penjelasan. Namun hasilnya tetap sama: tidak ada jemari, tidak ada pintu lemari yang bergerak. Hanya dirinya sendiri yang tidur resah.

Lalu muncul wajah itu. Wajahnya sendiri yang tersenyum lebar dari dalam celah lemari, padahal ia yakin benar dirinya sedang tidur di ranjang.

“Gila… gue gila apa gimana ini?” Rina meremas rambutnya, hampir menangis.

Suara dari Balik Pakaian

Hari itu ia mencoba menenangkan diri dengan kuliah dan menghabiskan waktu di luar kamar. Tapi malam tetap datang.

Rina menatap lemari itu dengan ketakutan. Kali ini ia memutuskan untuk berani. Ia menyalakan lampu terang, berdiri di depan lemari, dan perlahan membuka pintunya.

Celah itu menganga lebih lebar, memperlihatkan deretan pakaian yang digantung. Bau apek dan debu menyeruak, membuatnya batuk.

Awalnya tidak ada apa-apa. Tapi ketika ia meraih baju untuk memeriksa lebih dekat, ia mendengarnya.

Bisikan.

Samar, dari sela pakaian yang bergoyang pelan tanpa angin.
“…Rina… sembunyikan aku… tolong sembunyikan aku…”

Rina menjatuhkan bajunya dan mundur. Ia menatap lemarinya dengan wajah pucat.

“Siapa di sana?!” teriaknya dengan suara bergetar.

Tidak ada jawaban, hanya kain-kain yang bergoyang seolah ada sesuatu yang bersembunyi di antaranya.

Sahabat yang Tak Percaya

Keesokan harinya, Rina menceritakan semuanya pada sahabatnya, Dinda.

Namun Dinda hanya tertawa kecil.
“Rin, lo kecapean aja. Lo pindahan, lo stress. Jadi otak lo nge-prank diri lo sendiri.”

“Dinda, gue serius! Ada sesuatu di lemari itu. Ada suara, ada jemari, bahkan muka gue sendiri muncul dari celahnya!”

Dinda menghela napas, menepuk bahu Rina.
“Kalau lo emang takut, yaudah, nanti gue nginep di kos lo. Biar gue juga lihat langsung. Deal?”

Mendengar itu, Rina agak lega. Setidaknya ada saksi lain kalau kejadian itu terulang.

 Malam Bersama Dinda

Malam itu, Dinda benar-benar menemaninya. Mereka berdua duduk di ranjang sambil menatap lemari yang berdiri angkuh di sudut kamar.

“Kayak lemari biasa aja tuh,” gumam Dinda sambil memainkan ponselnya.

Rina tidak menjawab. Ia tahu, biasanya sesuatu baru terjadi lewat tengah malam.

Dan benar saja. Sekitar pukul dua belas, pakaian di dalam lemari bergoyang pelan, padahal jendela tertutup rapat.

“Din… lo liat nggak?” bisik Rina.

Dinda menoleh, wajahnya mulai serius. “Iya, gue liat.”

Kemudian terdengar suara lirih. Kali ini jelas terdengar oleh mereka berdua.
“…tolong sembunyikan aku… dia mencariku…”

Mata Dinda melebar, ponselnya terjatuh. Ia menatap Rina dengan ketakutan.
“Lo… lo denger itu juga?”

Rina mengangguk, tubuhnya gemetar.
“Gue bilang apa, Din… gue nggak gila…”

 Sosok di Balik Pakaian

Mereka berdua memberanikan diri mendekat. Dinda menyalakan flashlight dari ponselnya, menyinari celah pakaian dalam lemari.

Di antara lipatan kain itu, mereka melihat sesuatu.

Sebuah wajah. Pucat, matanya hitam, mulutnya ternganga seperti menjerit tanpa suara. Wajah itu menatap mereka dengan ekspresi putus asa, seakan benar-benar butuh pertolongan.

“Ya Allah…” Dinda mundur sambil menjerit.

Namun wajah itu tiba-tiba berubah. Senyumnya melebar, giginya hitam semua. Dari mulutnya, suara tawa kecil terdengar.

“Kalian sudah melihatku…”

Pakaian-pakaian itu terlempar sendiri, berhamburan keluar dari lemari. Sosok gelap muncul di baliknya, melangkah perlahan, namun tubuhnya tetap tersembunyi di balik bayangan.

Malam yang Panjang

Rina dan Dinda berlari ke ranjang, menutup diri dengan selimut sambil berpegangan tangan.

Langkah-langkah samar terdengar di lantai kayu, berputar di sekitar kamar. Bisikan-bisikan itu semakin banyak, kini terdengar seperti lebih dari satu orang.

“Sembunyikan aku…”
“Aku di sini…”
“Jangan biarkan dia menemukanku…”

Rina menangis. Dinda terisak di sampingnya.

Kemudian, sesuatu meraih selimut mereka dan menariknya perlahan. Jemari pucat muncul lagi, kali ini lebih banyak, merayap dari balik selimut, dari bawah ranjang, dari arah lemari yang terbuka lebar.

Rina menjerit, menendang jemari itu sekuat tenaga. Dalam kepanikan, ia meraih Al-Qur’an kecil yang selalu ia simpan di meja belajar. Ia memeluknya erat sambil membaca doa seadanya.

Suara-suara itu langsung melengking marah. Jemari-jemari itu menyusut, lemari bergetar keras, pintunya menutup sendiri dengan suara menggelegar.

BAMMM!

Setelah Semua Hening

Suasana hening kembali. Rina dan Dinda hanya bisa terisak, tubuh mereka masih gemetar.

“Apa… apa tadi itu?” suara Dinda parau.

Rina menggeleng, wajahnya pucat. “Gue nggak tau… tapi jelas itu bukan manusia.”

Mereka berdua tidak tidur sama sekali malam itu. Begitu pagi datang, Dinda langsung pulang dengan wajah ketakutan.

Namun sebelum pergi, ia menatap Rina serius.
“Rin… lo harus cari tahu asal usul lemari itu. Kalau nggak, lo bakal hancur di sini.”

Rina duduk di kamarnya, menatap lemari yang kini tampak diam, seolah tidak pernah melakukan apa-apa.

Namun ia tahu, di balik pintu kayu itu, sesuatu sedang menunggu. Sesuatu yang ingin keluar, dan sudah terlalu lama bersembunyi.

Dan ia juga tahu, ia tidak bisa terus mengabaikannya.

Jika ingin selamat, ia harus tahu siapa yang berbisik dari balik pakaian itu… dan siapa yang dikejarnya.

 Jejak Masa Lalu

Setelah kejadian bersama Dinda, Rina tahu ia tidak bisa lagi menganggap semua itu sebagai halusinasi. Ia pergi ke perpustakaan kampus, mencari tahu sejarah bangunan kosnya.

Dari arsip lama, ia menemukan bahwa rumah kos itu dulunya adalah rumah keluarga Belanda pada masa kolonial. Sang pemilik, seorang pria kaya, dikenal memiliki lemari kayu jati berukir yang konon dibuat khusus oleh pengrajin Jawa.

Namun catatan berakhir tragis: putri kecil sang pemilik menghilang secara misterius. Saksi terakhir mengatakan, gadis itu terakhir terlihat bermain di sekitar lemari tua di kamarnya.

Rina merinding membaca kalimat terakhir di arsip:
“Setelah kejadian itu, keluarga tidak pernah bisa menutup pintu lemari sepenuhnya. Seakan-akan lemari itu menolak untuk kosong.”

Bisikan yang Memburu

Malamnya, Rina pulang dengan kepala penuh bayangan buruk. Ia menumpuk kursi, koper, bahkan meja di depan lemari, berharap bisa menghalanginya.

Namun bisikan itu tetap terdengar.
“Dia masih mencariku…”
“Buka pintunya, Rina…”

Kali ini suara-suara itu tidak hanya dari dalam lemari. Dari dinding, dari lantai, dari kaca jendela. Seakan seluruh kamar ikut berbisik.

Rina menutup telinga, berteriak histeris. “Diam! Diam kalian!”

Tiba-tiba kursi yang menumpuk di depan lemari bergeser sendiri. Satu per satu barang penghalang terjatuh, terdorong oleh kekuatan tak terlihat.

Pintu lemari berderit, terbuka perlahan.

Dunia di Balik Lemari

Rina terpaku. Dari dalam lemari, bukan hanya pakaian yang terlihat. Celah itu kini memperlihatkan sebuah lorong gelap yang panjang, seperti jalan menuju dunia lain.

Hembusan angin dingin keluar dari dalam, membawa aroma tanah basah dan sesuatu yang busuk.

Rina merasa tubuhnya ditarik. Ia mencoba berpegangan pada ranjang, namun kekuatan itu semakin kuat. Jemari pucat bermunculan, meraih pergelangan kakinya, menyeretnya ke arah pintu lemari.

“Lepaskan aku!” Rina berteriak, menendang liar.

Namun jemari-jemari itu semakin banyak. Dari celah pakaian, wajah-wajah pucat muncul, menangis tanpa suara, lalu tersenyum seram.

 Menelan Segalanya

Rina berhasil meraih ponselnya dan menyalakan flashlight. Dalam cahaya itu, ia melihat hal yang membuat jantungnya berhenti sejenak.

Di dalam lorong lemari itu, ada banyak tubuh bergelantungan. Tubuh-tubuh orang yang pernah ditelan lemari. Mata mereka kosong, namun mulut mereka tetap bergerak, berbisik bersama-sama.

“Kami di sini… ikutlah bersama kami…”

Rina menjerit, berusaha melepaskan diri. Tapi jemari itu terlalu kuat. Dalam sekejap, setengah tubuhnya sudah terseret masuk ke dalam lemari.

Ia meraih bingkai pintu kayu, kukunya patah saat berpegangan. Air matanya bercucuran.

Namun saat hampir seluruh tubuhnya terseret, suara ketukan keras di pintu kamar terdengar.

Tok! Tok! Tok!

“Rina! Kamu nggak apa-apa?!” Suara ibu kos memecah keheningan.

Seketika, jemari-jemari itu melepasnya. Lorong gelap menghilang, pintu lemari menutup rapat.

Rina terjatuh ke lantai, tubuhnya penuh luka goresan.

Bukti Nyata

Ibu kos masuk, wajahnya khawatir. “Ya ampun, Rina, kamu kenapa?!”

Rina ingin menjelaskan, tapi lidahnya kelu. Ia hanya menunjuk lemari dengan tangan gemetar.

Ibu kos menatap lemari itu dengan wajah muram. “Aku sudah bilang… jangan usik lemari itu. Kalau bisa, jangan pernah menatapnya terlalu lama.”

“Bu… apa sebenarnya yang ada di lemari itu?” tanya Rina dengan suara parau.

Ibu kos terdiam lama, lalu menjawab pelan.
“Anakku dulu juga… hilang di depan lemari itu.”

Malam itu, Rina duduk di pojok kamar dengan tubuh gemetar. Ia menatap lemari tua itu dengan rasa benci dan takut bercampur jadi satu.

Kini ia tahu satu hal: lemari itu bukan hanya tempat bersembunyi sesuatu. Lemari itu adalah pintu. Pintu yang bisa menelan siapa saja yang berani mendekat.

Dan entah mengapa, ia merasa pintu itu semakin lapar.

Besok atau lusa, mungkin ia tidak akan bisa menolaknya lagi.

Lemari yang Terus Memanggil

Rina sudah tak tidur dua malam berturut-turut. Setiap kali ia terpejam, bisikan itu masuk lebih jelas ke telinganya.
“Rina… waktumu sudah habis… masuklah bersamaku…”

Pintu lemari selalu sedikit terbuka walau sudah ia paku. Bahkan ketika ia mengikatnya dengan rantai dan gembok, esoknya rantai itu jatuh sendiri, seolah sesuatu dari dalam sengaja melepaskannya.

Ia tahu, cepat atau lambat, ia harus berhadapan langsung dengan apa pun yang ada di balik lemari itu.

Pengakuan Ibu Kos

Suatu sore, Rina memberanikan diri mendatangi ibu kos. Wanita itu awalnya enggan bicara, namun ketika Rina menunjukkan luka goresan di kakinya, wajah ibu kos langsung pucat.

“Aku kira hanya aku yang mengalaminya…” gumamnya.

Ia lalu bercerita. Anaknya dulu hilang di dalam kamar itu. Malam sebelum menghilang, anaknya mengatakan ia sering mendengar suara anak kecil dari dalam lemari, mengajaknya bermain.

“Besok paginya, aku menemukan lemari itu terbuka, dan anakku tidak pernah kembali,” ucap ibu kos dengan mata berkaca-kaca.

Rina menggigil. Jadi selama ini, bukan hanya legenda. Lemari itu benar-benar menelan manusia.

Ritual yang Dilupakan

Ibu kos lalu menunjukkan sesuatu: sebuah buku tua berisi catatan ritual Jawa kuno. Buku itu diwariskan dari nenek buyutnya, yang dulu adalah pembantu di rumah Belanda tempat lemari itu berasal.

Dalam catatan, tertulis bahwa lemari itu bukan lemari biasa. Ia adalah wadah bagi roh penasaran, tempat “dititipkannya” arwah anak-anak korban wabah. Lemari itu seharusnya dimeteraikan dengan sesajen dan mantra tertentu setiap bulan purnama.

“Tapi setelah keluarga Belanda itu mati, tidak ada lagi yang melakukan ritual itu. Sejak itu… lemari lapar sendiri.”

Rina merasa udara di sekeliling mereka semakin dingin saat buku itu dibuka. Halaman terakhir bahkan memiliki noda merah kecokelatan, mirip darah yang sudah mengering.

Malam Purnama

Kebetulan, malam itu adalah malam purnama. Ibu kos memohon agar Rina keluar dari kamar dan menginap di tempat lain. Tapi Rina menolak.

“Aku sudah terlalu lama dikejar-kejar bisikan itu. Kalau aku kabur, ia akan terus mengikutiku. Lebih baik aku menghadapinya sekarang.”

Dengan membawa buku ritual, dupa, dan pisau kecil, Rina kembali ke kamarnya. Jantungnya berdegup cepat saat ia berdiri di depan lemari itu.

Cahaya bulan masuk dari jendela, jatuh tepat di permukaan kayu lemari. Ukiran-ukiran rumitnya tampak seperti wajah-wajah yang bergerak, menyeringai.

Rina menyalakan dupa, lalu membaca mantra dari buku tua itu dengan suara gemetar.

Namun sebelum ia selesai, pintu lemari bergetar keras. Dari dalam terdengar suara jeritan anak-anak, ratusan, bercampur jadi satu.

Pintu yang Terbuka Lebar

Dengan dentuman keras, pintu lemari terbuka lebar. Kali ini, lorong gelap yang muncul jauh lebih besar, seolah menganga seperti mulut raksasa.

Dari dalam, tangan-tangan pucat meraih keluar. Tubuh-tubuh kecil anak-anak melangkah, wajah mereka pucat dengan mata hitam kosong.

Mereka mengelilingi Rina, menangis lirih. Namun suara tangisan itu berubah menjadi tawa kecil yang memekakkan telinga.

“Temani kami, Rina…”

Rina menggenggam pisau kecil, mencoba menusuk tangan-tangan itu. Namun setiap kali pisaunya menyentuh mereka, tubuh-tubuh itu berubah menjadi kabut, lalu kembali lagi.

Tiba-tiba, sebuah sosok lebih besar keluar dari lorong. Sosok seorang anak perempuan Belanda dengan gaun putih, wajahnya separuh cantik, separuh busuk penuh belatung.

Dialah pusat semua bisikan.

Kebenaran yang Mengerikan

Anak perempuan itu mendekati Rina, lalu berbisik dengan suara yang lebih jelas daripada sebelumnya.
“Aku tidak pernah hilang. Aku hanya dititipkan. Dan sekarang, kau yang akan menggantikanku.”

Rina gemetar, tapi ia teringat satu kalimat di buku: “Hanya pengganti yang bisa memutus ikatan lemari.”

Itu berarti… jika ia menyerahkan dirinya, lemari akan berhenti menelan orang lain.

Air matanya jatuh. Ia melihat wajah ibu kos terbayang dalam pikirannya, seorang ibu yang kehilangan anak. Jika ia tidak melakukan sesuatu, tragedi ini akan berulang.

Dengan tekad terakhir, Rina menancapkan pisau ke telapak tangannya sendiri, meneteskan darah ke lantai di depan lemari.

“Kalau kau butuh pengganti… aku yang kau mau, kan? Ambil aku.”

Lemari Menelan Korban Terakhir

Seketika, jeritan bergema. Anak-anak hantu itu berhenti tertawa. Mereka menatap Rina dengan tatapan kosong.

Sosok anak Belanda itu tersenyum lebar, giginya runcing seperti serigala. Dengan tangan dinginnya, ia meraih Rina dan menariknya masuk ke dalam lorong.

Rina berteriak sekali terakhir, namun tidak ada yang mendengar.

Pintu lemari menutup rapat, kali ini tanpa celah. Sunyi.

Epilog – Lemari Kosong

Esok paginya, ibu kos masuk ke kamar Rina. Kamarnya kosong. Tidak ada tanda perlawanan, tidak ada Rina. Hanya lemari yang akhirnya tertutup rapat untuk pertama kalinya dalam puluhan tahun.

Ibu kos menangis, berlutut di depan lemari. “Terima kasih, Nak… kau menyelamatkan kami semua.”

Namun saat ia bangkit, ia melihat sesuatu di permukaan kayu lemari. Ukiran baru yang sebelumnya tidak ada: wajah seorang gadis muda dengan mata penuh ketakutan.

Itu wajah Rina.

Dan dari balik kayu, samar-samar terdengar bisikan:
“Aku sudah di sini… selamanya.”



CTA

👻 Serial horor Bisikan dari Lemari Tua berakhir di sini.
Apakah benar kutukan lemari itu sudah berhenti? Atau suatu saat pintu itu akan terbuka lagi, mencari korban baru?

Ikuti terus update cerpen horor terbaru di blog ini. Jangan lupa share cerita ini agar temanmu juga ikut merinding.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar